(Jembatan Gantung Waringinsari) Gerbang Perbatasan Perekonomian di Timur Kota Banjar

11/04/2013 0 Comments

Laporan: Nanang Supendi

Pengerjaan pancang tiang jembatan gantung di wilayah Jawa Barat sudah selesai tahun 2012. Untuk pengerjaan pancang tiang di wilayah Jawa Tengah rencananya akan dilakukan pertengahan tahun 2013 ini. Foto : Nanang Supendi.

Pengerjaan pancang tiang jembatan gantung di wilayah Jawa Barat sudah selesai tahun 2012. Untuk pengerjaan pancang tiang di wilayah Jawa Tengah rencananya akan dilakukan pertengahan tahun 2013 ini. Foto : Nanang Supendi.

Memiliki suatu keinginan tak lepas dari sebuah mimpi terlebih dahulu, seperti halnya warga Desa Waringinsari telah lama menginginkan jembatan penghubung antara Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar (Jabar), dengan Dusun Rejamulya, Desa Bakung, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap (Jateng).

Untuk mencapai mimpi itu, warga Desa Waringinsari memasukan usulan dalam Musrenbangdes yang ditindaklanjuti Musrenbangcam dan Musrenbangkot pada beberapa tahun kebelakang. Seiring proses pembangunan Kota Banjar yang terus berupaya meningkatkan mutu kegiatan perekonomian di wilayah perbatasan, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan melaksanakan pembangunan infrastruktur, khususnya jalan dan jembatan. Hal ini menandakan selalu mendapat prioritas untuk memperlancar roda perekonomian, terutama di daerah perbatasan.

Sejalan itu pula dan atas harapan tersebut, Pemkot Banjar telah memulai pengerjaan pembangunan jembatan berupa jembatan gantung yang membentang di atas aliran Sungai Citanduy pada tahun 2012, dan sampai saat ini baru selesai pengerjaan pancang tiang yang masuk area Jabar.

Untuk pengerjaan pancang tiang area Jateng, menurut rencana akan dikerjakan pada pertengahan tahun 2013, sambil menunggu pancang tiang yang sudah dibangun wilayah area Jabar betul-betul kering.

Jembatan gantung ini nantinya bisa digunakan untuk kendaraan roda dua. Meski begitu, tetapi manfaatnya sangat besar bagi masyarakat di kedua wilayah tersebut. Karena, warga yang berada di perbatasan dapat melakukan transaksi ekonomi lebih cepat, mudah dan murah melalui jalur ini.

Menurut Romi, petugas jasa penyebrangan perahu, bahwa dengan adanya fasilitas jembatan gantung, kedepan warga tidak perlu lagi memakai jasa angkutan perahu untuk datang ke Desa Waringinsari (Jabar), atau sebaliknya ke Desa Bakung (Jateng).

Memang jasa penyebrangan perahu ini banyak dimanfaatkan warga, seperti yang beraktifitas sebagai pedagang, petani, anak sekolah dan lainnya. Namun, jika pengerjaan jembatan gantung rampung tentu akan mengurangi omzet dari usaha jasa penyebrangan perahu ini.

Tapi menurut Romi, para petugas jasa penyebrangan perahu tetap masih bisa menjalankan usahanya itu. Sesuai janji dari pemerintah dan hasil kesepakatan bersama pada waktu lalu, mereka akan tetap menjalankan usaha jasa penyebrangan perahu dengan dipindahkan ke sebelah Timur dengan radius meter tertentu.

Romi bersama 17 orang lainnya, terbagi 9 orang dari warga Jateng dan 8 orang dari Jabar (4 warga dusun Purwodadi – Banjar, 3 warga dusun Citamiang-Ciamis), dalam sehari saja bisa memperoleh Rp. 250 sampai Rp. 300 ribu persetengah hari (Jam 6 pagi s/d 6 sore), bergantian setiap bertugas waktunya dalam seminggu dengan ketemu kembali bertugas 3 bulan kedepan. Terlebih kalau menginjak hari raya Idul Fitri omzetnya bisa mencapai kurang lebih Rp. 1 juta.

Sino, salah seorang penumpang perahu dari Desa Bakung, mengaku, untuk memenuhi kebutuhan usaha warungannya selalu berbelanja ke Langensari. Menurutnya, belanja grosir di Wanareja harganya lebih mahal, serta jarak tempuhnya terlalu jauh dibanding ke Langensari.

Sartino, warga Jateng, pengguna jasa perahu yang hendak melihat kebunnya di Desa Waringinsari, mengaku, awal mula keinginannya mempunyai lahan perkebunan di wilayah Jabar karena adanya jasa penyebrangan perahu.

Lain hal apa yang diutarakan, Kiyo, warga Dusun Purwodadi. Menggunakan jasa penyebrangan perahu karena dirinya mengaku untuk menjalankan usaha jual beli ternak kambing. Kiyo selalu belanjanya ke pasar Wanareja dan Majenang, sebab di sana lebih murah belinya, dan menjualnya kembali di Pasar Cikawung dan pasar Langensari.

Sutiem, warga yang tinggal di pinggiran Sungai Citanduy, area Jateng, mengaku cukup terbantu dengan adanya jasa penyebrangan tersebut. Dirinya tidak perlu capek menempuh perjalanan ke pasar Caplek Waringinsari, dibanding harus pergi ke pasar Wanareja yang jaraknya lebih jauh.

Sedangkan Rusinah, seorang pedang sayuran dan bumbu masakandi Pasar Caplek, dan dia sendiri berdomisili di Dusun Kedungwaringin, mengatakan, pasar ini buka setiap hari Kamis dan Minggu, serta Selasa dan Jum’at sebagai hari pasar tambahan, yakni buka dari pukul 6-8 pagi.

Pembelinya kebanyakan warga sekitar pasar, yaitu warga Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kota Banjar, dan warga Dusun Citamiang, Desa Cintaratu, Kab. Ciamis.

Sijum, pedagang pakaian, warga Desa Langensari, berharap dengan dibangunnya jembatan gantung, maka akses perputaran ekonomi, khususnya di kedua wilayah tersebut menjadi lancara, sehingga aktifitas berdagang di Pasar Caplek akan semakain ramai.

Untuk mengetahui lebih jauh hasil pertanian Waringinsari, penulis melanjutkan perjalanan menelusuri lahan pertanian sepanjang tanggul bantaran Sungai Citanduy. Terlebih di sana membentang luas perkebunan buah-buahan seperti Pepaya Calina, Jeruk, Bengkoang, Jagung, dan buah-buah lainnya, serta berbagai tumbuhan palawija.

Aktivitas pertanian di sepanjang bantaran sungai tergolong tinggi, terutama di areal perkebunan pepaya. Hal ini dilakukan supaya hasil pertaniannya bisa maksimal dan menghasilkan kulitas buah yang baik. Namun, Hasan, petani pepaya, mengaku dari beberapa bulan kebelakang sampai saat ini,  hasil panen pepayanya tidak optimal.

Selain itu, kondisi buah juga tidak bagus, dibagian luar terdapat bintik-bintik putih seperti jamur. Bibit unggul yang didapat pun terkadang kurang baik. Keluhan lainnya juga masalah kebutuhan pupuk. Dengan demikian, Hasan dan para petani lainnya berharap mendapat perhatian dan bimbingan dari petuga PPL pertanian, agar mereka mampu mengatasi kendala-kendala seperti itu.

Mereka juga berharap adanya bantuan bibit unggul berkualitas dan pupuk bersubsidi dari pihak pemerintah. Pemerintah pun dituntut mampu menciptakan sebuah industry makanan olahan, dimana hasil pertanian bisa diolah menjadi makanan olahan yang siap bersaing di pasaran. Dengan begitu pula maka pemerintah bisa membuka lapangan pekerjaan dan melaksanakan pemberdayaan masyarakat.

Jadi dengan dibangunnya jembatan gantung, tentunya kedepan dipastikan pertumbuhan ekonomi wilayah Kecamatan Langensari akan cepat meningkat. Jembatan tersebut nantinya bisa juga menjadi tujuan rekreasi keluarga.

Bilamana ada penataan, seperti dibuatkan taman lengkap dengan fasilitas penerangan lampu, sehingga tidak terlihat seram. Dan tidak hanya itu, di bawah jembatan, kalau air sedang pasang warga bisa menikmati sarana perahu, atau hanya sekedar melihat-lihat lalu lalang perahu tersebut.

Sedangkan, kalau air sedang surut bisa dijadikan tempat bermain sambil melihat para penambang pasir, karena sepanjang aliran Sungai Citanduy di beberapa titik lokasi dijadikan tempat penambangan pasir.

Dengan keberadaan wilayah sekitarnya yang didukung sarana tadi, maka warganya pun harus memiliki jiwa kretivitas, inovatif dan mandiri, memanfaatkan peluang yang ada. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!