(Bukan lagi manusia super) Tapi Masih Ada Guru yang Berprestasi

11/05/2013 0 Comments
Alisah

Alisah

Dhani Ridwani

Dhani Ridwani

Yuyun Yunda Sari

Yuyun Yunda Sari

Ekslusif, (harapanrakyat.com),- Malam itu seorang tukang becak Eman namanya, ia duduk di becak menunggu langganannya sambil mendengarkan lagu pop Sunda yang disenandung penyanyi (alm) Darso, lagu berjudul “Jang”. Jang hirup teh teu gampang. Teu cukup dipikiran. Bari kudu dilakonan.

Reff :Jang sing jadi jalma hade. Sing jadi jalma geude. Benghar harta jembar hate.           

Sing pinter tur bener. Sing jujur tongbohong. Ulah nganyerikeun batur. Ngarah hirup loba batur. Rasa ucap lampah. Tekad jeung tabeat. Ngarah pinanggih bagja. Salamet dunya akherat. Jang… jang sing jadi jalam sholeh. Jang…jang hidep sing sholeh

Lagu itu favorit Eman sebagai sebuah harapan dan doa untuk anaknya bila nanti sudah besar agar bisa menjadi guru. Kata Eman, lagu itu selalu disetelnya setiap setelah sholat Subuh. Menurut Eman lagu itu menjadi pencerah hati bagi dirinya dan keluarga. Menurut Eman GURU itu artinya “Digugu jeng ditiru”. Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Koran HR menugas redaktur pelaksana Eva Latifah untuk mewawancarai ibu guru Siyamti seusai waktu mengajar di sekolah, mencari tambahan dengan menjual jamu gendong. Di Ciamis HR menugaskan wartawan Diki Haryanto Adjid, mewawancarai guru-guru berprestasi.

***

Di tengah tugas mulianya mencerdaskan kehidupan bangsa, seorang guru PNS mencoba mencari tambahan penghasilan dengan berjualan jamu.

Setiap sore sehabis sholat Ashar Siyamti (47), penjual jamu keliling, warga RT.05, RW.10, Lingkungan Cikabuyutan Barat, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, mulai bersiap-siap untuk menemui para pelanggannya.

Biasanya, Siyamti berkeliling menjual jamu hasil racikan Madiman (50), suaminya, ke daerah Sumanding hingga Tanjungsukur. Tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan dagangannya itu, karena memang dia telah memiliki pelanggan tetap. Sehingga, sebelum adzan Maghrib berkumandang, dia sudah kembali lagi ke rumahnya.

Namun siapa sangka, ibu penjual jamu yang memiliki dua orang putra ini ternyata seorang guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SD Negeri 5 Pataruman. Bahkan, ia termasuk peringkat ke 5 sebagai guru berprestasi se-Kota Banjar.

Meski telah menyandang status sebagai guru PNS, tetapi Siyamti mengaku tidak merasa gengsi apalagi malu dengan usaha sampingan yang dijalaninya tersebut. “Yang penting halal dan tidak merugikan orang lain,” ucap guru PNS golongan II yang dipercaya memegang kelas 6 di sekolah tempat ia mengajar, saat dijumpai HR di rumahnya, Minggu (5/5).

Kepada HR, guru sekaligus penjual jamu keliling lulusan SPG Negeri Sukoharjo lulusan tahun 1987 ini menuturkan, bahwa sejak lulus SPG, dia juga pernah menjadi guru honorer selama dua tahun, yakni dari tahun 1987-1989, di Surabaya.

Setelah menikah, Siyamti dan Madiman yang mengaku berasal dari Kota Solo, hijrah ke Banjar pada tahun 1991. “Dulu waktu awal-awal pindah ke Banjar suami saya jualan bakso di Tanjungsukur, sedangkan saya sendiri jualan jamu keliling. Waktu itu pelanggan jamu banyak di kantor UPT Pendidikan dan di sekolah-sekolah,” tuturnya.

Perjalanannya menjadi seorang PNS diakuinya berawal dari jualan jamu di kedua tempat tersebut. Pasalnya, para pelanggannya yang ada di tempat itu sudah mengetahui kalau Siyamti lulusan dari SPG, sehingga ketika ada penerimaan untuk tenaga Guru Bantu Sementara (GBS) di Ciamis tahun 2003 , ia pun dianjurkan supaya ikut testing.

Alhasil, ternyata tidak sia-sia usahanya dalam mengikuti testing untuk GBS, karena dia dinyatakan lulus. Dan tahun 2005 dia diangkat jadi guru PNS, yakni pada penerimaan CPNS di Kota Banjar untuk gelombang ke dua.

Baginya, menjadi guru PNS tidak lantas harus meninggalkan jualan jamu keliling. Walaupun sudah punya penghasilan tetap dengan jumlah yang cukup lumayan, namun dia terus menjalankan kebiasaannya.

“Cuma jualannya jadi sore hari saja, kecuali hari minggu ngidernya pagi-pagi, kalau sebelumnya kan pagi dan sore. Bakating ku butuh makanya jualan jamu lagi, kalau hanya ngandelin gaji PNS golongan dua tidak cukup, apalagi anak saya semuanya sedang kuliah jadi butuh uang tambahan, dan jualan jamu itu sudah kebiasaan saya dari dulu,” katanya.

Sedangkan Madiman kini berhenti jualan bakso, karena sejak istrinya jadi guru, maka dia lah yang menyiapkan semua bahan untuk jamu sekaligus meraciknya. Sehingga, begitu istrinya pulang dari sekolah bisa istirahat dulu tanpa harus mengolah dulu jamu, sebab semuanya sudah disiapkan oleh Madiman.

Selain itu, alasan dirinya berhenti jualan bakso lantaran Siyamti sendiri tidak bisa lagi membantu menemaninya jualan yang biasa dilakukan Madiman pada malam hari. “Jadi harus ada yang ngelehan salah saurang,” imbuh Madiman.

Kemudian, Siyamti juga berharap agar dunia pendidikan di Kota Banjar lebih maju lagi, maka untuk pembinaan kopetensi guru, kedepan harus dilakukan secara merata. “Artinya, jangan menunjuk orang yang dipilihnya itu-itu saja, contohnya kepada saya lagi, tapi kasih kesempatan buat guru lainnya. Bagi saya sendiri memang suatu keuntungan ditunjuk lagi ikut pembinaan, tapi kasihan guru yang lain,” pungkasnya.

***

Guru yang satu ini begitu sibuk berdiskusi dengan sesama koleganya di SMA Informatika Plus, Ciamis, Senin (06/05), saat di temui HR. Nampak peluh keringat menghiasi wajahnya yang tengah memasuki usia paruh baya. Tinggi semampai dengan perawakan sedikit gemuk, itulah Yuyun Yunda Sri, M.Pd, seorang guru ekonomi dari SMA Informatika Plus, yang meraih predikat kedua di ajang Lomba Guru Berprestasi tingkat Ciamis pada Tahun 2013 ini.

Kepada HR Yunda, panggilangnya, mengungkapkan bahwa suka duka menjadi guru dilakoninya dari tahun 2013, tatkala dirinya menjadi Guru Honorer di SMAN Baregbeg,

“Berbekal keyakinannya akhirnya saya diangkat menjadi guru tetap pada tahun 2007 lalu,” ucapnya.

Yuyun mengatakan bahwa gaji pertama yang diterimanya saat itu menjadi guru honorer sebesar 300 ribu. Berbeda jauh dengan gaji yang diterimanya saat ini yang berkisar 3 jutaan rupiah perbulannya. Apalagi Yunda saat ini telah lulus dalam menempuh ujian sertifikasi guru. Akan tetapi kondisi tersebut tak membuat Yunda lupa akan tugas fungsinya sebagai guru. Yunda tetaplah seorang Yunda.

“Orientasi kesejahteraan saya semata untuk pendidikan, karena saya berpikir bahwa pendidikan adalah investasi. Saya pun mendidik anak dengan suami jauh dari hal yang sifatnya konsumtif,” paparnya.

Dengan perjalanan keseharian yang menempuh jarak 10 km, dari rumahanya di kawasan Baregbeg ke Maleber tempatnya mengajar, Yunda selalu menyempatkan diri berdiskusi dengan sesama rekannya di sekolah.

“Dorongan dari pengurus yayasan, para guru, dan yang tak kalah penting keluarga sangat mendukung saya untuk terus berkiprah menjadi guru. Prinsip saya lakukan yang terbaik saja,” ucapnya.

Yunda mengatakan bahwa selain mengajar, ia dalam beberapa tahun terakhir ini mengembangkan kompetensinya dalam menulis. “Saya membuat buku Ekonomi untuk kelas 1, 2 dan 3 tingkat SMA,” ujarnya.

Kebanggan yang tak ternilai ungkap Yunda, apabila ia melihat anak didiknya bisa berhasil dalam mengarungi lautan hidup ini.

“Sukanya begitu, kalau dukanya menghadapi siswa yang nakal, akan tetapi si SMA Informatika ini sudah ada metode untuk memecahkan kenakalan siswa,” pungkasnya.

***

Namanya Singkat yakni Alisah, guru yang sudah berpredikat haji ini, malah bertekad untuk berangkat kedua kalinya ke tanah suci.

“Alhamdulilah sebelum saya mendapat sertifikasi tahun 2013 ini saya sudah pergi ke tanah suci dari kerja sebagai guru,” papar guru Akomodasi Perhotelan SMKN 1 Ciamis ini kepada HR, Senin, (06/05) di lobi SMKN 1 Ciamis.

“Mendapat predikat sebagai guru berprestasi tentunya satu sisi jadi beban satu sisi jadi motivasi juga,” ungkap pengurus Ikatan Haji Indonesia wilayah Bojong Menger ini.

Alisah yang memulai pengabdiannya pada tahun 1996 di SMKN 1 Cilacap ini mengaku menjadi guru bukanlah profesi yang membosankan. “Karena yang saya hadapi adalah manusia, jadi ada dinamika,” ujarnya.

Alisah yang memaparkan, makalah guru dalam Dinamika Globalisasi pada perhelatan guru berprestasi tersebut mengaku bahwa pendidikan karakter pada siswa mutlak diterapkan.

Menurutnya, tantangan globalisasi dengan maraknya internet, bukan hanya siswa pria saja yang berpotensi nakal, tapi siswi wanitapun bisa jadi. Makanya harus ada kiat tersendiri, salah satunya dengan pendekatan kepada siswa dan orang tua siswa.

***

Namanya adalah Dhani Ridwani, M.PdI, Ia adalah guru Agama di SMPN 5 Ciamis  yang meristis karier dari guru Sukwan di tahun 1996 lalu. Dhani baru saja mendapat predikat sebagai Guru Berprestasi Tingkat SMP Tahun 2013 ini.

Berperawakan sedang, dan bertutur datar, usai menunaikan ibadah zuhur, Dhani menemui HR, yang telah lama menunggu di ruang tunggu SMPN 5.

“Alhamdulilah, kalau kesejahteraan, saya pikir cukup untuk menghidupi anak istri, walaupun istri juga seorang guru. Kalau itukan relatif tergantung kita memandang,” ujar lelaki yang bertekad untuk menempuh pendidikan Doktor ini.

Dani yang telah lulus dalam sertifikasi guru di tahun 2009 ini mengaku, terkadang kerepotan menghadapi perkembangan global dewasa ini. Khusunya dampak negatif dari internet yang selalu cepat diadopsi siswa. Akan tetapi, untungnya di SMPN 5 selalu ada komunikasi dengan kolega untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Soal ajang perlombaan guru berprestasi, Dani sempat berkeluh kesah juga. “Harusnya untuk kompetensi bahasa, bahasa yang digunkan tidak hanya Inggris, akan tetapi Arab juga masuk sebagai parameter ujian. Kan tidak semua Guru bisa berbahasa Inggris, ada sebagian yang cakap berbahasa Arab,” ujar pria yang mendapat beasiswa S-2 di IAIN Syeh Nurjati, Cirebon 2010 lalu ini. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply