(Kesurupan Massal) Bangunan SMKN 2 Banjar Dulunya Tempat Pemakaman Umum

28/09/2013 0 Comments
(Kesurupan Massal) Bangunan SMKN 2 Banjar Dulunya Tempat Pemakaman Umum

Seorang siswa tampak tengah menangis histeris dan mengamuk kesurupan setelah untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut di SMK Negeri 2 Banjar terjadi kesurupan massal. Foto: Pepep Riswanto Akbar/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Menyusul terjadinya kesurupan massal di SMK Negeri 2 Banjar yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dan melibatkan puluhan siswa, Kamis-Jum’at (26-27/9), kini muncul cerita berbau mistis yang menjadi perbincangan hangat di lingkungan warga sekitar sekolah, tepatnya di daerah Cipadung Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Menurut warga setempat, Roni, terjadi kesurupan massal yang berlangsung selama 2 hari berturut-turut dan melibatkan puluhan siswa yang menjadi korban, di SMK Negeri 2 Banjar, tidak membuat warga setempat kaget. Pasalnya, sebelum bangunan sekolah tersebut berdiri pada sekitar tahun 2009, tempat tersebut memang terbilang angker.

“Bangunan sekolah ini dulunya adalah tempat pemakaman umum (TPU). Di tambah di areal sekolah ini ada sumber air yang berada di bawah tanah dan sebagai tempat aliran air tanah atau kata istilah orang sunda disebut tempat “liliwatan cai”,” katanya, kepada HR, Jum’at (27/9).

“Tempat “liliwatan cai” bawah tanah ini yang biasanya dijadikan jalan atau tempat kesukaan makhluk halus untuk menetap,” ujarnya menambahkan.

Roni juga mengungkapkan, sebagaimana saran dari sesepuh setempat, sebaiknya pihak sekolah secepatnya melakukan upaya dengan meminta bantuan kepada sejumlah Kiyai untuk memindahkan mahluk halus tersebut dari areal sekolah.” Itu sebagai upaya saja agar kejadian kesurupan massal tidak terjadi kembali,” pungkasnya.

Sebelumnya, kesurupan massal terjadi kembali di SMK Negeri 2 Banjar, Jumat (27/9), sekitar pukul 9 WIB, setelah sebelumnya, Kamis (26/6), kejadian serupa terjadi dan membuat 18 siswa mengamuk dan tak sadarkan diri. Korban kesurupan kali ini bertambah menjadi 30 siswa/siswi dan membuat proses belajar mengajar di sekolah tersebut terganggu. (PRA/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply