Lagi, 1.857 Warga Kedungwuluh Padaherang Tolak Pabrik Semen

31/10/2013 0 Comments
Lagi, 1.857 Warga Kedungwuluh Padaherang Tolak Pabrik Semen

Lahan yang rencananya akan dijadikan tempat penambangan bahan baku semen di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Padaherang, (harapanrakyat.com),-

Aksi penolakan pembangunan pabrik semen yang digagas PT Chem One di Kec. Padaherang, Kab. Pangandaran, terus menuai penolakan. Setelah aksi Demo yang dilakukan warga Desa Karangmulya, dengan menutup akses jalan raya Padaherang-Pangandaran, beberapa waktu lalu. Kini, giliran desa tetangganya, Desa Kedungwuluh, Kec. Padaherang, melakukan aksi penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen di wilayahnya.

Meski aksi warga Desa Kedungwuluh tidak seperti warga Desa Karangmulya, dengan menutup akses jalan utama. Tetapi, mereka kini telah berhasil menggalang tanda tangan warga hingga mencapai 1.857 orang.

Menurut Supardi, tokoh pemuda Desa Kedungwuluh, mengatakan, tanda tangan penolakan yang dilakukan warganya telah mencapai lebih dari setengah jumlah penduduk desanya.
“Jumlah penduduk yang telah memiliki hak pilih mencapai 2600 orang. Sementara jumlah penduduk desa mencapai 3000 orang. Jadi penolakan telah mencapai setengahnya lebih,” jelasnya, Jum’at (25/10).

Supardi yang dikenal dengan julukan Si Bolang ini, merupakan aktivis Lingkungan di Desanya.
Pria berperawakan kecil ini, telah 8 tahun lalu menekuni budidaya pembibitan tanaman kehutanan. Tidak hanya itu, Si Bolang ini juga yang telah menghijaukan daerah perbukitan di daerahnya.
Ada delapan daerah perbukitan di desanya, semuanya terbagi delapan blok, sebutan oleh warga setempat.

Pertama, Blok Binuang, blok bulu bandung, blok legok nangka, blok kalimati, blok kadu bera, blok munggang pare, blok guha dan terakhir blok banyu metu.

Menurut Supardi, ke delapan blok tersebut kelak bakal berubah menjadi daerah penambangan bahan baku semen. Yang menjadi kekhawatiran Supardi ini adalah, nanti wilayah desanya, bahkan desa lainnya di wilayah Kec. Padaherang bakal kehilangan daerah resapan air.
“Daerah perbukitan itu mempunyai sumber mata air bagi warga Kec. Padaherang. Bukan hanya untuk desa kedungwuluh saja. Bahkan, sumber air PDAM pun mengambil dari daerah perbukitan itu,” paparnya pada HR.

Selain aktivis Lingkungan di Desanya, Supardi juga dikenal getol mensosialisasikan potensi Agriwisata di desanya.

“Ketika Pangandaran telah resmi menjadi daerah otonom baru, saya langsung meminta kepada Bapak Pj. Bupati, untuk menetapkan desa kedungwuluh sebagai desa Agriwisata. Dan beliau setuju, malah ikut dengan saya naik ke atas perbukitan ke blok guha,” tandasnya.
Tapi, hal itu sangat membingungkan Supardi, yang mana bapak Pj. Bupati pun seolah berkenan dengan rencana pembangunan pabrik semen.

“Kalau ternyata benar Pj. Bupati berkenan dengan rencana tersebut, kami akan memintanya untuk menolaknya. Bila perlu kami akan melakukan aksi ke kantor Pj. Bupati,”tegasnya, di amini sejumlah rekan lainnya.

Supardi mengingatkan, pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dengan mengeksploitasi melalui pertambangan, tidak akan membuat warga Padaherang sejahtera. Tetapi, akan menciptakan kerusakan lingkungan, dan menjadikan warganya menjadi buruh di kampung halamannya sendiri.

“Memang hasil pengelolaan SDA dengan cara bercocok tanam atau menanam pohon, tidak memberikan pendapatan yang signifikan. Tapi, itu bila diolahnya tidak mengikuti cara bercocok tanam modern yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Bila dilakukan dengan pola yang tepat, lanjut Supardi, bercocok tanam ataupun berternak akan menghasilkan pendapatan yang signifikan.

“Yang lebih terpenting adalah, pengelolaan SDA dengan tidak dilakukan penambangan, akan dapat terbaharukan. Mana ada bukit di bongkar dan ditambang bisa tumbuh lagi,”tanya dengan nada sengit.

Akan tetapi, bila warga memanfaatkan hasil kayu dari daerah perbukitan tersebut, maka mereka bisa menanam kembali. Tentunya, dengan penebangan yang teratur, agar stok air dari daerah perbukitan bisa terjaga.

Tapi, lanjut Supardi, bila daerah perbukitan itu ditambang habis, maka akan hilanglah kayu dan sumber air bagi masyarakat.

“Maka itulah kami menolak rencana pembangunan pabrik semen, yang akan menjadikan desa Kedungwuluh sebagai daerah pertambangan bahan baku semen,” tegasnya. (SBH/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!