Mari Belajar dari Tragedi Poppy

02/05/2013 0 Comments

Oleh : Encang Zaenal Muarif*

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan sebuah tragedi  tewasnya seorang siswi kelas X di salah satu SMAN di Kota Banjar. Poppy Agaptasari (15), ditemukan tewas mengenaskan dalam keadaan hamil di sebuah gorong-gorong di kawasan perkebunan Blok Pasirsireum, Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, dengan kondisi mulut berbusa dan masih berseragam lengkap, Kamis (4/4). Kini pihak kepolisian telah menetapkan AG, pacar Poppy,  sebagai tersangka dalam kasus tersebut. (Harapan Rakyat, 10/4).

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membahas kronologis kejadian hingga pasal berlapis yang mengancam AG, namun sekedar ingin mengajak semua pihak, baik orangtua, sekolah, dinas terkait dan masyarakat pada umumnya untuk menganalisa faktor penyebab terjadinya tragedi tersebut, karena pada dasarnya, peristiwa Poppy hanyalah secuil cermin akibat perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja di Kota Banjar khususnya, dan di negeri ini pada umumnya. Mari kita gunakan berbagai perspektif dalam menyikapi tragedi Poppy ini.

Pertama, dari perspektif psikologis. Perilaku menyimpang remaja adalah salah satu PR berat yang harus diselesaikan para pemimpin di Kota Banjar. Apalagi, sebagai sebuah kota yang sedang “mekar-mekarnya” dengan lokasi yang strategis untuk dijadikan transit bagi para pengunjung dari berbagai arah, tentunya berdampak pula terhadap terbukanya kran penularan perilaku yang akan mempengaruhi kondisi psikologis dan karakter remaja di Kota Banjar.

Menurut ilmu psikologi, remaja pada dasarnya memiliki sifat imitatif, yakni selalu ingin meniru tingkah laku sekelompok orang yang mereka jadikan figur. Perubahan status Kotif Banjar menjadi Kota Banjar pun tentunya mempengaruhi pula kondisi psikologis para remaja dengan meniru perilaku menyimpang yang biasa terjadi di kota-kota besar. Dalam pandangan mereka yang kurang memahami perbedaan hakiki antara kota dan kampung, kenakalan remaja adalah sebuah bentuk eksistensi diri dari “orang kota”.

Remaja yang pendiam, rajin belajar, tidak suka merokok, dan tidak berpacaran, biasanya akan dicap sebagai anak kampungan. Hal inilah yang harus dijadikan sorotan perhatian pemerintah Kota Banjar. Para remaja sebaiknya diingatkan, bahwa dengan menjadi Kota, bukan berarti remaja Banjar lupa akan budaya, etika dan moral sebagai orang daerah.

Kedua, dari perspektif agama. Bisa jadi, pergaulan bebas di kalangan remaja saat ini adalah akibat kelalaian orangtua dalam memberikan pendidikan agama di rumah. Terkadang, pendidikan agama di lingkungan tempat tinggal hanya dijadikan kegiatan formalitas agar putra-putri mereka mendapat sertifikat wustho sebagai salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan SMA. Sebagian orangtua kurang memantau perkembangan pemahaman dan praktik keagamaan anak-anak mereka, yang penting sekolah lulus, kuliah di perguruan tinggi bonafid dan mendapat pekerjaan yang layak atau mapan secara ekonomi.

Jika melihat fenomena ini, penulis teringat sebuah kata mutiara yang diungkapkan seorang ulama besar Imam Ibnu Atho’ilah dalam kitab Hikam-nya, yang artinya “Kesungguhanmu akan sesuatu yang telah dijamin oleh Tuhan-mu (persoalan rezeki) dan kelalaianmu akan sesuatu yang diwajibkan kepadamu (ibadah) menandakan butanya mata hatimu.  Dan kita semua tahu, jika sudah buta mata hati, maka kecelakaanlah yang akan terjadi sebagaimana yang terjadi pada Poppy.

Untuk mengatasi masalah ini, orangtua hendaknya mengubah mindset, bahwa pendidikan agama adalah pondasi yang paling kokoh dalam melindungi anak-anak mereka. Sekolah pun dalam hal ini sangat berperan. Sebagai lembaga pendidikan, hendaknya lebih jeli dalam memfilter pengaruh buruk pergaulan sesama remaja di sekolah. Selain itu, kegiatan-kegiatan sekolah yang cenderung memancing birahi terhadap lawan jenis, untuk alasan seni sekalipun, sebaiknya dieliminir atau paling tidak dikontrol agar terlihat lebih menunjukkan jati diri seorang pelajar.

* Penulis adalah pemerhati sosial, alumnus Magister Pendidikan Pasca Sarjana Unigal, tinggal di Banjar. 

 

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!