(Ribuan Kalong Lenyap) Ekosistem Kawasan Situ Panjalu Terancam

11/04/2013 Berita Ciamis
(Ribuan Kalong Lenyap) Ekosistem Kawasan Situ Panjalu Terancam
Populasi kalong (kelelawar) di kawasan Situ Lengkong Panjalu terus berkurang. Dikhawatirkan ekosistem akan terganggu. Foto : Istimewa

Populasi kalong (kelelawar) di kawasan Situ Lengkong Panjalu terus berkurang. Dikhawatirkan ekosistem akan terganggu. Foto : Istimewa

Ciamis, (harapanrakyat.com),- Hilangnya ribuan kalong di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu bisa mengakibatkan  terganggunya iklim pariwisata di Objek wisata ziarah tersebut. Bagaimana tidak, ribuan kalong tersebut sudah menjadi ikon, tontonan para pengunjung saat melepas lelah di sisi Situ.

Namun kini keadaan sudah drastis berubah, tarian ribuan kalong di saat pagi, siang, sore bahkan malam susah didapatkan kembali. Pengunjung kini hanya bisa mendengarnya lewat cerita atau dongeng.

“Berdasarkan penelitian kami pada tahun 1996 terdapat 13 ribu kalong. Kini hanya tinggal seribuan dan kadang bermigrasi entah kemana. Kondisi ini memprihatinkan bisa mengganggu tujuan wisata para wisatawan ke Panjalu,” ungkap Dr. Dadi, M.Si, Ketua Prodi Biologi, yang juga Peneliti Ecofarm, kepada HR, Minggu (7/4) di ruang kerjanya.

Dadi menuturkan, bahwa setiap tahun, pihaknya membentuk tim, dari sejak tahun 1990an  hingga sekarang, melibatkan sejumlah mahasiswa sebagai volunteer (relawa-red). “Drastis sekali penurunannya, para pengunjung kerap bertanya-tanya kemana ribuan kalong yang dulu ada di Situ Lengkong tersebut,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dadi menuturkan, menurut hasil hipotesa penilitiannya sejak 1990-an itu, hilangnya ribuan kalong, selain bisa mengakibatkan terganggunya iklim wisata, juga akan mengganggu keseimbangan ekologis di lokasi tersebut.

“Secara biologis kotoran kalong sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Kalau kalong tidak ada, siapa yang bisa memberikan pupuk atau kesuburan pada tanah di lokasi tempat habitatnya bertahan hidup,” katanya.

Masih dari sisi biologis, imbuh Dadi, kalong membantu distribusi biji dari buah-buahan yang dimakannya, dimana penyebaran biji akan membantu tumbuhnya pepohonan baru di sekitar area habitatnya hidup.

Dadi menjelaskan, penyebab dari hilangnya ribuan kalong, disebabkan oleh perubahan makro, mulai dari iklim, perilaku manusia, hingga perubahan demografi. Memang masih hipotesis, artinya perlu pengujian kembali.

“Kami akan lakukan penilitian ulang soal penyebabnya, karena ini bisa mengancam kehidupan pariwisata dan keseimbangan ekologis. Pemkab Ciamis juga harus bersikap soal ini,” paparnya.

Dadi menambahkan, kejadian hilangnya ribuan kalong, juga terjadi di kawasa Astana Gede Kawali. “Namun kalau di Astana Gede, belum kami lakukan penilitian awal, berapa populasi awalnya dan berapa yang tersisa,” ujarnya.

Juru Pelihara Astana Gede Kawali, Jana Dipraja, beberapa waktu lalu kepada HR, mengatakan, hilangnya kalong di Astana Gede Kawali sangat disesalkan. “Bahkan justru hilangnya kalong kini digantikan oleh kera liar yang kerap mengangu pengunjung Astana Gede,” pungkasnya. (DK)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles