Buku Kuno Ini Diduga Ada Kaitannya Dengan Sejarah Pangandaran

27/10/2013 0 Comments
Buku Kuno Ini Diduga Ada Kaitannya Dengan Sejarah Pangandaran

Buku kuno setebal 200 halaman yang diperkirakan berusia ratusan tahun yang lalu, kini masih terawat dan disimpan oleh Ceceng (55), seorang Juru Kunci Keramat Jambu Handap Karang Tanjungsari, di Dusun Bojong, Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Ceceng (55), seorang Juru Kunci Keramat Jambu Handap Karang Tanjungsari, di Dusun Bojong, Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, ternyata menyimpan dan merawat sebuah buku kuno setebal 200 halaman yang diperkirakan berusia ratusan tahun yang lalu.

Tempat keramat itu dikenal sebagai tempat “pangsarean” atau peristirahatan seorang pendekar di zaman kerajaan waktu lampau. Pendekar itu diketahui bernama Mbah Sabda Jaya (Gedeng Mataram), Mbah Sangu Pati, dan Mbah Suta Pati. Sementara buku kuno itu belum bisa diterjemahkan isinya. Sebab, tulisan di buku tersebut mirip huruf Pallawa (tulisan India) yang masih sulit dimengerti.

Buku kuno ini pun tak pelak menjadi perbincangan di masyarakat setempat. Bahkan, tak sedikit orang penasaran ingin meneterjemahkan dan menelaah isi di buku tersebut. Sebagian orang  pun menduga bahwa buku tersebut mengisahkan seluk-beluk sejarah Pangandaran pada masa lampau atau sekitaran pada masa peradaban kerajaan.

“Ya benar banyak orang menduga bahwa buku ini ada kaitannya dengan  kondisi Pangandaran pada masa lampau,” kata Ceceng, kepada HR, belum lama ini.

Ceceng menjelaskan, buku kuno miliknya merupakan karya tulisan Mbah Sabda Jaya (Gedeng Mataram), Mbah Sangu Pati, dan Mbah Suta Pati. Buku kuno itu pun, belum sempat diterjemahkan, karena tidak tahu mesti kemana dan kepada siapa buku itu dibedah. “Dari dulu, buku titinggal karuhun hanya dirawat dan dipupusti saja. Karena saya tidak tahu mesti kemana dan kepada siapa buku ini harus diterjemahkan,” paparnya.

Plt Kepala  Disdikbudpora Kab. Pangandaran Dr. H. Nana Ruhena, M.Pd, didampingi Kasi Seni Budaya Disdikbudpora Kab. Pangandaran Aceng Hasim, M.Pd, mengungkapkan, tulisan yang tertera pada buku kuno itu diyakini berbentuk wawacan (pupuh). Keyakinan itu muncul, melihat dari jumlah baris pada setiap tulisan yang sebangun dengan “wangun pupuh”.

Nana mengatakan, tulisan masa lalu perlu dibedah agar bisa diketahui isinya. Bisa saja isinya berupa sejarah, ilmu pengetahuan, ilmu sosial, keagamaan, bahkan cerita fiksi.

“Kami sangat berkepentingan dengan isi buku atau tulisan kuno. Karena tulisan itu bisa dijadikan referensi untuk mengkaji berbagai ilmu pengetahuan dalam kondisi saat ini,” kata Nana. (Ntang/R2/HR-Online)

 

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply