Odong-odong Gowes Pangandaran, Menarik Wisatawan Asing

Odong-odong Gowes Pangandaran, Menarik Wisatawan Asing

Odong-odong gowes yang saat ini tengah menjamur di Pangandaran. Foto: Encang Zaenal Muarif/HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Janet salah seorang turis asal Prancis mengaku sangat senang menaiki odong-odong. Awalnya, dia mengaku aneh melihat kendaraan odong-odong gowes, karena di negaranya belum pernah melihat kendaraan unik tersebut.

I think it’s a nice experience. Odong-odong makes me feel comfortable to see the beautiful of Pangandaran Beach in the first time. (Saya pikir ini adalah pengalaman yang sangat indah. Odong-odong membuat saya nyaman saat melihat keindahan pantai Pangandaran pertama kalinya,” ucap turis yang masih mahasiswi ini dengan mimik muka yang sangat ceria.

Janet menuturkan, saat pulang nanti, dia akan memberitahu teman-temannya untuk datang ke Pangandaran. karena selain memiliki pantai yang sangat indah, di Pangandaran ditemui banyak keunikan budaya dan kearifan lokal yang sangat luar biasa.

Seperti diketahui, pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Pangandaran beriringan dengan menggeliatnya ekonomi masyarakat. Geliat ekonomi tersebut terlihat dari sektor pariwisata, dengan munculnya trayek odong-odong. Rupanya, odong-odong telah menjadi semacam “virus” yang menyebar dari satu daerah ke daerah lain. Terbukti, semenjak 3 bulan terakhir, ratusan odong-odong bermunculan di Pangandaran.

Saking menjamurnya, pengusaha odong-odong di Pangandaran kini mencapai 155 orang. Masing-masing memiliki odong-odong yang telah beroperasi antara 1 hingga 2 unit odong-odong. Kini, mereka telah membentuk paguyuban pelaku usaha odong-odong dengan jumlah 286 odong-odong yang beroperasi di sekitar pantai barat dan timur Pangandaran.

Paguyuban odong-odong yang terbentuk sejak satu bulan yang lalu, kini membuat aturan untuk membatasi jumlah pelaku usaha kendaraan gowes unik tersebut. Dengan pembatasan tersebut, paling jika ada pengusaha lain yang berminat untuk menjalankannya, mereka harus membeli trayek kepada pemilik odong-odong yang sudah ada.

Ketua kelompok Odong-Odong pantai Barat, Jamin, mengatakan saat ini pihaknya membatasi jumlah pengusaha odong-odong maksimal 2 unit, tidak boleh lebih. Pihaknya khawatir, saat ini terjadi keanehan di mana para pengusaha besar dan sudah kaya pun ikut-ikutan berkecimpung dalam usaha ini.

“Kami heran dengan pengusaha-pengusaha besar, kenapa sih jatah usaha untuk orang kecil saja mereka ingin ikut-ikutan. Pemilik hotel dan restoran besar gak pantes ikut-ikutan usaha ini,” ungkapnya kepada HR sembari menyebutkan sejumlah hotel di Pangandaran yang memiliki odong-odong, Senin (8/7).

Jamin mengatakan, kelompok odong-odong pun membuat aturan mengenai tarif minimal dan maksimal sekali menaiki odong-odong. Dia mengatakan, tarif minimal satu jam mengitari area pantai minimal harus dipatok Rp. 50.000, dan maksimal Rp. 75.000. Jumlah maksimal penumpang pun dibatasi sebanyak 6 orang, karena jika lebih dari 6 orang, pengemudi lain dikhawatirkan tidak kebagian penumpang.

Untuk masalah jam operasi, kelompok tidak membatasi para anggotanya. Mereka dibebaskan untuk beroperasi kapanpun. Namun, kebanyakan mereka beroperasi di malam hari karena pada pagi hari, pengunjung lebih menyukai berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda.

Saat ini, kelompok besar dibagi menjadi 7 kelompok kecil. Masing-masing kelompok kecil diberi tempat mangkal sesuai dengan domisili anggota. Masing-masing anggota tidak boleh mangkal di tempat mangkal kelompok lain, namun untuk area keliling, diserahkan sepenuhnya sesuai keinginan konsumen.

Harga 1 unit 12 Juta

Meskipun terlihat sederhana, ternyata harga pembuatan satu unit odong-odong merogoh kocek lumayan dalam, yakni Rp. 12 juta. Harga tersebut sudah lengkap dengan jok, audio, dan aksesori lampu. Menurut pengakuan Saryin, salah seorang pemilik sekaligus pengemudi odong-odong, setelah dia mengoperasikan odong-odong 3 bulan terakhir ini, modal sebesar Rp. 12 juta tersebut dihitung-hitung sudah kembali.

Pemesanan untuk membuat odong-odong, kata Saryin, awalnya bisa pesan di Pangandaran, namun karena prosesnya yang sangat lama, para pengusaha odong-odong pun pindah, membeli di daerah Cilacap karena prosesnya lebih cepat.

“Alhamdulillah, jika Pangandaran sedang ramai, saya bisa mencapai 13 rit. Jika dihitung 13 rit di kali Rp. 50.000, berarti saya dapet Rp. 650.000. Pernah juga dalam sehari semalam saya memperoleh uang Rp. 1 juta. Kalau lagi sepi paling hanya 2 rit lah,” katanya.

Saryin mengakui, dengan menggowes odong-odong sebanyak 13 rit terus menerus, dia sangat kelelahan. Namun dengan uang besar yang diperolehnya, lelah tersebut hilang. “Ya, saya anggap olahragalah, daripada sepi hanya diam saja gak dapat duit,” katanya. (Encang Zaenal M/Syamsul Maarif/HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles