(Maju dalam Pilkada Ciamis 2013) Motivasi Dasarnya, Niat Ingin Beberes

31/03/2013 0 Comments

[Wawancara Dengan Budi Kurnia S.Ag. M.Si (Ketua DPD KNPI Kab. Ciamis)]

Budi Kurnia S.Ag. M.Si

Budi Kurnia S.Ag. M.Si

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kab. Ciamis beberapa bulan lagi akan segera digelar. Masyarakat Ciamis tentunya ingin mengetahui Siapakah Bupati dan Wakil Bupati yang akan menjadi pemimpin mereka nanti.

Kemudian apa juga yang menjadi visi, misi dan program Calon Bupati dan Wabup tersebut. Masyarakat juga akan bertanya-tanya, apakah semua program yang diusung pasangan bisa mensejahterakan rakyat Ciamis?

Pada kesempatan edisi Minggu ini, HR (Deni Supendi & Diki Heryanto Adjid) berhasil melakukan wawancara dengan Budi Kurnia S.Ag, M.Si, (Ketua DPD KNPI) yang diketahui akan ikut berlaga pada Pilkada Ciamis 2013. Berikut petikan wawancara dengan Budi : 

HR : Apa dasar anda nyalon?

BK : Motivasi dasarnya adalah niat beberes. Pertama, tidak hanya Ciamis, secara makro, kondisi negara kita itu lagi banyak persoalan, banyak masalah, dari mulai tidak adanya dominasi kelompok, dan tidak adanya pemimpin yang bisa diterima semua pihak. Tumpukan persoalan tadi, secara otomatis berimbas ke daerah.

Karena hal itu semua, kaum muda wajib hukumnya, membereskan persoalan negara yang begitu komplek ini. Kondisi negara kita saat ini sama persis dengan Indonesia di awal kemerdekaan. Tidak ada tokoh sentral, tidak ada golongan yang kuat, saling tidak percaya, persoalan kesejahteraan, persoalan kesatuan dan persatuan serta pesoalan hutang.

Salah satu kenapa bangsa kita masih ada saat ini, adalah karena kompaknya elemen muda, merasa terpanggil sehingga turun langsung. Artinya turun langsung di semua sektor. Ketika itu memang sektor politik yang harus diisi, kaum muda berbondong-bondong dipanggil untuk berbuat. Berbuatlah hari ini!

Jadi, itulah momentum yang tepat untuk kaum muda memperbaiki kondisi bangsa. Tahun ini kan tahun politik. Tidak hanya Pilkada, melainkan ada Pilgub, Pileg, dan Pilpres. Untuk itu, saya juga mengajak kaum muda yang ada dimanapun, dengan latarbelakang apapun, untuk mengisi sektor-sektor yang dianggap masih memiliki titik rapuh.

Kalau titik rapuhnya ada di politik, ya turun di politik. Kalau titik rapuhnya ada di ekonomi, ya turunlah di sektor ekonomi. Begitu juga dengan sektor-sektor yang lainnya. Saya berkeyakinan, semangat ini adalah semangat kolektif. Dan saya melihat sektor ekonomi, politik dan lainnya hari ini mulai diisi oleh kelompok-kelompok kaum muda.

Terus, kenapa harus kaum muda? Karena pemuda memiliki empat domain dasar, pertama pemuda itu punya emosi. Emosi ini penting, karena emosi inilah yang mendorong pemuda untuk berbuat mengejar sesuatu.

Kedua stamina, punya emosi nggak punya stamina, leklok nu aya. Punya stamina nggak punya emosi, ya ngahuleng. Ketiga, pemuda memiliki nilai idealisme. Dan keempat, pemuda punya ketulusan. Saya yakin jika karakter pemudanya normal, ketika dia bergerak dia pasti tulus. Makanya saya turun. Ini psikologis, bukan pandangan saya. Artinya pemuda bergerak itu tulus, Hasan Al Bana yang ngomong, bukan saya (Budi).

Soalnya, kenapa saya atau pemuda harus turun, alasannya karena menurut Hasan Al Bana, pemuda memiliki empat hal yang tadi. Dan motivasi ini bukan lagi asal-asalan atau iseng-iseng. Saya berpandangan dan memaknai keterpanggilan itu sebagai hukum yang wajib.

HR : Tidak nyesel mundur dari PNS?

BK : Jadi kalau persoalan ini, ada jawaban secara teknis. Nanti jika polanya saya diusung oleh partai, saya tidak harus berhenti dari PNS, berarti saya bisa cuti. Karena itu sudah diatur dalam Undang-undang. Dan kalau polanya, saya masuk jadi pengurus partai, saya harus berhenti dari PNS. Tapi apapapun pola yang akan dilakukan oleh temen-temen, saya siap dengan itu semua.

Khusus yang berhenti, saya komentari agak berlebih. Secara pribadi, ketika saya memaknai bahwa turun tangan atau keterpanggilan itu sebagai sesuatu yang wajib hukumnya, kemudian berimpilkasi terhadap status pekerjaan saya sebagai PNS, bagi saya tidak ada masalah. Tapikan saya sudah punya anak dan istri. Dan itu sudah saya konsultasikan kepada keluarga. Tanggapan istri saya, intinya sudah ridhoeun. Jadi, itu juga yang membulatkan saya untuk mencalonkan diri dalam Pilkada Ciamis mendatang, apapun resikonya, termasuk harus berhenti dari karir PNS.

Langkah yang saya tempuh ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan pemuda jaman dulu. Kalau perjuangan pemuda dulu, ya keluar hartanya, bahkan juga nyawanya.

HR : Pertimbangan anda menerobos dominasi tokoh tua?

BK : Justru saya melihat pada Pilkada tahun 2013, semua kaum tokoh tua ini gamang. Buktinya sampai hari ini, itu miskin. Miskin sosok dari kalangan tua yang mau tampil, kecuali incumbent. Itu bisa dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, di mata orang tua, Pilkada itu lebih dimaknai persoalan materialis, sehingga turunannya pada kost politik. Dan jika kosnya besar, mereka akan berkalkulasi matematis, sieun eleh dan sebagainya.

Makanya, ketika motif dasarnya tadi, inikan pasti dia akan berpikir soal materi. Dan ketika pemuda turun tangan itu hukumnya wajib, bagi saya persoalan itu tidak lagi mempengaruhi saya.

Dan saya makin meyakini, selain pandangan saya soal hukumnya yang wajib, tapi momentum juga mendukung. Alasan lainnya, karena kaum muda dan kaum tua tentunya memiliki orientasi dan prinsip yang berbeda dalam hal ini.

Terus juga secara mekanisme, kalau estafeta itu diibaratkan seperti orang lari estafet, itukan tidak diberikan dengan secara “dibakian”, tapi memang harus ada aspek merebut. Makanya, regenerasi atau estafeta itu, konteknya bukan orang tua na hideng mikeun kanu ngora, tapi juga harus ada inisiatif, pemudanya juga mau muncul. Kalau pemudanya tidak mau muncul mah, jangankan merebut, dibere ge, kolot pasti bingung, mikeunna kasaha.

Dalam kontek itulah saya berani muncul. Syukur kalau estafeta itu diberikan secara kelegowoan mereka, kalaupun tidak ya kita rebut. Itu hal yang menurut saya semuanya adalah normal-normal saja, karena dimanapun bisa terjadi.

Kalau kemudian kemunculan saya ini dikomentari orang sebagai sesutau yang terbilang berani, saya terimakasih. Saya tekankan, munculnya saya dalam Pilkada Ciamis 2013, ini adalah memang aspek keberanian, bukan aspek nekat. Berani dan nekat itu bagi saya beda. Berani itu pake hitungan, nekat itu tidak pake hitungan.

HR : Strateginya?

BK : Saya pikir, jawaban singkatnya insyalloh segala sesuatunya sudah kita rancang. Yang terpenting, strategi yang akan saya lakukan adalah membuka komunikasi yang baik dengan berbagai elemen, termasuk dengan tokoh-tokoh tua. Apalagi budaya kita adalah sunda, hade ku omong, goreng ku omong.

Saya sekarang sedang melakukannya. Kita berkomunikasi dengan seluruh partai, berkomunikasi dengan para tokoh tua. Dan dari orang-orang (tokoh-tokoh) tua yang saya datangi, apresiasi terhadap wacana munculnya kaum muda dalam Pilkada Ciamis 2013, seluruhnya positif.

Strateginya tadi, melakukan dan membuka komunikasi, baik itu komunikasi politik, komunikasi humanis, komunikasi fatsoen, dan lain sebagainya. Dan setelah saya melakukan itu, kepada semua kalangan, responnya juga positif.

HR : Cara agar masyarakat memilih anda?

BK : Saya melihat begini. Ini ada momentum besar. Dan itu juga yang menambah keyakinan saya kenapa pemuda harus berani tampil. Dengan pisahnya 10 kecamatan yang pindah ke Kab. Pangandaran. Kita memiliki momentum untuk me-redesain RPJP dan RPJM Kab. Ciamis 5, 10 15 dan 25 tahun kedepan.

Galian potensi itu sudah beda, Ciamis pasca lepas 10 kecamatan dengan sebelum lepas, pasti potensinya berbeda. Begitu juga dengan orientasi Ciamis kedepan juga pasti akan berbeda. Kita tidak punya laut. Dan kalau kita lihat pada Ciamis dalam angka, itu potensinya hampir semuanya ada di wilayah selatan. Tahun-tahun sebelum hari ini, hampir seluruh stakeholder pembangunan di Ciamis menyatakan potensi Ciamis adalah Pangandaran, meliputi sumber daya alamnya, wisatanya, pospat, posfor dan lainnya.

Makanya, ini harus dirubah kedepannya. Apa yang perlu dirubah? Saya punya pemikiran, pemikiran ini bukan hasil ujug-ujug, dan ini merupakan hasil kontemplasi saya sejak kecil. Karena saya lahir, bermain hingga bekerja disini di Ciamis.

Potensi sesungguhnya dari Kab. Ciamis itu adalah budayanya, plus alamnya. Jadi, 26 kecamatan kedepan, yang harus pertama kali harus dieksploitasi adalah budayanya. Alasannya, karena hampir semua daerah, negara maju dan berkembang, yang terlebih dahulu dikembangkan adalah budayanya.

Contohnya, Andora, negara kecil dekat Prancis. Malah jika dikaitkan dengan prasyarat negara berdiri, Andora itu belum memenuhi syarat, karena Andora tidak memiliki angkatan bersenjata. Tapi sudah 85 tahun penduduk Andora tidak pernah bertengkar, apalagi berperang. Karena budayanya. Andora mengaplikasikan nilai-nilai kearifan lokal menjadi sebuah bentuk tata nilai masyarakat. Alhasil, saat ini Andora banyak dikunjungi orang dari berbagai pelosok.

Dan saya kira, itu juga bisa diaplikasikan di Kab. Ciamis. Hampir di seluruh kawasan 26 kecamatan di Kab. Ciamis memiliki nilai kearifan lokal yang bisa dikembangkan, dan dijadikan sebagai sebuah tatanan masyarakat.

Misalnya, konsep tentang kedamaian, itu bermula dari ajaran Galuh. Yang salah satu situs purbanya ada di wilayah Karangkamulyan. Potensi budaya ini, harus menjadi unggulan arah pembangunan Kab. Ciamis.

HR : Soal Biaya Nyalon, sudah siap?

BK : Bukan sudah siap, tapi harus siap. Karena ini semua harus “dibeli” (dalam tanda petik). Dibeli itukan bisa dengan konsep matang kita, ketika akhirnya masyarakat bisa percaya, bisa dengan pragmatisme juga. Tapi pada prinsipnya, saya tahu bahwa dalam Pilkada Ciamis itu memang membutuhkan biaya besar.  ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply