Mismanagement BBI Kubangsari “HIBOSPAHO”

28/02/2013 0 Comments
Kondisi UPT Balai Benih Ikan Dinas Pertanian Kota Banjar saat ini sangat memprihatinkan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak konsumen datang ke tempat tersebut untuk membeli benih ikan. Foto : Eva Latifah/HR.

Kondisi UPT Balai Benih Ikan Dinas Pertanian Kota Banjar saat ini sangat memprihatinkan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak konsumen datang ke tempat tersebut untuk membeli benih ikan. Foto : Eva Latifah/HR.

Oleh : Bachtiar Hamara

UPTD (Unit Pelaksana Teknik Daerah) Balai Benih Ikan Dinas Pertanian Kota Banjar, kondisinya sekarang sangat memprihatikan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Banyak konsumen datang butuh benih ikan tapi di BBI (Balai Benih Ikan) Kubangsari tidak ada ikannya. Menurut masyarakat sekitar BBI sudah lama tak ada kegiatan.

Menurut sumber HR, yang menolak disebut namanya menyebutkan kondisi BBI sangat memprihatikan karena tidak tersedianya benih ikan yang dibutuhkan konsumen. Lebih lanjut sumber HR sebut saja Eman (bukan nama sebenarnya), bercerita waktu mulai musim hujan BBI itu seharusnya menjadi rujukan para pembeli. Karena saat itu petani ikan mulai kembali mengisi kolam-kolam ikannya.

Dalam perjalanan jurnalistik HR, 22 Februari lalu, mencoba mengamati kondisi BBI Kubangsari, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Ternyata tidak tersedia benih ikan, BBI kondisinya kumuh tidak terurus. Pertanyaan apakah BBI ini bangkrut?, pasti manajemennya gagal, sepertinya resep manjur kepemimpinan DR Herman tak berlaku di BBI ini dalam Banjar usia 10 tahun.

Mengapa bisa begini, padahal UPTD BBI Kubangsari ditunjang oleh sarana dan prasarana untuk melakukan pembibitan ikan telah tersedia tinggal ada kemauan. Situasinya  sangat memprihatinkan, melihat kondisi bangunan yang cukup megah. Tapi kondisinya dalam keadaan hirup bosen paeh hoream (HIBOSPAHO). Bak-bak ikan bocor-bocor dibiarkan begitu saja tak diurus. Anggaran pembangunan BBI bukan biaya sedikit sampai puluhan milyar dari dana APBN maupun APBD Provinsi itu semua duit rakyat.

Waktu BBI ini mulai dioperasikan, cukup banyak peminat yang membutuhkan benih ikan baik lokal maupun dari luar daerah untuk membeli ikan. Jika hal seperti ini dibiarkan saja oleh Pemkot Banjar, apa ceritanya nanti. Potensi maju dari sektor perikanan sangat terbuka lebar, apalagi harga ikan sekarang naik drastis. Pasalnya pemasokan ikan terbesar di Priangan Timur, yang didatang dari waduk Cirata tidak berproduksi seperti biasa karena ada pencemaran yang diakibatkan dari limbah pakan ikan.

Bila BBI Kubangsari dikelola dengan baik, akan menghasilkan PAD (Pendapat Asli Daerah) yang produktif untuk menambah penghasilan pundi keuangan daerah. Kalau dalam kondisi seperti ini darimana PAD diperolah?.

Walikota Banjar DR Herman harus mengambil sikap, melihat keadaan BBI seperti sekarang ini. Berarti Walikota Banjar harus berani, menempatkan personil SDM yang mumpuni di Dinas Pertanian yang teruji kemampuan dan keahliannya, jangan asal-asalan tapi PNS yang mau bekerja keras dan di bidangnya.

Karena dalam Visi dan Misi Kota Banjar. Dengan Iman dan Takwa Kita Wujudkan Banjar menuju Kota Agropolitan Termaju di Priangan Timur Jawa Barat. Sedang Dinas Pertanian merupakan leading sector terdepan dalam visi agropolitan, dan OPD lain mendukung pada misinya. Tercantum pada Perda Nomor 11 tahun 2009 tentang RPJMD Kota Banjar 2009-2013. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!