[H. Iing Syam Arifin Wabup Ciamis, (Calon Bupati Periode 2013-2018)] Perlu Inovasi untuk Membangun Ciamis

11/04/2013 Berita Ciamis , Headline
[H. Iing Syam Arifin Wabup Ciamis, (Calon Bupati Periode 2013-2018)] Perlu Inovasi untuk Membangun Ciamis
H. Iing Syam Arifin

H. Iing Syam Arifin

Edisi Minggu ini, HR (Deni Supendi & Dian Sholeh WP) berhasil melakukan wawancara dengan H. Iing Syam Arifin (ISA), Wabup Ciamis, yang akan ikut berlaga dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Ciamis 2013 mendatang. Bagaimana program, visi dan misi H. Iing untuk menjadi Bupati periode 2013-2018, berikut petikan wawancara dengannya.

HR : Soal Pencalonan Anda, dasarnya?

ISA : Niatnya lillahita`ala. Karena, saya berharap, upaya saya mencalonkan Bupati, mudah-mudahan jadi barokah. Kemudian, dari pengalaman saya 31 tahun di pemerintahan, ada strategi dan harapan, saya bisa mengaplikasikan beberapa konsep untuk kemajuan Ciamis, diantaranya program fisik dan mental spiritual.

HR : Persiapannya?

ISA : Soal persiapan, saya sebetulnya lebih menyesuaikan dengan tahapan-tahapan yang ada di KPU. Dan langkah awal saya adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan beberapa kegiatan, salah satunya melakukan silaturahmi.

HR : Tim Sukses?

ISA : Kalau tim sukses, sebenarnya saya belum membentuknya. Sedangkan soal BHISA (Barisan H. Iing Syam Arifin) itu murni merupakan inisiatif dari masyarakat, baik bentuk logo dan namanya. Namun begitu, saya menginsyaratkan agar apapun simbol itu, asalkan tidak menyinggung terhadap pihak-pihak tertentu.

HR : Komunikasi Parpol?

ISA : Sejauh ini, saya sudah melakukan komunikasi dengan beberapa partai politik. Soal partai mana yang akan jadi “perahu”, masih saya kaji. Sebab saya perlu waktu untuk mengkajinya, termasuk mengkaji soal apakah kebersamaan saya dengan parpol tersebut saling menguntungkan satu sama lain.

HR : Strategi bersaing dengan lawan politik?

ISA : Kalau dilihat dari kata persaingan, memang relatif. Yang namanya pemilihan itu pasti harus ada pemenang. Bagi saya, sekarang ini bukan persaingan tetapi kebersamaan. Masih sama-sama mensosialisasikan diri. Meskipun pada akhirnya, karena namanya pemilihan, pasti ada yang terpilih. Nah baru itu baru masuk pada strategi. Dan saya belum merasa tersaingi, karena siapa tahu, mereka yang saat ini sedang mensosialisaikan diri, menjadi teman atau pasangan dengan saya.

HR : Target Suara?

ISA : Saya belum bisa menyebutkannya, karena targetan itu harus terwujud dari hasil kajian. Dan kajian itu juga harus berdasarkan pada sejauhmana respon dari masyarakat terhadap calon yang diusungnya. Jika respon masyarakat sudah jelas, kemudian kajiannya sudah ada, baru target suara bisa muncul. Kan ini juga harus berdasar pada analisis dan realistis.

HR : Kos politik?

ISA : Kalau masalah itu penafsirannya sangat relatif. Tidak semua orang berbicara dengan nilai. Saya punya satu pemikiran, bagaimana Pilkada bisa diselenggarakan dengan biaya se-efektif dan se-efisien mungkin. Karena itu akan menjadi biaya atau beban.

Bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pendidikan politik, bahwa Pilkada atau pemilihan apapun tidak harus bergantung pada uang.

Tapi, saya sangat berharap, masyarakat memahami bahwa Pilkada sebetulnya sangat bergantung pada partisipasi mereka. Yang namanya pemilihan, tergantung dari partisipasi masyarakat, tinggal bagaimana kita menumbuhkan partisipasi itu. Saya yakin, tidak semua masyarakat bisa dibeli dengan uang. Dengan begitu, saya juga yakin, bahwa kos politik itu tidak besar.

HR : Jika terpilih, Sektor Pariwisata yang akan dikembangkan?

ISA : Saya dulu pernah jadi Kepala Disbudpar selama lima tahun. Soal pariwisata di Ciamis ada segmennya, seperti Pariwisata bahari, rekreasi, minat khusus dan lainnya. Nah, Pangandaran, atau pariwisata bahari kan sudah tidak ada, tapi di Ciamis utara masih banyak potensi, segmen pariwisata yang bisa dikembangkan, misalnya, Curug tujuh, situ lengkong, serta menciptakan kawasan pariwisata rekreasi out bond, wisata agro, wisata petualangan dan lainnya. Apalagi, kali ini ada Mega Wisata Icakan di Baregbeg, ini potensi yang bisa kita kembangkan.

HR : Untung dan rugi Pangandaran berpisah?

ISA : Mengenai pemekaran, saya berpikir bukan pada ruginya, tapi cenderung lebih berat berpikir pada keuntungannya. Karena konsep awal dari sebuah pemekaran adalah untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Artinya, masyarakat Pangandaran harus diuntungkan dengan pemerakan ini. Mereka aklan lebih fokus membangun daerahnya, dan mendapat pelayanan lebih dekat, ketimbang saat sebelum berpisah.

Begitu juga untung bagi Pemerintah Kab. Ciamis. Karena Pemkab. Ciamis bisa lebih fokus mengembangkan sektor-sektor yang saat ini masih perlu mendapat perhatian. Dengan kata lain, masalah keterbatasan anggaran dan luas wilayah tidak akan lagi menjadi persoalan.

Namun demikian, saya akui ada dampak dari hal itu, yakni jumlah SDM pegawai berkurang, jumlah PAD juga berkurang. Tapi itu semua tidak mengurangi kompensasi nilai-nilai dan tujuan awal dari sebuah pemekaran daerah.

HR :  Potensi sumber PAD Ciamis?

ISA : Sebetulnya, PAD di Ciamis Selatan dan Ciamis Utara seimbang. Bahkan kalau dipresentasikan, PAD Ciamis lebih besar ketimbang Pangandaran. Dan soal PAD, sebenarnya tergantung dari kebijakan dan keinginan dari pemerintah. Intinya, pemerintah bisa menyiasati potensi sumber PAD. Tinggal bagaimana pemerintah mengintensifkan potensi-potensi PAD tersebut. Karena saya yakin, hilangnya PAD dari selatan tidak terlalu berpengaruh bagi Ciamis.

Tinggal bagaimana pemerintah berinovasi untuk mencari gantinya?

HR : Secara umum, apa yang perlu dibenahi di Ciamis?

ISA : Saya punya pemikiran, konsep pembangunan Ciamis bukan bergantung pada keinginan masyarakat, tapi harus berdasarkan pada kebutuhan masyarakat. Artinya, pembangunan itu harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk itu, saya akan membuat satu strategi, pertama tahun infrastruktur, yaitu minimal tahun 2014 sampai 2016, kebutuhan infrastruktur di Kab. Ciamis selesai dibangun seluruhnya. Kedua, tahun pendekatan pelayanan kesehatan masyarakat. Artinya, pelayanan kesehatan bis didapat dengan mudah, murah, cepat dan dekat. Strateginya, kita akan melakukan standarisasi Puskemas yang ada untuk memberikan pelayanan secara maksimal. Jadi, masyarakat tidak harus pergi ke RSUD, ketika mereka mendapat keluhan kesehatan. Kecuali, jika keluhan itu sudah tidak bisa ditangani di tingkat Puskesmas. Ketiga, pemberdayaan masyarakat. Dan soal ini, tentunya perlu melibatkan banyak pihak. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles