(Soal Bantuan Dinsosnaker Mubazir) Kelompok Penerima Dipanggil, Tudingan Mark up Berkelit

07/02/2013 0 Comments

Banjar, (harapanrakyat.com),- Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Banjar memanggil empat kelompok penerima program terapan Teknologi Tepat Guna (TTG) tahun 2012, Senin (4/2), di aula Kantor Dinsosnaker. Pemanggilan itu terkait monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan perkembangan bantuan mesin pemotong tempurung kelapa, senilai Rp 60 juta.

“Sebenarnya program monitoring dan evaulasi ini sudah kita agendakan jauh-jauh hari. Kebetulan mass media (HR,-red) menaruh perhatian juga, sehingga kita bisa bersama-sama untuk mengevaulasinya,” ungkap Kabid Tenaga Kerja, Wasino.

Wasino mengatakan, dalam monitoring dan evaluasi yang digelar mulai pagi hingga siang itu, pihaknya mendengar beberapa persoalan yang dihadapi kelompok penerima manfaat dalam mengoperasikan bantuan tersebut.

Diantaranya, kata Wasino, yang menjadi kendala kelompok dalam menjalankan usaha atau kerajinan berbahan tempurung kelapa, yaitu soal penambahan daya listrik, ketersediaan bahan baku, dan pemasaran.

Menindaklanjuti soal penambahan daya listrik, Wasino, mengaku akan membantu memfasilitasi program tersebut, dengan menjalin koordinasi bersama pihak-pihak yang terkait, misalnya melalui program listrik desa atau yang lainnya.

Kemudian, soal ketersediaan bahan baku, Dinsosnaker juga mencarikan solusi dengan membuka relasi (link) penyedia bahan baku, tentunya dengan harga yang lebih miring dan terjangkau.

Selanjutnya terkait pemasaran, Wasino mengaku sudah mencoba menghubungi beberapa pihak swasta yang bisa menerima produk berbahan tempurung batok, baik itu barang setengah jadi ataupun sudah jadi produk kerajinan.

“Kami sudah memberikan motivasi kepada para anggota kelompok. Untuk pemasaran, sudah ada pengusaha asal Bali yang siap menampungnya,” katanya.

Wasino menjelaskan, Dinsosnaker memberi batas waktu satu minggu kepada empat kelompok tersebut untuk mengoperasikan kembali mesin yang digulirkan melalui program TTG itu. Tujuannya agar masing-masing kelompok bisa menginventarisasi kendala dan melakukan analisa dari sisi usahanya.

“Sebetulnya, tiga dari empat kelompok itu, selama ini sudah beroperasi. Sementara yang satunya lagi, memang belum beroperasi, lantaran khawatir soal pembengkakan biaya produksi. Tapi, bagaimana bisa melakukan analisa, kalau beroperasi saja belum,” paparnya.

Bahkan, Wasino menegaskan, seandainya bantuan mesin pemotong tempurung kelapa itu tidak juga dimanfaatkan oleh kemlompok penerima, Dinsosnaker akan memindahkannya kepada kelompok lain yang siap dan ingin membuka usaha serupa.

“Kita bilang seperti itu kepada mereka. Karena ada diantaranya yang bertanya apakah mesin bantuan tersebut boleh dijual. Bahkan, saya juga menegaskan, jika terjadi, kelompok menjual atau menghilangkannya, sesuai dalam fakta integritas, kelompok yang besangkutan bisa berurusan dengan hukum,” tegasnya.

Saat ditanya soal tudingan penggelembungan (mark up) anggaran pengadaan bantuan, Wasino membantahnya. Dia berdalih, mekanisme pengadaan sudah dilakukan sesuai dengan prosedur, termasuk untuk pengurusannya diserahkan pada pihak ketiga (rekanan).

Wasino menambahkan, program terapan TTG, berupa bantuan mesin pemotong tempurung kelapa tahun 2012 itu, nilainya Rp 60 juta, yang kemudian dibagikan kepada 4 kelompok.

“Masing-masing kelompok, menerima satu rakitan mesin pencacah, dua mesin potong, satu mesin ampelas, satu genjet, dan dana pembelian tempurung kelapa,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinsosnaker, Asep Tatang Iskandar, juga membenarkan agenda monitoring dan evaluasi tersebut. Dia mengaku, Dinsosnaker tidak akan melepaskan kelompok penerima manfaat dari bantuan tersebut.

“Kami akan terus melihat perkembangannya hingga sejauhmana. Jika ada kendala, tentunya kami akan memfasilitasi dan membantu mencarikan solusinya,” pungkasnya. (deni)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply