Padi Apung Percobaan Berhasil Dipanen

20/03/2013 Berita Pangandaran
Padi Apung Percobaan Berhasil Dipanen
Kadis Pertanian Ciamis, Nana Supriatna bersama Sekjen IPPHTI secara seimbolik memulai panen raya padi apung di Ciganjeng Padaherang. Madlani/HR.

Kadis Pertanian Ciamis, Nana Supriatna bersama Sekjen IPPHTI secara seimbolik memulai panen raya padi apung di Ciganjeng Padaherang. Madlani/HR.

Padaherang, (harapanrakyat.com),- Upaya adaptasi petani melalui pengembangan sawah apung di kawasan banjir sebagai alternatif ketahanan pangan di Desa Ciganjeng Kec Padaherang mendapatkan apresiasi yang tinggi dari pemerintah.

Pasalnya panen raya yang dihasilkan dari percobaan tersebut sudah setara dengan pertanian konvensional pada umumnya. Panen perdana padi apung menjadi satu kebanggaan bagi Taruna Tani Mekar Bayu dan masyarakat Kec. Padaherang.

Kepala Dinas Pertanian Kab. Ciamis, Nana Supriatna, Kamis (14/30, bersama Sekretaris Jenderal Nasional Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), Kustiwa Adinata, secara simbolis melakukan panen raya, dengan memotong tanaman padi.

Acara panen raya juga dihadiri Anggota DPRD Prov Jabar, H. E Kusnaedi, SH, Camat Padaherang, Dede Saeful Uyun, Polsek Padaherang, BP3K Kec. Padaherang, petani se-Kec Padaherang dan Kalipucang.

Ketua Taruna Tani Mekar Bayu, Tahmo, mengatakan, pada mulanya area pesawahan Ciganjeng, ketika musim banjir susah diprediksi. Selama itu, banyak para petani yang merugi. Dari sanalah kemudian muncul timbul gagasan dari IPPHTI melakukan percobaan padi apung dengan media rakit.

Hasilnya, sangat memuaskan. Satu rakit dapat menghasilkan 5,5 kg (430 gr/ rumpun). Bila dihitung per 100 bata, menggunakan media rakit 100 buah, menghasilkan 5,5 kwintal, dan itu setara dengan pertanian secara konvensional.

Menurut Tahmo, varietas padi yang ditanam adalah IR 64. Sistem pemupukannya menggunakna pupuk organik. Begitu juga pembasmian hama dengan cairan cairan organik. Dia akan mencoba meningkatkan produksi, karena masih ada kekurangan dalam pengelolaan padi apung.

“Ini pengalaman pertama. Kami berharap apa yang kami kerjakan bisa menjadi inspirasi bagi petani lainnya untuk menerapkan model sawah apung,” tutur Tahmo.

Sekjen Nasional IPPHTI, Kustiwa Adinata, menuturkan, pengelolaan padi apung merupakan salah satu cara mengantisipasi sempitnya lahan dan bencana banjir. Namun begitu, pihaknya akan terus berusaha untuk mengembangkannya.

Bahkan tidak hanya itu, IPPHTI juga berencana melakukan percobaan, mengkolaborasikan padi apung dengan budidaya ikan tawar. Dengan begitu, dihaapkan agar kesejahteraan (penghasilan) petani bisa meningkat.

Lebih lanjut, Kustiwa juga berterimakasih, karena pemerintah, terutama Anggota DPRD Prov Jabar, H. E Kusnaedi, SH, berkomitmen untuk membantu segi pendanaan, untuk pengembangan padi apung dan budidaya air tawar, di wilayah pertanian yang terkena dampak banjir.

Kustiwa menambahkan, agar petani di wilayah padaherang dan kalipucang mengikuti sekolah lapangan. Melalui hal itu, petani bisa belajar bagaimana beradaptasi dengan alam, khususnya dengan banjir yang kerap melanda area pesawahan Ciganjeng.

“Melawan alam memang sulit. Untuk itu perlu beradaptasi dengan membaca curah hujan, suhu udara, kelembaban, kecepatan angin dan menganalisa kalender musim. Untuk mencapai lokasi sawah apung, petani harus naik perahu menembus banjir dengan ketinggian air mencapai 70-80 sentimeter. Setelah itu, petani harus membawa tanaman tersebut ke daratan untuk memisahkan padi dengan jeraminya,” pungkasnya. (Madlani)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles