Anak SLB Ini Masih Bisa Cari Uang di Alun-alun Langensari

17/10/2013 0 Comments
Anak SLB Ini Masih Bisa Cari Uang di Alun-alun Langensari

Yadi Setiadi (22), tampak sedang menawarkan barang dagangannya berupa buku gambar kepada pengunjung taman Alun-alun Langensari. Foto: Eva Lativah/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Walaupun memiliki kondisi fisik yang tidak sempurna, namun bukan suatu halangan bagi Yadi Setiadi (22) untuk melakukan aktifitas. Setiap sore, siswa SD SLB Putera Pasundan II Langensari, Kota Banjar, yang kini masih duduk di bangku kelas 1 itu, pergi ke taman Alun-alun Langensari guna menjajakan barang dagangannya berupa buku gambar untuk anak TK dan PAUD.

Saat dijumpai HR, Sabtu (5/10), Yadi tampak tengah menawarkan barang dagangannya kepada para pengunjung taman Alun-alun. Meski belum terlihat ada satu pun yang membeli, namun hal itu tidak menjadikan dirinya putus asa.

Dia terus saja berusaha mencari pengunjung yang berminat membeli buku gambar. Sesekali dia duduk sendiri sambil melihat-lihat barang dagangannya yang disimpan pada sebuah kantong kecil berwarna oranye dari bahan kain perca.

Di sela-sela istirahatnya, Yadi menuturkan kepada HR seputar aktifitasnya sehari-hari. Meski terlihat sulit saat berbicara, tetapi setiap kata yang diucapkannya dapat dimengerti.

Yadi bersama orang tuanya tinggal di Dusun Sukanegara, Desa Waringinsari, Kec. Langensari. Dirinya mengaku bisa berjalan diusia 9 tahun, dan baru masuk sekolah tahun ini saat usianya sudah menginjak 22 tahun.

Walaupun begitu, Yadi tidak merasa malu, tapi justru senang karena bisa belajar banyak hal di sekolah. Kondisi fisiknya memang tak sempurna, namun dia memiliki semangat yang tinggi untuk belajar maupun berdagang.

Setiap hari Yadi rela jalan kaki menuju ke sekolah. Waktu yang ditempuh dari rumahnya ke sekolah sekitar 2 jam. Maklum saja, selain susah berbicara, dia juga mengalami kesulitan dalam berjalan. Di sekolahnya dia masuk di kelas berkebutuhan khusus kategori CP.

“Setiap pagi saya berangkat dari rumah jam 6, dan sampai ke sekolah jam 8. Tapi saya senang bisa sekolah. Kalau dagang biasanya dari jam 3 sore sampai jam 8 malam. Hasil jualan dipakai buat jajan di sekolah,” tutur Yadi yang mengaku barang dagangan dibelinya dari toko buku.

Sedangkan uang untuk modalnya adalah hasil kukumpul dari uang jajan yang dikasih orang tuanya. “Saya mulai dagang awal puasa kemarin. Waktu itu jualan layangan. Kalau sekarang jualan buku gambar. Tapi hari ini dagangan sepi karena sekarang ada saingan,” ujarnya.

Menurut Yadi, ketidaksempurnaan fisik jangan dijadikan alasan untuk selalu bergantung pada bantuan orang lain. Namun, kekurangan itu justru harus menjadi penyemangat dalam menjalani kehidupan, sehingga keberadannya tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.

“Keadaannya fisik saya memang tidak normal, tapi tidak merasa malu buat terus bersekolah dan dagang. Belum tentu orang sehat mau melakukannya,” kata Yadi, di akhir perbincangannya dengan HR. (Eva/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply