Usai Musim Hujan Waspadai Kemarau

11/04/2013 0 Comments

Musim hujan mulai akan berganti kemarau, yang perlu diwaspadai meskipun saat ini dibeberapa wilayah di negeri kita hujan masih turun lebat tak jarang menimbulkan banjir dan longsor. Sebaliknya ada beberapa wilayah yang sudah menampakan tanda-tanda memasuki musim kemarau.

Prakiraan musim yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukan, permulaan musim kemarau 2013 datang lebih awal. Jika sebelumnya BMKG memperkirakan musim kemarau tiba pada bulan Mei dan puncaknya Juni, diperkirakan awal musim kemarau maju sekitar sebulan.

Banyak konsekuensi yang harus dilakukan dengan majunya musim kemarau, baik terkait aspek budidaya, yang meliputi pengolahan lahan, teknis dan pola tanam, maupun pilihan jenis komoditas dan resiko gagal panen.

Juga konsekuensi terkait manajemen pengelolaan pangan. Misalnya, terkait pengadaan beras dan antisipasi lonjakan harga akibat dampak psikologis pasar ataupun penurunan produktivitas dan produksi sampai pada masalah kebijakan tataniaga.

Majunya  musim kemarau tahun ini patut diwaspadai, mengingat ini terjadi di tengah kenyataan petani mengalami mundur musim tanam satu sampai satu setengah bulan. Akhir 2012 musim tanam padi baru dimulai akhir November/awal Desember 2012 karena hujan terlambat datang.

Butuh waktu sekitar 100 hari bagi petani untuk membudidayakan padi, mulai dari mengolah lahan, menyemai, tandur, sampai panen. Melihat siklus tanaman itu, petani baru bisa panen pertengahan Maret 2013. Puncaknya pada April 2013.

Pola tanam petani umumnya terbagi beberapa musim dan komoditas. Terdiri dari padi-padi untuk lahan irigasi teknis golongan l dan ll atau padi-padi palawija untuk golongan II dan III atau padi-palawija-diberakan untuk wilayah di ujung irigasi atau tadah hujan.

Jika informasi soal perkiraan iklim BMKG tidak sampai ke petani, resiko gagal panen tinggi. Sebab, petani yang seharusnya mengobah pola tanam tidak melakukannya. Saat kemarau datang lebih awal, pilihan budidaya pangan seharusnya ke jenis komoditas ysng umur budidayanya pendek atau tak butuh banyak air, seperti palawija, baik kedelai maupun kacang-kacangan.

Di luar persoalan itu, akan ada banyak petani yang berspekulasi dengan memaksakan diri menanam tanam padi demi mengejar harga tinggi sekalipun resiko investasinya juga tinggi. Maklum, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk beras kini Rp.6000 perkilogram. Tingkat harga yang menggiurkan untuk berspekulasi. Disisi lain, komoditas beras juga menjadi penentu harga komoditas lain.

Ketika harga beras naik, harga jagung dan kedelai ikut naik. Naiknya harga beras akan memicu kenaikan harga telur ayam dan itik dan daging ayam. Sebab, harga bekatul sebagai hasil samping penggilingan padi naik. Naiknya harga beras, jagung, kedelai, telur dan daging ayam juga akan segera mendorong naiknya harga buah dan sayur.

Kegagalan dalam mengelola beras/pangan sekarang akan berdampak pada 2013 dan awal 2014. Harga pangan akan terus bergejolak. Jangam anggap sepele awal musim kemarau tahun ini. (kmp/HEP)***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!