Busyet! Untuk Dapat Air Bersih, Warga Kalipucang Harus Nyebrang ke Cilacap

14/09/2013 0 Comments
Busyet! Untuk Dapat Air Bersih, Warga Kalipucang Harus Nyebrang ke Cilacap

Warga Dusun Majingklak, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, saat mengantri ketika membeli air bersih. Kondisi tersebut terjadi menyusul musim kemarau yang sudah berlangsung sekitar 2 bulan ini. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Kalipucang, (harapanrakyat.com),-

Sejumlah warga di dua desa di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, yakni Desa Bagolo dan Desa Pamotan, saat ini kesulitan mendapat air bersih. Hal itu menyusul musim kemarau yang sudah berlangsung selama hampir 2 bulan ini.

Kondisi kekeringan terparah dialami warga Desa Bagolo. Karena untuk mendapatkan air bersih, warga di sana harus rela menyebrang menggunakan perahu ke daerah Segara Anakan, yakni ke daerah hutan pulau Nusakambangan Kabupaten Cilacap atau dengan jarak sekitar 11 Km.

Kepala Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Rahmat, mengatakan, 2 dusun di wilayahnya saat ini dilanda kekeringan, sehingga warga kesulitan mendapat air bersih. 2 dusun tersebut, yakni Dusun Karangsempu dan Dusun Sukasirna.

“Sedikitnya  600 KK di 2 dusun tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. Adapun sumur bor bantuan pemerintah, sudah tidak bisa digunakan karena sama mengalami kekeringan,” ujarnya, kepada HR, Kamis (12/9).

Menurut Rahmat, akibat dilanda kekeringan, warga harus bersusah payah mengambil air bersih dengan menyebrang ke kawasan Segara Anakan, yakni ke daerah hutan pulau Nusakambangan.

Kondisi tersebut dibenarkan Watman (64), warga Dusun Sukarsirna, Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang. Menurutnya, setiap  selesai beraktifitas, dia selalu mengambil air  bersih ke daerah Segara Anakan Kabupaten Cilacap dengan mengunakan perahu.“Setiap sore, saya bersama dua anak laki-laki mengambil air bersih ke Segara Anakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi dan MCK, “ imbuhnya.

Sementara itu, di Dusun Majingklak, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, ratusan warga mengalami hal yang sama. Bahkan, warga di Majingklak untuk mendapat air bersih harus membeli dengan harga Rp. 3000 per satu derigen.

“Jangankan musim kemarau seperti saat ini, di saat musim penghujan pun warga kesulitan air bersih. Pasalnya, seluruh sumber air di sini sudah tercampur air laut sehingga terasa asin. Karenanya, kita meminta pihak pemerintah untuk membantu kesulitan warga di sini dalam hal air bersih,” katanya. (Ntang/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply