(Optimalkan Program Agropolitan) Distan Kembangkan Program Penyelamatan Sapi Bunting

20/03/2013 0 Comments

Banjar, (harapanrakyat.com),- Upaya untuk tercapainya visi Kota Banjar menuju agropolitan termaju di Priangan Timur, maka leading sektor agropolitan itu sendiri harus lebih dioptimalkan. Seperti halnya pengembangan program penyelamatan sapi bunting yang dilakukan Bidang Peternakan dan Perikanan Dinas Pertanian (Distan) Kota Banjar saat ini.

Menurut Kabid. Peternakan dan Perikanan Distan Kota Banjar, Ir. Ngadimin PS, M.Si., bahwa program tersebut dinilai cara paling cepat untuk meningkatkan populasi.

Tahap pertama bantuan stimulant 30 ekor sapi bunting yang diberikan kepada 6 kelompok ternak telah dilaksanakan pada Desember 2012 lalu. Dan saat ini tengah mempersiapkan bantuan tahap kedua.

“Secara kebijakan, saya ingin mendukung program swasembada daging sapi. Cara paling cepat meningkatkan populasi, pertama memotivasi masyarakat untuk stimulant sapi bunting. Karena, dengan membeli sapi dalam kondisi bunting, selama enam bulan sudah bisa melahirkan, atau tergantung berapa bulan buntingnya ketika sapi tersebut kita beli. Itu program yang kami luncurkan dalam mendukung agropolitan bidang peternakan,” terang Ngadimin, kepada HR, Senin (18/3).

Selain itu, angka mortalitas pada sapi bunting dinilai rendah. Program tersebut juga merupakan upaya pemerintah memotivasi masyarakat mengenai bagaimana supaya Banjar menjadi sentra penggemukan sapi. Dengan cara penggemukan, maka upaya menuju agropolitan harus segi bisnisnya yang dikejar, bukan budidayanya.

Sebab, membudidayakan dari awal akan lama mendapatkan hasilnya. Selama ini, banyak kelompok ternak atau perorangan yang sudah bertahun-tahun mengelola ternak, tetapi sapinya belum juga bunting. Sehingga mereka terpaksa menjual induk dengan alasan terdesak kebutuhan hidup.

Menyikapi permasalahan seperti itu, pihaknya mengarahkan para peternak supaya memiliki jiwa entrepreneur agar usahanya bisa cepat menghasilkan uang. Baik peternak sapi maupun kambing, lantaran peternak tersebut merupakan prioritas andalan bidang peternakan.

“Untuk pengelola usaha kambing PE juga sama, dimana mindset petaninya belum ke orientasi bisnis, itu akibat masih rendahnya SDM. Bahkan, SDM PNS-nya sendiri masih kurang,” ujarnya.

Ngadimin mengatakan, berhasil atau tidaknya para pengelola usaha ternak intinya peran petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang belum optimal. Sebab, PPL itu potensi yang ada di Dinas Pertanian dan dianggap paling berperan dalam memberikan pembinaan kepada petani mengenai cara mengelola usaha pertanian.

Dengan demikian, peran PPL di lapangan harus dioptimalkan sebagaimana tupoksinya, yakni melakukan pembinaan langsung kepada petani di lapangan, jangan hanya diam di kantor BPP, desa atau kelurahan saja.

“Saya juga bersyukur, dalam Musrenbang sekarang sebanyak 70 persen masyarakat minta pelatihan pertanian, peternakan dan perikanan. Itu berarti sekarang mereka sadar sendiri bahwa dirinya masih kurang pengetahuan di bidang pertanian. Permintaan itu dari desa-desa yang saya kunjungi. Dan saya yakin bila program yang kami luncurkan dijalankan dengan baik pasti akan berhasil,” kata Ngadimin.

Sementara untuk mengetahui sejauh mana program yang sudah dikembangkan dalam rangka mengoptimalkan agropolitan di bidang tanaman pangan dan holtikultura, namun hingga berita ini diturunkan HR belum bisa menemui Kabid. Tanaman Pangan dan Holtikultura Distan Kota Banjar, Ir. Agus Kostaman, sebab sedang sibuk menerima mahasiswa SPAMA dari Yogyakarta. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!