Raskin Kualitas Buruk Ditemukan, Bulog Ciamis Siap Mengganti

04/07/2013 0 Comments
Raskin Kualitas Buruk Ditemukan, Bulog Ciamis Siap Mengganti

Seorang warga Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, tengah memperlihatkan buruknya kualitas raskin yang mereka terima, Sabtu (29/6). Foto: Heri Herdianto/HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Menyusul ditemukannya Beras Miskin (Raskin) yang berkualitas buruk, di Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, pihak Bulog Ciamis meminta kepada masyarakat untuk segera melaporkan apabila menerima beras raskin yang kualitasnya buruk.

Bagian Humas Bulog Sub Divre Ciamis, Riko, mengatakan, permasalahan beras raskin masih menjadi masalah klasik, terutama menyangkut pembagian, kuantitas dan kualitas raskin. Apabila  distribusi raskin belum optimal atau ditemukan beras yang tidak sesuai dengan jenis yang seharusnya, maka masyarakat dapat melaporkan ke unit pengaduan Bulog yang sudah disebar di desa-desa distributor.

Riko memastikan, Bulog akan menerima pengaduan 24 jam dan siap menukarkan beras tersebut. “Kalau itu ada komplain segera di tukar. Jadi jangan disimpan, langsung saja kasih tahu, pasti kami ganti,” ungkapnya.

Riko juga mengatakan, mengenai data penerima telah dikoordinasikan dengan Badan Pusat Statistik. Sementara terkait pengurangan pendistribusian beras raskin bulan ini itu bukan tanggung jawab pihak bulog, karena pihak bulog hanya sebagai pendistribusi ke masyarakat. “Untuk jumlah dan banyaknya pendistribusian beras raskin itu menginduk dari data yang diterima  bulog dari BPS pusat,” katanya.

Riko menuturkan,  kebijakan umum yang mengatur pelaksanaan Program Raskin dapat dibaca dalam Pedoman Umum (Pedum) Raskin yang diterbitkan setiap tahunnya.
Pertanyaan dan pengaduan mengenai Program Raskin dapat disampaikan baik oleh anggota masyarakat maupun Pemerintah Daerah.

Sebelumnya, Beras Raskin (Beras Miskin) kualitas buruk yang tidak layak dikonsumsi kembali ditemukan di Kabupaten Ciamis. Kali ini warga Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis mengeluhkan buruknya kualitas beras raskin yang mereka terima, Sabtu (29/6).

Pasalnya, kondisi beras raskin tersebut berkutu, berpasir dan bau apek. Bahkan tidak hanya itu, beras raskin yang mereka terima pun terjadi penyusutan takaran.

Kondisi itu sebenarnya sudah diketahui warga ketika beras raskin tersebut didistribusikan pada Jumat (28/6) sore. Namun, mereka takut melapor. Sebab, mereka sadar bahwa beras itu dibeli dengan harga yang sangat murah, yakni Rp 2.000/kg.

“Kok berasnya jelek begini. Beras raskin ini bau apek dan banyak kutu,” kata Titi, Wakil Ketua  RT 03/ RW 01 Dusun Pasir Peuteuy Desa Pawindan Kecamatan Ciamis, Sabtu (29/6).

Menurut Titi, buruknya kualitas beras raskin itu disadarinya ketika dia melihat ada kutu pada salah satu karung, begitu kiriman raskin diterimanya. Penasaran, dia kemudian melakukan pemeriksaan terhadap karung-karung raskin lainnya.

Hasilnya cukup mencengangkan. Beras pada karung-karung lainnya pun kondisinya sama, yakni berkutu dan bau apek serta warnanya pun sudah agak kekuningan. Meski demikian, dia tidak berani melaporkan kondisi beras tersebut.

Tati juga menyebutkan, selain kualitas beras sangat buruk, timbangan jatah raskin per karungnya yang diterima untuk didistribusikan ke warga pun berkurang dari seharusnya. Penyusutannya mencapai 1 kg lebih dari kemasan 15 kilogram per karungnya.

“Jatah raskin untuk saat ini juga dikurangi. Dulu untuk satu RT itu mencapai 11 karung. Namun saat ini hanya dikirim 9 karung. Padahal warga yang membutuhkan beras raskin ini cukup banyak,” katanya.

Sementara itu, Aparat Desa Pawindan Kecamatan Ciamis, T. Sutarman mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan dengan kondisi beras raskin tersebut. Karena dengan kualitas beras yang berkutu, kotor dan bau kemudian banyak terdapat padi yang belum terkelupas, ditakutkan bila dikonsumsi warga bisa menimbulkan penyakit.

Sutarman  juga  tidak memungkiri kasus buruknya kualitas raskin diterima warga di lingkungan desanya kembali terjadi. Apalagi biasanya, pengecekan kualitas beras tidak dilakukan pada setiap karung, melainkan hanya beberapa karung beras sebagai sampel.

Sementara terkait berkurangnya pasokan beras raskin ke desa-nya, Sutarman mengaku pihaknya tidak tahu menahu. Karena data kuota permintaan yang dikirimkan ke Bulog sama dengan jumlah data yang diajukan tahun-tahun sebelumnya.

“Mungkin karena alasan perekonomian warga Pawindan mulai meningkat, sehingga jatah Raskin untuk desa kami di kurangi. Tetapi melihat banyak keluhan dari warga, kita dari aparat desa akan melaporakan adanya kukurangan kiriman ini, termasuk akan melaporkan terkait buruknya kualitas raskin yang kita terima,” ungkapnya. (Heri/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!