Menelisik Cerita Mistis Hutan Pulomajeti Banjar

20/09/2013 0 Comments
Menelisik Cerita Mistis Hutan Pulomajeti Banjar

Seekor lutung berhasil ditangkap Yoyo, warga Siluman Baru, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Senin (9/9). Tertangkapnya lutung tersebut kini menyisakan cerita mistis yang menjadi wacana di warga setempat. Foto: Pepep Riswanto Akbar/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Warga kampung Siluman Baru, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, pekan lalu, dikagetkan dengan munculnya seekor lutung yang kerap ditemukan berkeliaran di areal persawahan warga. Sebagian  warga pun tak sedikit yang mempercayai bahwa hewan primata monyet yang memiliki bulu berwarna hitam legam dan memiliki ekor itu adalah jelmaan dari siluman atau mahluk halus yang turun dari hutan Pulomajeti.

Memang, hutan Pulomajeti menyimpan segudang cerita mistis. Hutan ini selalu dikait-kaitkan dengan cerita keberadaan Onom atau mahluk halus yang konon sebagai penunggu hutan tersebut. Wartawan HR Pepep Riswanto Akbar dan Eva Lativah, mencoba menelisik cerita mengenai Pulomajeti ini, dengan menyambangi daerah yang terbilang ‘angker’, di Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Petilasan Pulomajeti yang terletak di wilayah Lingkungan Siluman Baru, Kel/Kec. Purwaharja, Kota Banjar, merupakan bangunan semacam makam dengan tiga undakan. Pada puncaknya terdapat dua pasang nisan berbentuk persegi panjang setinggi 60 cm.

Menurut legenda, Pulomejeti adalah suatu kerajaan yang diperintah oleh Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom. Legenda setempat menceritakan bahwa Prabu Selang Kuning memerintah kerajaan dengan sebuah cincin bertuah.

Untuk meneruskan pemerintahan, dia mewariskan cincin tersebut kepada anaknya. Konon cincin itu adalah cincin Ampal Fatullah yang terakhir dimiliki oleh Syech Syarif Hidayatullah.

Sebutan Onom, siluman dan Pulomajeti di daerah Purwaharja ini selalu dikaitkan dengan kisah mistik, kesan angker dan menyeramkan. Bagi sebagian warga Ciamis, maupun Banjar, cerita soal Onom dan Pulomajeti adalah bagian dari sejarah daerah mereka. Maka tidak heran cerita soal Onom diwariskan secara turun temurun dan sering terangkat ke permukaan.

Onom dipercaya sebagai mahluk halus/siluman, yang tidak saja dapat dipanggil jika diperlukan, tetapi juga mampu memberikan bantuan dan sumber kekuatan bagi yang memanggilnya.

Konon, bila warga yang suatu saat mendapatkan kesulitan atau marabahaya, Onom akan tiba seketika asal dipanggil, sehingga yang bersangkutan akan terhindar dari marabahaya yang sedang mengancamnya.

Sisa-sisa kepercayaan terhadap Onom kini masih berkembang di sebagian kecil masyarakat, terutama yang tinggal sekitar pusat kekuatan Onom, yakni Pulomajeti. Juru Kunci Polo Majeti, Abah Pirno (78), mengatakan, orang yang datang ke tempat ini tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang sompral/seenaknya.

“Pulo Majeti dulunya berada di tengah-tengah Rawa Onom dan disinyalir sebagai pusatnya kerajaan Onom. Onom merupakan pasukan balatentara dari Kerajaan Medang yang ditaklukkan balatentara Kerajaan Galuh. Karena kecewa atas kekalahan itu, Raja Medang berikut pengikutnya “tilem” (menghilang-Red) di Pulomajeti,” tutur Abah Pirno, kepada HR, Kamis (12/9).

Lanjutnya, yang tilem di Pulomajeti adalah Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom, Ibu Ratu Gandawati Ingkanggarwa, Raden Patih Kalintu Undara Pamerat Jagat, Raden Jaksa Jagabuana, Raden Wedana Langlangbuana, Kiai Bagus Tol Malbaeni dan Kiai Bagus Mantereng.

Sedangkan pengikutnya terdiri Mas Bugel, Mas Bedegel, Mas Rimpung dan Mas Jemblung. Namun sebelum “tilem”, mereka berjanji akan mengirimkan upeti setiap tahun sesuai permintaan Raja Galuh.

Pemimpin kerajaan Medang, kemudian dipercayakan kepada Prabu Anom, yang ditugaskan dari Kerajaan Galuh. Akan tetapi Prabu Anom dalam menjalankan tampuk kepemimpinannya bertindak semena-semena. Hingga nama Kerajaan Medang berganti nama menjadi Kerajaan Onom.

“Sejak dulu Pulomajeti ini dikeramatkan. Hingga sekarang masih banyak orang yang berdatangan hanya untuk berdoa, minta dimudahkan rizkinya. Banyak juga orang yang mempercayai bahwa Pulomajeti ini tempat pemujaan. Melalui keramat ini yang di Atas akan memberikan pitulung,” katanya.

Menurut Abah Pirno, orang-orang yang datang berasal dari luar Kota Banjar. Mereka sengaja menginap di keramat tersebut untuk bertapa. Sebab, mereka mempercayai bahwa lewat “tatapa” di Pulo Majeti maka rejeki akan mudah didapat.

“Tempat ini sebetulnya bukan untuk mendatangkan uang dengan cara yang aneh-aneh, misalanya tiba-tiba datang uang dari keramat, tetapi dari usaha yang dijalankannya,” ujar Abah Pirno.

Dia juga mengatakan, konon cerita dari nenek moyang, bahwa suatu saat ibu kota Indonesia ada di Pulo Majeti, dan suatu saat pula di Pulo Majeti akan terdapat harta karun yang tidak ternilai harganya. Kata-kata tersebut terucap turun-temurun dari nenek moyang juru kunci di Pulo Majeti.

Sementara itu, mengenai munculnya seekor lutung yang kerap ditemukan berkeliaran di areal pesawahan warga beberapa waktu lalu, bukan lutung kajajaden/siluman dari Pulomajeti.

Pasalnya, semenjak dirinya menjaga dan melestarikan hutan di tempat tersebut, baru kali ini ditemukan ada lutung berkeliaran. Abah Pirno menambahkan, di kawasan hutan Pulo Majeti hanya terdapat pepohonan besar dan sejumlah tempat keramat. *** (Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply