Pasang Iklan

(Taruna Tani Mekar Bayu) Terus Sosialisakan Konsep Padi Apung ke Petani

Kelompok Taruna Tani Mekar Bayu dan IPPHTI sedang melakukan pengamatan terhadap tanaman padi apung di area pesawahan Ciganjeng Padaherang. Foto : Madlani/HR.

Kelompok Taruna Tani Mekar Bayu dan IPPHTI sedang melakukan pengamatan terhadap tanaman padi apung di area pesawahan Ciganjeng Padaherang. Foto : Madlani/HR.

Padaherang, (harapanrakyat.com),- Bencana banjir yang selalu melanda area pesawahan seluas 350 hektar di Desa Ciganjeng Kec. Padaherang seringkali merugikan sektor pertanian wilayah setempat. Kerugian dari sektor ini, diperkirakan mencapai Rp. 1,5 milyar permusim.

Tidak hanya itu, ancaman gagal panen juga terus saja menghantui para petani. Padahal, jika sedang mujur, dalam satu musim panen, petani di Ciganjeng bisa memperoleh padi sedikitnya sekitar 8,8 ton.

Persoalan yang seringkali dialami para petani Ciganjeng tersebut, menggugah kalangan muda tani, yang tergabung dalam Taruna Tani “Mekar Bayu”, dengan merumuskan penanaman padi secara terapung.

Ketua Taruna Tani Mekar Bayu, Tahmo Cahyono, Jum`at (8/2), mengatakan, ancaman banjir yang melanda area sawah Ciganjeng perlu dicarikan jalan keluar. Salah satunya dengan membuat area sawah padi apung.

Menurut Tahmo, Taruna Tani Mekar Bayu bekerjasama dengan Ikatan Petani Pengamat Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), membuat suatu terobosan. Inovasi itu yakni merencakanan pola tanam SRI menggunakan media rakit.

Tahmo menuturkan, percobaan tersebut dilakukan di atas lahan seluas 100 bata, dengan rakit sebanyak 100 buah, dengan ukuran rakit 2 x 5 meter. Pola yang digunakan, yakni dengan menggunakan sabut kelapa, ditimpah tanah berpupuk organik, dengan ketebalan sekitar 5 sampi 6 centimeter.

“Benihnya sendiri sudah disiapkan, dan diuji oleh IPPHTI. Dan akan ditanam langsung di atas media tanamn di atas rakit,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Tahmo menambahkan, terobosan yang dilakukan Taruna Tani mekar Bayu dan IPPHTI tersebut, juga merupakan proyek percontohan tingkat propinsi dan nasional. Selain itu, juga sebagai upaya peningkatan swasembada beras, khususnya  di wilayah DOB (daerah otonomi baru) Pangandaran.

Koordinator Lapangan IPPHTI, Feri Rianto (32),  program padi apung merupakan pengembangan dari penelitian IPPHTI selama 2 musim di tahun 2011. “Kami mencoba mengembangkan iklim Padi Apung, sebagai media pembelajaran. Terlebih selama ini, petani hanya bisa satu kali panen,” katanya.

Feri mengatakan, melalui sekolah lapangan, petani bisa belajar bagaimana beradaptasi dengan alam, khususnya dengan banjir, yang kerap melanda area pesawahan Ciganjeng. “Melawan alam memang sulit. Untuk itu perlu beradaptasi dengan membaca curah hujan, suhu udara, kelembaban, kecepatan angin dan menganalisa kalender musim,” pungkasnya. (Madlani)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below