Potensi Agribisnis di Kota Banjar

20/03/2013 0 Comments

Merupakan sebuah anugerah bagi Kota Banjar yang secara geografis dan topografis ada pada posisi ideal, seimbang dan mempunyai potensi sangat mendukung tergadap kelangsungan kehidupan masyarakatnya.

Eva Latifah

Sebagian lahan sawah di Kota Banjar telah beralih fungsi. Secara topografis bentukan lahan di wilayah Banjar mempunyai kesuburan tanah cukup baik, sehingga berpotensi untuk kegiatan usaha pertanian. Foto : Eva Latifah/HR.

Sebagian lahan sawah di Kota Banjar telah beralih fungsi. Secara topografis bentukan lahan di wilayah Banjar mempunyai kesuburan tanah cukup baik, sehingga berpotensi untuk kegiatan usaha pertanian. Foto : Eva Latifah/HR.

Secara geografis, Banjar berada di Provinsi Jawa Barat paling Timur, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan, pada posisi tata letak pulau Jawa, Banjar terletak di bagian Selatan pulau Jawa, serta dilewati jalan nasional maupun provinsi yang mempunyai akses mobilitas tinggi.

Kemudian, secara topografis, Kota Banjar berada pada dataran rendah dan masuk mulai pada dataran berbukit bergelombang, sehingga keadaannya tidak menjadi kawasan lahan yang mempunyai potensi berbahaya bagi kondisi bencana.

Jika dilihat dari topografis dan bentukan lahan yang ada di wilayah Kota Banjar termasuk pada kategori lahan yang mempunyai kesuburan tanah cukup baik, dan berpotensi untuk kegiatan usaha pembangunan pertanian, serta mempunyai fungsi lahan yang produktif, baik pada lahan basah atau kering.

Potensi Agribisnis

Secara administratif, pada saat Banjar masih berstatus kota administratif (kotif) terdiri dari 4 kecamatan, diantaranya Pataruman, Banjar, Purwaharja, Langensari, dan 22 desa, dengan luas wilayah 114,32 km2, serta jumlah penduduk sebanyak 153.871 jiwa (sensus tahun 2000).

Sebagian besar wilayahnya digunakan untuk sektor pertanian, termasuk kehutanan di Kec. Purwaharja, sehingga mata pencaharian masyarakatnya pun sebagian besar mengandalkan dari sektor pertanian. Selain padi dan jagung, komoditas holtikultura, perkebunan, perikanan dan peternakan, banyak dikembangkan para petani.

Mengamati karakter wilayah dan tata guna lahan di setiap kecamatan, maka tampak sekali bahwa secara alami masing-masing wilayah mensuplai komoditi spesifik yang mendukung berjalannya agribisnis.

Langensari dan Pataruman memiliki areal pesawahan irigasi teknis maupun non teknis. Luas lahan sawah di Langensari tercatat seluas 3.842,34 hektar, dengan produksi sebesar 38.483,5 ton/tahun. Sedangkan Pataruman memiliki areal sawah seluas 767,81 hektar, dengan produksi 6.942,44 ton/tahun.

Kedua wilayah tersebut sangat layak untuk dijadikan sebagai lumbung pangannya Kota Banjar. Karena, luas areal sawahnya meliputi 81,83%, dan memasok 82,87% produksi padi di Kota Banjar.

Berdasarkan analisa kecakupan pangan, dengan memiliki luas lahan pesawahan produktif 2.151 hektar, dan jumlah penduduk sebanyak 197.338 jiwa (sumber BPS Kota Banjar), persediaan beras di daerah ini mengalami surplus di atas 5%.

Selain padi, komoditas pangan lainnya tercatat produksi jagung sebesar 436 ton per tahun, kedelai 255,74 ton per tahun, dan ubi kayu 98 ton per tahun. Sedangkan untuk komoditas holtikultura, khususnya buah-buahan, lebih banyak terdapat di Kec. Pataruman, yaitu dengan komoditas unggulannya Rambutan Si Batulawang. Tercatat sebesar 1.508 ton per tahun, atau senilai lebih dari Rp4,5 milyar per tahun.

Komoditas unggulan lainnya adalah pisang, dengan produksi 13.306 ton/tahun, atau senilai lebih dari Rp6,6 milyar/tahun.

Lebih dari 6,7 Miliar per bulan

Secara umum, terdapat 21 komoditi yang dapat dijadikan unggulan daerah, yakni mangga, duku, rambutan, pisang, mentimun, waluh, kacang hijau, kacang panjang, kacang tanah, jagung, padi, kedelai, gurame, mas, kelapa, ayam buras, ayam ras, itik, sapi, kerbau dan kambing.

Dari jumlah tersebut, terdapat 6 komoditi yang masing-masing memiliki nilai produksi lebih dari Rp.1 miliar per tahun, yakni rambutan Rp.4,522 miliar, pisang Rp.6,653 miliar, padi Rp.54,816 miliar, kelapa Rp.6,837 miliar, ayam buras Rp.2,422 miliar, dan ayam ras Rp.1,019 miliar.

Berdasarkan asumsi harga terendah yang berlaku di Pasar Banjar dikalikan dengan jumlah produksi masing-masing komoditi yang diusahakan para petani, maka diperoleh nilai produksi lebih dari Rp.81,321 miliar per tahun, atau rata-rata sebesar Rp.6,776 miliar per bulan. Sebuah angka yang mungkin membuat kita ragu atau sama sekali tidak pernah kita perhatikan.

Banyak yang masih berpendapat bahwa agribisnis hanya sebatas pertanian onfarm. Padahal, agribisnis adalah aktivitas yang saling berkaitan dari hulu sampai hilir, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga pengolahan dan pemasarannya. Sehingga, kegiatannya tidak sebatas onfarm (budidaya), tapi juga offarm (agroindustri).

Kalau melihat dari sisi potensi tersebut, tepat sekali bagi Pemerintah Kota Banjar yang mempunyai visi bahwa Kota Banjar menjadi Agropolitan termaju di Priangan Timur tahun 2013.

Namun permasalahan yang ada saat ini adalah, bagaimana caranya agar semua kembali ke komitmen awal untuk mendukung program-program menuju satu harapan, yaitu Banjar menjadi kota perdagangan, jasa, pertanian, dan kegiatan industri yang aktifitasnya pada pengolahan hasil pertanian. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply