Peningkatan Produksi Petani Tadah Hujan Terkendala Irigasi

20/03/2013 0 Comments
Volume air Situ Leutik saat musim kemarau. Jika pembagian air disalurkan secara benar, air yang ada di Situ Leutik cukup untuk mengairi lahan sawah tadah hujan di wilayah Balokang. Foto : Eva Latifah/HR.

Volume air Situ Leutik saat musim kemarau. Jika pembagian air disalurkan secara benar, air yang ada di Situ Leutik cukup untuk mengairi lahan sawah tadah hujan di wilayah Balokang. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Upaya untuk meningkatkan produksi pertaniannya, para petani sawah tadah hujan di wilayah Kec/Kota Banjar, masih terkendala irigasi. Selama ini mereka hanya mengandalkan air hujan dalam pengelolaan dan penanaman padi sawah di daerah tersebut.

Seperti diungkapkan Suherlan (57), petani sawah tadah hujan di wilayah Desa Jajawar, Kec. Banjar. Menurut dia, irigasi dan drainase untuk pertanian padi sawah belum berfungsi sehingga petani hanya melakukan penanaman sekali dalam setahun.

“Kami di sini hanya mengandalkan hujan dalam mengelola padi, dan hanya dilakukan sekali dalam setahun. Produksi padi kurang akibat kurangnya air yang tersedia untuk pertanian padi sawah tadah hujan,” ujarnya, saat dijumpai HR, Sabtu (16/3).

Suherlan mengatakan, apabila didukung pengairan yang baik, penanaman padi di sawah tadah hujan bisa dilakukan dua hingga tiga kali dalam setahun. Dengan begitu, otomatis hasil produksi yang akan didapat para petani meningkat.

Dia berharap, untuk kedepannya lahan sawah di wilayah Jajawar dan sekitarnya sudah bisa mendapatkan pasokan air dari Situ Leutik ketika musim kemarau tiba.

“Pembangunan salurannya sekarang sudah sampai ke areal pesawahan yang ada di wilayah sini. Tinggal bagaimana nanti sistim penyalurannya supaya lahan sawah di daerah ini bisa teraliri air dari Situ Leutik. Jadi, setidaknya sawah tadah hujan mampu panen sebanyak dua kali dalam setahun,” kata Suherlan.

Harapan serupa diungkapkan Kemon (62), petani di blok Cikole, Desa Balokang, Kec/Kota Banjar. Menurut dia, para petani di daerah itu mengharapkan adanya bangunan saluran tersier, seperti saluran air yang telah dibangun di areal pesawahan Desa Jajawar.

Saluran tersebut nantinya untuk mengalirkan air dari Situ Leutik ke sawah di wilayah Desa Balokang. Pasalnya, jika pembagian air disalurkan secara benar, maka pada saat musim kemarau debit air Situ Leutik bisa sampai hingga ke blok pesawahan Cikole dan sekitarnya.

“Pada saat musim kemarau, sebetulnya air yang ada di Situ Leutik cukup untuk mengairi sawah yang ada di daerah Balokang kalau sistim pembagian airnya dilakukan secara adil. Sekarang ini yang saya lihat pembangunan saluran baru sampai ke Blok Pasung, Desa Jajawar,” tutur Kemon.

Sementara itu Suhaya (49), petani lainnya, mengatakan, diharapkan pemerintah daerah memfasilitasi sekaligus mengoptimalkan saluran tersier bagi daerah yang memiliki lahan sawah tadah hujan, supaya para petaninya bisa meningkatkan produksi padi. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply