(Lindungi Buah Lokal) Petani Rambutan Si Batulawang Diberi Pelatihan

27/05/2013 0 Comments
(Lindungi Buah Lokal) Petani Rambutan Si Batulawang Diberi Pelatihan

Saat musim rambutan tiba, buah Rambutan Si Batulawang banyak dijual di sepanjang Jl. Raya Batulawang

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Pemerintah menutup sementara importasi enam produk buah. Keenam produk buah tersebut adalah durian, nanas, melon, pisang, mangga, dan pepaya. Penghentian sementara impor ini adalah untuk periode Januari-Juni 2013. Langkah dan kebijakan pemerintah itu untuk melindungi petani lokal.

Di Kota Banjar sendiri, langkah konkret pemerintah untuk melindungi buah lokal, yakni mengadakan kegiatan Sekolah Lapangan (SL) khusus untuk tanaman Rambutan Si Batulawang di Desa Karyamukti, Kel/Kec. Pataruman.

Hal itu dikatakan Kabid. Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Kota Banjar, Ir. Agus Kostaman, saat ditemui HR di ruang kerjanya, Selasa (20/5).

“Kita melakukan pertemuan untuk pembinaan setiap minggu selama sepuluh kali pertemuan, dan sekarang sudah tiga kali pertemuan, anggarannya dari APBD Provinsi. Dalam SL itu dipelajari cara pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan cara pemangkasan,” kata Agus.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga memberikan bantuan alat penyulingan guna pengendalian lalat buah dengan menggunakan tanaman selasih. Karena dalam buah rambutan sering ditemukan adanya ulat. Untuk itu para petani menanam selasih di sekeliling kebun. Tanaman selasih dapat bersifat sebagai zat pemikat yang mampu memerangkap lalat buah.

Namun, hasil yang lebih baik atau paling efektif sebagai pemikat lalat buah adalah dengan cara tanaman selasih diproses terlebih dahulu melalui penyulingan, sehingga nantinya akan menghasilkan minyak atsiri berupa minyak selasih.

Penempatan botol perangkap dilakukan dengan cara menggantungkannya di dalam tajuk tanaman, sehingga lalat buah yang ada di sekitar arel tersebut dapat tertarik dan masuk ke dalam botol, jadi tidak mengganggu buah.

Agus juga mengatakan, sampai sekarang petani belum memiliki alat untuk mengolah buah rambutan, dimana jenis buah ini termasuk musiman. Sehingga, petani hanya mampu menjualnya ketika musim rambutan.

“Sampai sekarang petani belum bisa packing hasil panennya. Kami sudah mengusulkan ke provinsi untuk alat pengolahan buah rambutan. Jadi nantinya buah rambutan bisa diawetkan, baik dalam kap gelas atau kalengan. Dengan begitu Rambutan Si Batulawang dapat dijual meski bukan musim rambutan, sehingga pendapatan petani bisa meningkat,” ujarnya.

Menurut Agus, buah lokal lainnya yang bisa menjadi icon Kota Banjar yaitu Pepaya dan Jeruk Langensari. Sebagai langkah konkretnya, Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura melakukan pembinaan kepada petani untuk budidaya. Sebab, kalau dari segi pasar petani sudah tahu, dan pemasarannya sudah bagus.

Jeruk Langensari baru mampu memenuhi permintaan pasar lokal, lantaran petani belum banyak menyediakan lahan untuk ditanami. Selain itu, hanya petani di Langensari saja yang menanam tanaman jeruk tersebut, jadi hasilnya pun masih terbatas.

“Mengenai insentif khusus kepada petani, untuk sementara ini belum ada, baru sebatas pembinaan. Kalau di pepaya, dulu pernah ada bantuan alat untuk pasca panen dan keranjang buah, serta alat timbangan. Kalau petani rambutan dari dulu sudah sering dikasih bibit rambutannya,” pungkas Agus. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!