“LELAKI JANGAN BACA”

02/05/2013 0 Comments

Ssst… jangan berisik, aku akan bercerita soal fakta demoralisasi di negreri ini. YH penduduk Mandalajaya Kec Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya mencabuli NN (14) anak tirinya saat ibu korban sedang perkebun. Kelakuan bejad ayah tiri itu dilakukan di rumahnya di Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. YH ditangkap polisi saat sedang nongkrong di warung di Desa Margacinta Kec Cijulang 26 April lalu, atas laporan ibu korban karena ada kelainan dari perilaku NN.

YH mengaku sudah empat kali mencabuli NN pada Juli 2012, dua kali di kamar tidur korban, satu kali dekat sumur, satu kali di kebun depan rumah. NN pertama digagahi sang ayah tiri dijanjikan akan dibeliin HP, dan ancaman akan dibunuh bila tidak melayani. YH menceritakan kejadiannya sudah lama sebelum mencerai ibunya. Perbuatan bejad yang tak bermoral itu akhirnya terungkap juga.

Demoralilasi terjadi di masyarakat dari akumulasi kehidupan masyarakat kita saat ini karena berbagai kekecewaan dalam kehidupan bangsa kita. Terutama kerena tidak ada kepastian hukum di negeri ini. Tulisan ini semua fakta yang terjadi di masyarakat saat ini. Di penghujung Maret lalu di kota Banjar terjadi peristiwa yang menghebohkan, seorang siswi sebuah SMA di Banjar mati di selokan.

Usut punya usut polisi mencium jejak peristiwa bahwa kematian seorang siswi pelajar SMA itu, karena ada pembiaran oleh pacarnya (murid SMK Swasta) di kota yang sama yang telah memasukan benda tumpul “Mr. P” (Penis) ke “Miss V” (Vagina) pacarnya itu sehingga mengandung dua bulan. Yang membikin bingung pasang lain jenis itu. Mereka tak memperhitungkan resiko dari permainan seks bebas di luar nikah. Yang mereka tahu hanya kenikmatan. Akhirnya  pacar siswi yang mati itu, jadi tersangka dan mendekam di balik jeruji besi kepolisian Banjar. Itu cerita singkatnya.

Rangsangan seks bebas saat ini, informasi teknologi (IT) punya peran, hal itu bisa disebar luaskan tanpa rasa malu melalui handphone (HP) yang menggegerkan di masyarakat kita. Hampir terjadi di setiap daerah, terutama seks bebas yang dilakukan anak-anak muda. Ada peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Peristiwa nafsu seks bisa terjadi kepada siapa saja. Ini kisah nyata seorang Kepala Sekola SMP di Batam. Mencabuli 14 siswa didiknya, dengan alasan memeriksa keperawan muridnya. Menggunakan “Mr P” dan membuka celana dalam yang menutupi “Miss V” muridnya dan masuklah “Mr P” sang kepala sekolah. Jangan dulu anda bilang gila guru ini bejad moralnya. Kejadian yang sama-sama gilanya di Madura Jawa Timur, seoarang yang terhormat anggota DPRD mencabuli 9 wanita di bawah umur dengan cara kawin sirih sebelum melaksanakan nafsu birahinya yang dilakukan disebuah hotel. Tentu saja berurusan dengan polisi.

Dari cerita di atas, korbannya adalah kaum perempuan yang diperlakukan tanpa etika moral. Dilalukan sewenang-wenang oleh kaum lelaki. Siapa yang harus bertanggung jawab adalah negara ! Pelaksanaan kepastian hukum di negara ini harus jelas, tindak tegas terhadap warga negaranya yang demoralilasi (suatu kondisi penurunan moral bangsa akibat arus globalisasi yang semakin gencar dan tidak terkontrol. Serta akibat dukungan budaya barat yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa).

Tuntutan kesetaraan gender bagai kaum perempuan, harus terus diperjuangkan. WR Supratman ada benarnya ketika menyebut Kartini sebagai “pendekar kaumnya”. 21 April diperingati sebagai hari lahir Raden Ajeng Kartini. Dalam memperingati Kartini tak sebatas kebaya dan seremonial. Kartini adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan gender, dan nasionalisme Indonesia di akhir abad ke 19.

Seorang pendekar adalah pembela yang tak selamanya memenangi perkelahian. Ia memang aktivis pemikir yang jatuh bangun. Lahir dari keluarga menak, anak Bupati Jepara RMAA Sosroningrat. Kartini lahir dari rahim garwa ampil atau selir Ngasirah ibunya adalah satu dari dua istri bapaknya.

Kartini memberontak terhadap feodalisme, poligami, dan adat istiadat yang mendukung perempuan. Dia yakin pemberian pendidikan yang lebih merata merupakan kunci kemajuan. Pahlawan-pahlawan perempuan di negeri kita tak hanya Kartini, ada Cut Nyadien, Raden Dwi Sartika, Rohana Kudus.

Hak-hak perempuan harus dilindungi, aku menambah cerita soal perempuan. Geram oleh maraknya pemerkosaan di negerinya, sekelompok mahasiswa teknik Universitas SRM, Chenai, India, menciptakan prototype pakaian dalam yang dapat melindungi perempuan dari serangan seksual. Pakaian dalam ciptaan Manisha Mohan, Rimpi Tripathi, dan Neeladri Basu Pal itu rencana diproduksi akhir bulan ini.

Seperti dilansir The Times of India pekan lalu, Mohan menerangkan dua keistimewaan pakaian dalam buatannya. Pertama, pakaian dalam itu akan melindungi perempuan secara otomatis apabila mereka mendapat tekanan pada organ intim (Miss V) yang diselimuti pakaian tersebut. Tak tanggung-tanggung, 82 kejutan listrik 3.800 kilovolt bakal mengalir melawan tekanan itu.

Kedua, pakaian dalam yang dinamai Society Harnessing Equipment (SHE) ini bisa memberi tahu polisi, keluarga, atau teman. Tentang potensi serangan seksual melalui global positioning sistem di dalamnya. Dengan cara itu posisi calon korban bisa dengan mudah diketahui. “Selain itu, modul global positi sistem dan global system for mobile communication akan mengirim pesan pendek kepada nomer darurat serta kepada orang tua korban dan pihak lain yang dikehendaki,” kata Mohan. Serangan seksual terhadap perempuan di India makin menggila belakangan ini. Akibatnya, kunjungan turis asing dilaporkan merosot hingga 25 persen. Demoralisasi di negeri ini. Bongkar, Bongkar…..***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!