Adipura Kota Banjar, Kebanggaan Sekaligus Tantangan

23/07/2013 0 Comments

Oleh : Nanang Supendi

Setelah penantiannya semenjak Kota Banjar berdiri dalam kurun waktu 10 tahun, akhirnya Kota Banjar untuk kali pertama mendapatkan Piala Adipura, sebuah keberhasilan dalam meraih penghargaan sebagai kota kecil terbersih se-Indonesia tahun 2013.

Bagi Herman Sutrisno, tentu penghargaan ini terasa sangat istimewa, selain telah berbagai upaya dilakukan beberapa tahun kebelakang namun selalu gagal, juga karena justru diperolehnya diujung masa jabatannya sebagai walikota.

Kita tentu berharap, Piala Adipura ini bukan sekedar hadiah bagi Dokter Herman dimasa jabatannya. Setidaknya benar-benar karena Kota Banjar berhasil mengelola dan memelihara lingkungannnya.

Lalu sudah pantaskah Banjar memperoleh Adipura? Tentu kita dapat menjawabnya dengan melihat realita yang ada. Begitu pula dengan tim penilai, tentu memiliki pandangannya. Namun apapun itu, kita sebagai warga kota harus bangga dan bersyukur.

Sebagai bentuk kebanggaan dan wujud sukur atas diraihnya piala Adipura sebagaimana dilakukan minggu lalu pemerintahan kota Banjar bersama Stake Holder terkait serta elemen masyarakat dibidang kebersihan, khususnya pasukan orange atau petugas pesapon menggelar pawai atau mengarak piala Adipura berkeliling kota.

Sambil tanpa henti hentinya melantunkan lagu tentang kebersihan, serta disambut beberapa warga yang tak asing lagi dengan syair lagu tersebut, juga ikut berdendang; “Eleuh-euleuh itu runtah, hayu urang parulungan. Asupkeun kana carangka. Sangkan jadi beresih. Euleuh jadi bersih.” Syair lagu yang berisi ajakan sekaligus motivasi agar masyarakat bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.

Kemudian sampai disitukah kita mengapresiasi penghargaan tersebut?, Tentu hal ini menjadi sebuah tantangan bagi semua warga kota Banjar, selanjutnya mau kemana membawa penghargaan ini, kita mau apakan? Kita tertantang, kita terima tahun ini saja, atau harus berpikir terima setiap tahun.

Berharap penghargaan Adipura ini mesti menjadi batu pijakan pembangunan kota Banjar lebih baik lagi, terus termotivasi untuk menerima adipura-adipura berikutnya. Jika menjadi batu loncatan, maka pemerintah dan masyarakat mendapat tantangan mengatur kota Banjar menjadi bersih, indah, sehat, nyaman dan bebas dari sampah.

Jangan hanya karena untuk meraih Adipura kita melakukan bersih-bersih, namun setelah itu kembali jorok, sampah berserakan dimana;mana, tetapi harus dijadikan sebagai pola hidup, bahwa hidup bersih dan hidup sehat itu sangat penting. Kita harus menjadikan kota yang memberi kesan kepada orang yang mengunjungi kota ini.

Setelah Piala Adipura ada ditangan,  maka jangan terlalu senang dulu. Mempertahankan agar Piala itu tetap ditangan pada tahun berikutnya, jauh lebih sulit. Dan itu, tentu saja bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan yang terpenting kesadaran masyarakat itu sendiri.

Ada beberapa cara atau persoalan pokok yang harus menjadi perhatian dalam mempertahankan prestise Adipura atau  pencapaian kota bersih suistanable (keberlanjutan). Diantaranya; pengelolaan persampahan, pendayagunaan dan penataan PKL, pengelolaan dan penataan pasar-pasar tradisional, tempat perbelanjaan modern (Mall), penataan parkir kendaraan dan bongkar muat, penataan dan pendayagunaan terhadap wilayah berpotensi kumuh, lingkungan sungai dan hutan kota.

Maka dalam upaya melaksanakan hal itu, dibutuhkan komitmen dan semangat kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, kebersamaan, kekompakan, motivasi yang kuat. Sehingga tantangan sebagai keniscayaan untuk mencapai kota bersih keberlanjutan hingga mampu mempertahankan Adipura Kota Banjar bisa tercapai. Semoga….. ***

Penulis adalah Tokoh Pemuda di Langensari Kota Banjar

 

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!