Otak Yang Aneh

07/03/2013 0 Comments

Inilah salah satu keajaiban negeri ini: yang paling lantang menyerukan pemberantasan korupsi adalah mereka yang tertuduh melakukan korupsi. Untuk mereka, telah tersedia kosakata untuk memuliakannya-melampaui makna optimisme-yakni justice collaborator. Terus ada lagi yang menyerukan etika dan moral. Moral bangsa ini harus bersih dari kehidupan yang tercela.

Bingung juga mencoba memahami gejala ini. Beberapa pekan lalu DPRD Ciamis didatangi Forum Mubaligh Ciamis untuk beraudensi, karena membaca di sebuah surat kabar yang menyebutkan ada pejabat dan anggota DPRD Ciamis yang kedapatan makan minum di tempat karokean dan hadir pula ABG (Anak Baru Geude). DPRD Ciamis merespon tuntutan para mubaligh. Hanya kata berita di surat kabar, dan belum tentu juga kebenaran.

DPRD Ciamis langsung siaga, menurunkan BK (Badan Kehormatan). Kasus ini seperti genting sekali, mungkin kerena etika dan moral. Berita di Koran bukan Qur’an. Pertanyaan kita kenapa DPRD Ciamis, tidak mengirim hak jawab kepada surat kabar yang memuat berita yang langsung direspon para mubaligh itu. Benar tidaknya, bila berita itu cuma isu. Bagaimana ? Kerena di zaman reformasi seperti sekarang ini banyak koran/surat kabar yang disebut the yellow paper (Koran kuning/Koran sampah). Yang tidak mengunakan kaidah kode etik jurnalistik. Bahkan banyak bermunculan wartawan uka-uka (kajajaden) banyak orang takut oleh wartawan macam itu, kerja cuma meres mulu…. Bahkan wartawan yang bener cuma bisa bengong, masa harus ikut gila… Yang bener aja bro…, apa kata dunia nanti.

Semacam bahasa kekuatan yang tak dimengerti semua orang? Atau sudah sedemikian termanipulasinya otak kita sehingga tak bisa lagi membedakan benar atau salah, baik atau buruk?.

Bagaimana kalau kita coba melihat sistem neorologi otak? Sebab, otak manusia diam-diam memang bisa sangat licin, bahkan bisa menipu diri kita sendiri? Coba renungkan baik-baik, tidak semua aksi kita selalu disebabkan oleh program yang disimpan dalam database otak kita. Kadang-kadang, hal sebaliknya yang justru terjadi. Aksi kita terselenggara begitu saja, sebelum kemudian memberikan input kepada otak, dan kemudian di otak menjadi tersimpan file program dari apa yang pernah kita lakukan.

Jangan terlalu berkerut. Buktikan saja dengan pengalaman sendiri. Semasa kecil taruhlah kita pernah mencuri mangga di kebun tetangga. Ketika kepergok si empunya kita lari dan bisa meloncati pagar yang sangat tinggi yang tidak mungkin bisa kita lakukan kalau kita mendahului dengan berpikir-pikir terlebih dahulu.

Dalam hal ini tubuh menemukan kesadarannya sendiri, terbebas dari keraguan otak sehingga jadilah kita bisa melakukan sesuatu yang rasanya tak mungkin kita lakukan selagi sadar. Di situ kita masuk ke lapisan pengertian berikut mengenai hubungan kesadaran dan otak. Sejumlah ahli menggeluti neuroscience- pendekatan yang sekarang kian ramai ibarat mengotak-ngatik hubungan keterjagaan atau kesadaran, otak, dan diri. Pada hubungan ketiganya tak selalu hubungan berlangsung melulu satu arah, misalnya: keterjagaan memengaruhi otak, otak memengaruhi persepsi diri, dan seterusnya. Hubungan bisa saling bersilangan, misalnya: otak mepengaruhi kesadaran, persepsi diri mepengaruhi kerja otak, dan seterusnya.

Dalam beberapa hal, kesadaran bisa menjadi instansi tertinggi. Ajaran guru silat Gunawan Raharja: tanganmu bisa mengingat apa yang otakmu tidak bisa ingat (makanya dia cuma mengolah kesadaran) salah satu saudara seperguruan sastrawan Rendra Alm. Merumuskan: “… kesadaran adalah matahari atau kesabaran adalah bumi…dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

Dalam hubungan dengan korupsi tadi, kalau korupsi dilakukan terus menerus, dari soal otak ia menjadi soal tubuh. Fisik, banyak koruptor mengaku lupa di pengadilan. Penjelasan ini jangan diartikan sebagai ingin memberikan permakluman terhadap tindakan korupsi, dengan menimbang keterbatasan otak dan kerentangan memori. Sebaiknya sebagai peringatan: jangan terbiasa kita manipulasi otak kita sendiri. Bisa sangat memalukan.

Bayangkanlah, kalau Bung Karno masih ada dan kita bertanya kepadanya: Bung, dulu kenapa di penjara di Sukamiskin? Beliau akan menjawab: karena aku menggugat kolonialisme.

Lalu bayangkan pula, seseorang yang terjerat kasus korupsi sekarang, pada suatu hari nanti di tanya anak atau cucunya: Kenapa Bapak dulu di penjara? Dia akan menjawab tanpa rasa malu: karena saya anti korupsi, justice collaborator. Ajaib? Ya, itulah keajaiban kehidupan kita sekarang. Jangan lupa etika-moral pun harus dijaga, tapi harus bener belum tentu berita dikoran itu benar. Seperti BK DPRD Ciamis, seperti repot sekali mencari kebenaran. Kebenaran itu pakaian Allah Swt, manusia itu cuma ingin benar, meskipun belum tentu benar. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply