Dari Balik Jeruji Besi, Ijudin Buat Novel ‘Ketika Cinta Jatuh Cinta’

04/07/2013 0 Comments
Dari Balik Jeruji Besi, Ijudin Buat Novel ‘Ketika Cinta Jatuh Cinta’

Muhamad Ijudin Rahmat (34), mantan Napi Lapas Cipinang, bersama Dewan Penasehat dan Dewan Pimpinan Yayasan Bhakti Anak Negeri juga anggota Polsek dan Koramil Pangandaran, saat launcing Buku Novelnya “ Ketika Cinta Jatuh Cinta”, di Cagar Alam Pantai Timur Pangandaran, pekan lalu. Foto: Syamsul Maa’rif

 

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Selama kurang lebih 1,5 tahun, Muhamad Ijudin Rahmat (34), mendekam di Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta. Dia dijebloskan ke dalam penjara lantaran kasus tindak kejahatan. Mantan pecandu narkotika itu, dipenjara pada tahun 2010. Selama menjadi warga binaan Rutan Cipinang, dia berhasil bangkit dan tersadarkan akan apa yang telah ia perbuat.

Melalui pengap dan sempitnya ruang tahanan, dia membuat sebuah novel yang dipersembahkan kepada anaknya. Judulnya ‘Ketika Cinta Jatuh Cinta’. Selepas bebas, Ijudin menceritakan dirinya memiliki gagasan untuk membuat yayasan. Hingga akhirnya bertemu dengan Mayor Jenderal (P) TNI Asril Hamjah Tanjung, Mantan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat.

“Ini adalah gagasan saya dengan beliau semua untuk membuat yayasan dengan nama Yayasan Bhakti Anak Negeri. Mereka pun tertarik dengan novel saya. Kemudian visi dan misi kita sama. Yaitu menyelamatkan generasi muda dan penerus bangsa dari tindak kejahatan, dan narkotika,” kata Asril, saat Pra Launching Novel ‘Ketika Cinta Jatuh Cinta, di Cagar Alam Pantai Timur Pangandaran, beberapa pekan lalu.

Di struktur Yayasan, Asril adalah Dewan Pendiri. Anis Dewan Pembina. Kemudian, Wakil Menteri Kementrian Hukum dan HAM, Denny Indrayana, Dewan Pengawas.

Dalam kesempatan itu, Ijudin mengatakan, buku novel buatannya dicetak sebanyak 500 ribu eksemplar. Dan, laris dijual di pasaran. Kemudian, saat ini dirinya akan mencetak kembali cetakan kedua dengan jumlah 1 juta eksemplar.

“Hasil penjualan pada cetakan pertama, seluruhnya akan saya sumbangkan. Dan, akhirnya dibelikan lahan tanah seluas 4.400 meter persegi di daerah Ujung Berung, Kota Bandung,” ucapnya.

Menurut dia, lahan tersebut nantinya akan dibangun rumah pintar. Rumah tersebut nantinya akan menjadi tempat mengembangkan kreatifitas para anak bangsa. Untuk dana pembangunannnya sendiri, nantinya akan menggunakan dari hasil penjualan buku yang berjumlah sebanyak 1 juta eksemplar tersebut. Satu eksemplar buku, dijual seharga Rp 55.000.

“Saya benar-benar tidak menyangka. Ketika ada yang datang, dan ingin mengangkat novel ini ke layar lebar. Direncanakan, film dari novel ini akan ada pada 2015 mendatang,” ucapnya. (Syam/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply