“Diheureuyan” Jurig, Alasan 6 Pelajar Ciamis Tersesat di Gunung Sawal

23/10/2013 0 Comments
“Diheureuyan” Jurig, Alasan 6 Pelajar Ciamis Tersesat di Gunung Sawal

Lima dari enam pelajar SMK dan SMP asal Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis yang sempat tersesat di hutan Gunung Sawal. Foto: Dian Sholeh Wardiana/HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Entah karena mabuk setelah meminum perasan air daun kecubung, enam pelajar SMK dan SMP di Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Minggu (20/10), tersesat di kaki Gunung Sawal saat mereka menggelar kemah dan mendaki gunung dalam mengisi hari libur. Bahkan, dari enam pelajar tersebut, satu diantaranya sempat dinyatakan hilang dan baru ditemukan pada hari Selasa (22/10) sekitar pukul 10. 25 WIB, di kawasan hutan gunung tersebut.

Enam pelajar tersebut diketahui bernama Jimi, Ari, Arif Ripmayadi, Ali Mubarok dan Dian Widiana. Sementara yang sempat dinyatakan hilang bernama Ruli. Dan hingga Selasa (22/10) malam, dia belum sadarkan diri, karena saat ditemukan dalam kondisi lemah.

Saat ditemui HR, di Kantor Desa Werasari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Senin (21/10), lima pelajar yang sempat tersesat itu tampak kelihatan lelah. Jimi (15), saat berbincang dengan HR, mengatakan, saat itu dirinya bersama rekannya mengisi liburan ke kaki Gunung Sawal untuk berkemah. Sesampainya di sana, di sekitar daerah itu, ternyata terdapat pohon yang mirip daun cingcau.

Karena mangaku penasaran dan ingin memeras air dari daun cingcau yang akan dibuat sebagai minuman, dia pun bersama rekannya memetik daun tersebut. Dia mengaku daun tersebut langsung diperas kemudian diambil airnya. Tak selang berapa lama, akhirnya mereka tertidur, karena merasa pusing seperti halnya orang yang sudah mabuk minuman keras.

“Ternyata daun itu bukan cingcau, tapi daun kecubung. Pantas saja kami pusing dan langsung tertidur lelap,” kata Jimi.

Saat di wawancarai HR, kelima pelajar tersebut terlihat seperti orang yang tengah mabuk. Ketika ditanya terkait sebab kenapa mereka bisa tersesat pun, malah menjawab ngelantur dan tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan HR. Sejumlah wartawan dari berbagai media pun dibuat pusing ketika mewawancarai lima pelajar tersebut.

HR mencoba mengalah dan menghentikan wawancara. Mereka mengaku kelelahan dan meminta untuk istirahat. Dua jam kemudian, HR kembali menyapa lima pelajar tersebut. Karena saat itu wajah mereka tampak kembali fresh setelah beristirahat. Perbincangan pun kembali dibuka. Satu pertanyaan yang belum mereka jawab, kembali ditanyakan. Pertanyaan itu terkait sebab mereka tersesat di kaki Gunung Sawal dan hingga bisa kembali pulang.

HR pun sempat kaget, karena yang diceritakan lima pelajar itu terkait pengalamannya bertemu dengan sejumlah mahluk gaib yang menyeramkan di kaki Gunung Sawal. Dan alasan itulah yang membuat mereka kemudian tersesat. HR saat itu belum percaya dengan cerita mereka, karena orang dalam pengaruh mabuk identik berbicara ngelantur dan kerap berhalusinasi.

Melihat HR belum percaya, mereka terus bercerita untuk menyakinkan bahwa apa yang diceritakanya itu benar terjadi dan bukan cerita ilusi. HR pun kembali mengalah dan mendengarkan mereka bercerita.

Lantas Jimi menceritakan pengalamannya. Menurut dia, setelah dia terbangun dari tidur, sekitar pukul 3 dini hari, kemudian bergegas ke luar. Dia pun mengaku terkejut ketika melihat puluhan pemuda tengah berkemah yang posisinya tidak jauh dari tenda yang mereka dirikan.

Jimi juga mengaku dia melihat gelegat aneh dari puluhan pemuda yang tengah berkemah tersebut. Rasa takut pun kemudian muncul. Tanpa memberitahukan kepada teman-temannya yang tengah terlelap tidur di dalam tenda, dia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.

“Saya pulang duluan, pada hari Minggu (20/10) sekitar pukul 3 dini hari. Alhamdulilah saya bisa sampai ke rumah sekitar pukul 7 pagi,” katanya.

Jimi lebih detail bercerita, ketika dirinya bergegas pulang dan berjalan kaki menyusuri hutan, kemudian terdengar dan terlihat  Arif dan Ari temannya, berjalan kaki diantar oleh pemuda yang menyeramkan itu mengikutinya dari belakang. Ketika dia menoleh kebelakang, ternyata kedua temannya itu hanya diantar sampai jembatan Cisadas Desa Gunungsari Kecamatan Sadananya oleh pemuda tersebut.

“Tapi, ketika saya mencoba menghampiri Ari dan Arif ke jembatan tersebut, ternyata mereka tiba-tiba menghilang. Saya pun kaget dan memutuskan untuk lari karena takut,” ujar Jimi.

Sementara Ari dan Arif, mengaku saat pukul 3 dini hari mereka masih tertidur lelap di dalam tenda. Namun, Jimi bersikeras apa yang diceritakannya memang terjadi dan bukan halusinasi.

Tetapi, apa yang dialami Dian (16) yang saat itu berdua dengan Arif, ternyata hampir sama dengan apa yang diceritakan Jimi. Dian pun mengaku bahwa dia melihat puluhan pemuda tengah berkemah yang tidak jauh dari tendanya. Namun, saat itu dia tidak merasa takut, malah senang karena ada orang yang menemani berkemah.

Namun, Dian mengaku dirinya sempat dimarahi oleh beberapa pemuda yang berada di tenda tersebut. Saat itu, sekitar pukul 4 pagi, dia akan mencari sinyal handphone ke luar tenda. Tanpa disengaja, dia mendekat ke tenda yang di huni puluhan pemuda tersebut. Saat terus berjalan kaki mencari sinyal handphone, dia tidak sengaja menyenggol patok tenda milik pemuda tersebut. Ternyata beberapa pemuda dari dalam tenda keluar dan kemudian marah besar.

Karena beberapa pemuda itu seperti mengamuk, Dian yang saat itu ditemani Arif, langsung memutuskan lari karena ketakutan. Mereka kemudian lari ke bawah bukit dan akhirnya sampai ke sebuah curug. Saat berada di curug, mereka melihat seseorang yang tengah mencari ikan.

Keduanya pun langsung menghampiri orang tersebut dan khendak meminta tolong untuk menunjukan jalan agar mereka bisa pulang. Tapi betapa kagetnya, saat mereka menyentuh orang tersebut, ternyata tubuhnya keras, seperti orang yang sudah meninggal. “Beneran saya tidak bohong, cerita ini memang terjadi,” tegas Dian meyakinkan, ketika HR berkata tidak percaya denga cerita mereka.

Lantas HR meminta Dian melanjutkan ceritanya. Menurutnya, setelah ketakutan bertemu dengan sosok manusia aneh, dia bersama Arif langsung lari ke arah perkebunan. Dan di sebuah kebun, keduanya melihat seorang bapak-bapak tengah memotong tanduk kerbau, lalu terlihat bapak itu memakan otak kerbau. “Ketika sudah melewati bapak itu, saya berinisiatif menoleh kebelakang, ternyata bapak itu sudah tidak ada,” katanya dengan raut muka polos.

Karena  takut, lanjut Dian, dirinya pun bersama Arif langsung lari terbirit-birit dan bergegas ke arah persawahan. ” Saat berada di persawahan, saya bertemu dengan seorang petani yang sedang mencangkul. Kemudian petani itu langsung menanyakan kepada saya mengenai asal usul dan alamat rumah,” ujarnya.

Setelah bercerita dengan petani tersebut, kemudian keduanya disuruh duduk dan diberi minum. ” Petani itu mengajak saya berdua ke rumahnya di daerah Cikaronjo. Dan pada Minggu sorenya, petani itu mengantarkan kami pulang ke rumah,” ujar Dian yang diamini Arif.

Sementara itu, Ari (15) dan Ali (16) mengaku pulang ke rumah pada hari Senin (21/10) sekitar pukul 09.30 WIB. Dia juga mengalami peristiwa mistis yang jika dicerna memang sulit diterima nalar sehat.  Menurut Ari, saat bangun tidur, sekitar pukul 9 pagi Minggu (19/10), dia tinggal berdua dengan Ali temannya. Setelah itu akhirnya memutuskan untuk membereskan tenda.

Ari pun menyuruh Ali untuk mencari temannya, karena dia mengira temannya tengah mencari air untuk mandi.  Saat Ali mencari temannya, dia dikejutkan di sekitar hutan yang tidak jauh dari tenda,  melihat manusia kerdil dengan sosok perempuan. ”Sumpah beneran saya melihat perempuan bertubuh kerdil. Manusia kerdil itu sebesar boneka dan wajahnya menyeramkan,” tutur Ali.

Ali pun langsung mengajak Ari untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka pun lantas lari karena ketakutan. Dan saat di perjalanan menyusuri hutan Gunung Sawal, keduanya melihat sebuah perkampungan warga. Tapi, ketika mau sampai di perkampungan tersebut, tiba-tiba rumah yang dari jauh kelihatan langsung mendadak hilang.

“Saya langsung berlari lagi. Tapi anehnya, saya berlari merasa sudah jauh, namun sepertinya putar-puter di tempat eta-eta keneh (berada di tempat itu-itu saja),” tutur Ari.

Karena dia merasa cape, sekitar pukul 6 sore Minggu (20/10), lantas memutuskan untuk tidur di sebuah tebing. Dan kemudian keduanya terbangun keesokan harinya sekitar pukul 6 pagi, Senin (21/10).

Tanpa berpikir panjang, kata Ari, dirinya bersama Ali kembali berjalan mencari jalan pulang. Saat itu, dia mencoba menyisir Sungai Cileueur. Tanpa disengaja, mereka bertemu dengan seorang petani sedang mencangkul di sawah di sekitaran daerah Batumalang Nasol Kecamatan Cikoneng.

“Alhamdulilah, si bapak petani eta lain jurig, tapi jalmi (si bapak itu bukan hantu, tapi manusia). Kami berdua pun kemudian diantarkan ke rumah,” katanya sembari berseloroh.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Ciamis Kompol Sutisna, mengatakan, keenam pelajar tersebut saat itu tengah berkemah di kaki Gunung Sawal untuk mengisi liburan. Mereka berangkat ke Gunung Sawal pada hari Sabtu (19/10) sekitar pukul 17.00 WIB. Dan sesampainya di lokasi, mereka langsung mendirikan tenda.

“Setelah menjelang malam, menurut pengakuan mereka, pelajar tersebut meminum perasan air daun kecubung, hingga akhirnya sampai tertidur,” katanya, kepada HR, Senin (21/10). (DSW/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply