Zaman Edan Kataku

23/05/2013 0 Comments

Pengaruh kekuatan asing makin meluas, meski sudah berlangsung 105 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia belum mencapai tujuan. Itu ucap temanku pada Minggu 19 Mei, aku cuma bisa tersenyum. Memang kenapa, aku bertanya pada temanku itu. Waktu dulu kita sekolah dia bilang 19 Mei itu hari ulang tahunku. Selamat ya…ucapnya. Hubungannya dengan Kebangkitan Nasional apa? tanyaku.

20 Mei itukan Hari Kebangkitan Nasional ucap temanku, kenapa gitu… kataku. Ingat engga ucap temanku. Waktu di SMA dulu kita murid sekolah harus ikut upacara, untuk upacara bendera Merah Putih dan mendengarkan pidato Pak Wedana Banjar dengan hikmat. Di belakang barisan berjejer guru, polisi, PM mengawasi bila ada dari barisan yang bercanda, langsung mendapat teguran. Tempat upacara di alun-alun Banjar, bila pimpinan upacara menyebutkan mengheningkan cipta untuk para arwah pahlawan mulai. Peristiwa itu berlangsung pada tahun 1960 an, sekarang engga lagi tuh.

Bunyi serine, dari suara kereta api dari stasiun Banjar mengudara, kuooong…, terasa hening semua penjalan kaki dan kendaraan berhenti untuk mengheningkan cipta. Suara serine berhenti kegiatan mulai berjalan lagi, pengikut upacara mengangkat kembali kepalanya, setelah mendengar ucapan pimpinan upacara selesai… Kalau sekarang masih begitu engga yaa.., enggalah kataku, itu dulu zaman apa zaman tai kotok dilebuan. Ucapku sambil tertawa bersama temanku. Suatu kenangan masa lalu, tapi sangat berkesan, padahal usia kami berdua sudah kepala 6.

Padahal aku paham ada keresahan dalam diri temanku itu, melihat keadaan kodisi di zaman edan seperti ini. Habis mau bilang apa, korupsi semakin komplit, dekadensi moral terjadi dari atas sampai bawah. Meluasnya pengaruh kekutan asing, dalam satu dekade terakhir dihampir semua bidang di Indonesia merupakan salah satu indikasinya.

“Ada yang salah dengan pendidikan politik dan perekrutan politik dalam 10 tahun terakhir. Pendidikan politik tak didampingi moralitas ataupun idialisme untuk selalu berjuang dengan semangat nasionalisme”. Banyak politikus dan pemimpin yang tak mengerti asal-usul bangsanya. Moralitas berjuang bagi bangsa juga dilihatnya hilang dalam pendidikan politik dewasa ini. Semangat gerakan Indische Partij yang dipelopori tokoh nasionalis, seperti Ki Hadjar Dewantara, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Dr. Douwes Dekker dirasakan tak ada lagi.

“Saat ini tak banyak pemimpin yang memihak kepada rakyat. Mereka cenderung lebih berpihak kepada kekuatan asing yang memiliki pengaruh sangat besar di Indonesia”. Itu kata Cosmas Batubara, aku bilang pada temanku. Kata temanku, dia sependapat dengan yang berpikir kritis. Bahwa kegagalan Kebangkitan Nasional selama 105 tahun ini karena semangat yang menjiwai para pemimpin tidak sejalan dengan semangat kebangsaan. “Ideologi asing kini merajalela di Indonesia, kapitalisme, liberalisme, komunisme diam-diam hidup lagi, dan lain sebagainya dihidupi oleh pemimpin negara. Pancasila sebagai Idiologi kebangsaan justru perlahan-lahan ditinggalkan.

Obrolan ini untuk mengingatkan makin ditinggalkannya Pancasila, dan ajakan untuk kembali mencintai dan mengamalkan Pancasila. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!