(BBM Naik tak Berimbas) Harga Biji Kopi Rajadesa Ciamis Anjlok

29/06/2013 0 Comments
(BBM Naik tak Berimbas) Harga Biji Kopi Rajadesa Ciamis Anjlok

Foto Ilustrasi Petani Kopi

Rajadesa, (harapanrakyat.com),-

Pasca harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, harga-harga barang dagangan di pasaran ikut-ikutan naik. Tapi berbeda dengan biji kopi kering asal Rajadesa yang anjlok drastis. Akibatnya, sejumlah petani kopi di Dusun Pasirjaya Desa Andapraja Kec. Rajadesa Kabupaten Ciamis, mengeluh. Mereka beralasan, harga jual tidak seimbang dengan biaya produksi.

Odah, petani kopi asal Dusun Pasirjaya RT 07/01, Desa Andapraja, Minggu (23/6), di rumahnya, mengatakan, sejak naiknya harga BBM, harga kopi bukannya turut naik malah sebaliknya harga kopi menurun drastis, mencapai 22 persen.

Menurut Odah, sebelum BBM naik, harga biji kopi mencapai Rp 18ribu perkilogram, bahkan sempat melonjak hingga Rp. 20 ribu. Namun sejak BBM dinyatakan naik, harga biji kopi hanya Rp 14 ribu perkilogram.

Kepada HR, Odah mengaku, penurunan harga biji kopi disebabkan para spekulan atau pengepul mempermainkan harga di tingkat petani. Meski begitu, dia terpaksa menjual biji kopi dengan harga murah, karena butuh uang.

Petani kopi lainnya, H. Dasmu, membenarkan, kenaikan harga BBM tidak berimbas terhadap kenaikan harga biji kopi. Dia juga menuturkan, hampir setiap menjelang bulan puasa, harga biji kopi selalu melemah.

“Untuk sekarang, harganya masih fluktuatif (naik-turun), di kisaran Rp 14 ribu. Yang jelas, harga itu tidak cukup untuk menutupi biaya produksi,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Kades Andapraja, Carim, mengungkapkan, mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani kopi. Dia juga menyayangkan, harga biji kopi kali ini mengalami penurunan.

“Soalnya, kopi merupakan sumber penghasilan kebanyakan petani di kita,” katanya.

Senada dengan itu, Drs. H. Dodi Husen Sidiq, M.Pd, Tokoh masyarakat setempat, menilai, penyebab adanya upaya mempermainkan harga, yang dilakukan para spekulan, tidak lain dikarenakan para petani belum terorganisir secara baik.

“Apalagi, para spekulan atau pengepul tersebut kebanyakan dari luar daerah. Dan secara nasional, produksi kopi masih bergantung pada permintaan dari luar negeri,” ujarnya. (dji/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply