Bertemu Pemkab Pangandaran, 4 Desa di Padaherang Sepakat Tolak Pabrik Semen

30/10/2013 0 Comments
Bertemu Pemkab Pangandaran, 4 Desa di Padaherang Sepakat Tolak Pabrik Semen

Lahan yang rencananya akan dijadikan tempat penambangan bahan baku semen di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Parigi, (harapanrakyat.com),-

Kepala Desa Karangmulya, Kecamatan Padaherang, Nartha Sugiarta, S.IP, mengatakan, pihaknya bersama warga tetap akan menolak rencana penambangan bahan baku semen dan pendirian pabrik semen di daerahnya. Pasalnya, lahan yang direncanakan sebagai tempat penambangan bahan baku semen sangat dekat dengan perumahan warga.

“Apalagi areal itu merupakan lahan produktif perkebunan serta menjadi resapan air, sehingga ketiga desa sangat bergantung pada lahan tersebut,” ujarnya, saat menggelar pertemuan dengan Pemkab Pangandaran, di Aula Setda Pangandaran, Senin (28/10).

Pertemuan itu merupakan tindaklanjut dari surat yang dilayangkan Kepala Desa Karangmulya nomer: 540/104-DS/2013 tanggal 27 September 2013 terkait penolakan masyarakat tentang rencana pembangunan pabrik semen. Ditambah maraknya unjuk rasa yang dilakukan warga terkait penolakan tersebut yang berlangsung akhir-akhir ini.

Menurut Narta, berdasarkan pengalaman, janji pengusaha terkadang tidak sepenuhnya direalisasikan, sehingga lingkungan dan warga hanya mendapat penderitaan saja dari dampak pencemaran pabrik semen tersebut. Sementara pengusaha dipastikan hanya mementingkan keuntungannya saja.

“Bukan berarti kami menolak investor masuk, tetapi menolak pembangunan pabrik semen dan penambangan bahan bakunya. Intinya, tidak ingin desa kami dijadikan desa industri, yang kami inginkan desa kami sebagai desa yang berbasiskan pertanian dan parawisata,” jelas Nartha.

Hal senada juga dikatakan Sekdes Desa Kedungwuluh, Asep Setiawan. Dia mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat tertanggal 18 September 2013 yang ditujukan ke Bupati Ciamis melalui BPPT Ciamis dan ditembuskan ke Pj. Bupati Pangandaran serta Camat Padaherang yang isinya menolak rencana penambangan tersebut.

“Setelah itu disusul oleh Desa Karangmulya yang sama menyampaikan surat penolakan.  Bagi kami sudah harga mati tidak mau lagi membahas yang berkaitan dengan pendirian dan penambangan bahan baku semen di Kecamatan Padaherang, terutama di desa kami,” tegas Asep.

Penolakan sama pun diutarakan oleh perwakilan Desa Pasirgeulis dan Desa Karangsari. Sementara Desa Karangsari yang sempat mengadakan pertemuan dengan pihak investor, namun saat itu belum menyatakan setuju dan tidak setuju terhadap pendirian pabrik semen tersebut. Hanya, setelah dikaji, masyarakat Desa Karangsari pun akhirnya ikut menolak.

Sementara itu, Plt Sekda Pangandaran, Mahmud, SH, MH, mengatakan, kalau sudah menjadi kesepakatan warga bahwa menolak pendirian pabrik semen tersebut, maka pihaknya mengikuti saja terhadap aspirasi yang berkembang. “ Kita hanya sebatas memfasilitasi saja. Kalau aspirasi warga menolak, ya tidak perlu dipaksakan,” ujarnya, saat bertemu dengan perwakilan 2 desa tersebut.

Desa Karangmulya Pernah Studi Banding

Sementara itu, Kepala Desa Karangmulya, Nartha juga menjelaskan, sebelum warga Desa Karangmulya memutuskan menolak rencana penambangan tersebut, pihaknya bersama BPD serta mengajak beberapa perwakilan warga melakukan studi banding ke beberapa daerah yang terdapat penambangan bahan baku semen dan pabrik semen.

“Studi banding itu dilakukan ke Cilacap, Cibinong dan Palimanan. Kita di sana menanyakan langsung kepada warga yang berada di lokasi penambangan dan pabrik semen. Yang kita tanyakan tentunya mengenai dampak postif dan negatif setelah ada pabrik semen di tempat itu,” terangnya.

Hasilnya, lanjut Nartha, ternyata dampak negatif yang lebih dominan dibanding dampak positifnya, terutama mengenai pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari penambangan dan keberadaan pabrik semen tersebut. “ Banyak warga di sana mengeluh setelah berdirinya pabrik semen. Karena terjadi pencemaran lingkungan yang membuat warga tidak nyaman, “ imbuhnya.

Nartha menambahkan, kalau di Cilacap memang ada perbedaan dengan daerah lainnya dan cenderung tidak begitu mencemari lingkungan warga sekitar. Karena posisi penambangan bahan baku semennya, berada di pulau Nusakambangan yang tidak berpenduduk.

“Kalau di Karangmulya, jarak lokasi yang direncanakan sebagai tempat penambangan posisinya sekitar 100 meter dari daerah permukiman warga. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi jika penambangan semen itu terwujud? Makanya, penolakan warga ini bukan tanpa dasar, tetapi sudah melalui kajian dan pertimbangan matang, “ jelasnya.

Nartha juga meminta jangan ada pihak yang memaksakan dengan berbagai cara agar penambangan dan pendirian pabrik semen ini bisa terwujud.” Aspirasi masyarakat tolong didengar. Kita khawatir muncul konflik apabila ini terus dipaksakan. Kita ingin kampung kami kondusif tidak ada pertentangan,” pungkasnya. (Mad/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply