Pemecah Batu, Nenek Ini Hanya Dapat Upah Rp 17.500 Per Hari

22/10/2013 0 Comments
Pemecah Batu, Nenek Ini Hanya Dapat Upah Rp 17.500 Per Hari

Mak Rukiyah, wanita tua pemecah batu dari Pamarican. Dia rela bekerja dari pagi hingga sore untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Foto: Andri S Hamara/HR

Pamarican, (harapanrakyat.com),-

Di bilangan Dusun, Desa Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, beberapa perempuan paruh baya hampir renta bergulat dengan palu serta setumpuk batu kali. Sesekali terdengar dengusan nafas lelah berpijar, diantara tumpukan batu-batu kecil hasil ketukan palu.

Para perempuan paruh baya tersebut bekerja sejak pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore. Seember atau sebakul pecahan batu kali dihargai Rp 1.750,-. Karena usia telah merambat jauh, para perempuan lansia itu hanya bisa menghasilkan antara 8-10 bakul. Jika dihitung sepuluh ember, berarti nenek itu berperpanghasilan Rp. 17.500 per hari.

Tanpa merasa lelah, hal itu mereka kerjakan semuanya nyaris tanpa keluhan. Mereka meyakini, inilah caranya untuk bertahan hidup tanpa meminta belas kasihan sesama.

Memang, musim kemarau bagi tukang pembelah batu ternyata memiliki berkah tersendiri. Para pembelah batu yang rata-rata perempuan berusia lanjut mengaku pesanan batu kali ini lumayan meningkat.

Walaupun keuntungan yang diperoleh para wanita lansia itu dinilai tidak seberapa, yang penting bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini mereka sedikit bernapas lega, karena pesanan batu kerikil meningkat sehingga secara tidak langsung menambah penghasilan.

Aktifitas itulah yang selama ini dilakoni Mak Rukiyah (78), warga Pamarican. Nenek tua itu biasanya hanya mengantongi beberapa ribu saja dalam sehari. Tapi kini, dia bisa memperoleh penghasilan lebih. Selain rezeki bertambah seiring pesanan batu untuk membangun rumah dan kegiatan proyek meningkat, menyusutnya sungai menjadi berkah tersendiri.

Para penambang batu tanpa mengalami kesulitan mengambil batu-batu yang berserakan di pesisir sungai. Setelah dikumpulkan di satu tempat, para pembelah batu lalu memecahkannya dengan palu hingga berubah menjadi kerikil. Biasanya kerikil batu tersebut dipergunakan untuk bahan campuran beton rumah atau pengerasan jalan sebelum diaspal,

Hampir setiap hari, Mak Rukiyah ditemani belasan rekan-rekannya yang rata-rata berusia lanjut membelah kerikil batu di bilangan Pamarican. Kerikil batu seukuran jempol orang dewasa dikumpulkan satu persatu setelah dibelah dengan menggunakan palu besar.

Upah yang mereka peroleh tidak hanya untuk membeli beras dan lauk pauknya. Kini mereka bisa sedikit menyimpan sisa uang yang sewaktu-waktu nanti diperlukan. “Kelebihan ditabung bila sewaktu-waktu kami butuhkan. Biasanya keperluan membeli beras dan sedikit jajan untuk cucu,” tuturnya. (Andri/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!