Pohon Kiara di Situ Leutik Banjar Penolong di Saat Kemarau

02/10/2013 0 Comments
Pohon Kiara di Situ Leutik Banjar Penolong di Saat Kemarau

Akar pohon kiara yang banyak tumbuh di sekitar Situ Leutik di Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar sebagai tempat penyimpan cadangan air dan akan bermanfaat di saat musim kemarau. Foto: Pepep Riswanto Akbar/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Banyaknya pohon besar seperti pohon kiara di sekitar Situ Leutik di Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, tampaknya menjadi penolong bagi warga setempat di saat musim kemarau. Pohon kiara yang mengelilingi areal Situ Leutik itu ternyata berguna sebagai penyimpan cadangan air.

Hal itu dibenarkan oleh Sekretaris Dinas Cipta Karya, Kebersihan, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup (DCKTLH) Kota Banjar  Ir. H. Edi Djatmiko, didampingi Kabid Kebersihan, Pertamanan Asno MP, kepada HR, pekan lalu.

Menurut Edi, manfaat langsung banyaknya pohon besar yang usianya puluhan tahun, selain berguna untuk membentuk keindahan dan kenyamanan, juga memberi manfaat jangka panjang dan bersifat intangible, yaitu pembersih udara yang sangat efektif, pemeliharaan akan kelangsungan persedian air tanah, pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keaneka ragaman hayati).

“Kalau kita perhatikan, tata ruang RTH dan Ruang Terbuka Biru (RTB), dimana fungsi tanaman dan air mempunyai manfaat lebih besar terhadap kehidupan manusia. Contohnya, sumber air di Situ Leutik itu. Meski saat ini musim kemarau, tapi warga sekitar masih bisa mendapatkan air dari resepan pohon-pohon besar, “ terangnya.

Sumber air itu dari pohon kiara, dan beringin (caringin) yang berusia puluhan tahun yang mampu menyimpan air pada musim hujan dan mengeluarkannya pada musim kemarau. Sumber mata air itu menjadi buruan warga untuk kebutuhan air sehari-hari.

Edi juga menghimbau masyarakat sekitar hutan produksi untuk tidak semua lahan ditanami pohon albasia atau sejenisnya yang pada umur 5 tahun sudah ditebang. Seyogianya, ucap Edi Djatmiko, ditanami kayu keras yang berumur panjang seperti kiara, atau caringin. Fungsi itu untuk ketersedian air bila musim kemarau, kira-kira 10 persen dari luas lahan tanaman produksi lebih banyak lebih bagus.

Edi mengatakan, kedepan Situ Leutik akan dijadikan obyek wisata andalan di kota Banjar. Dari sumber air tadi, berarti pemerintah kota perlu menetapkan bahwa bagian dari lahan di atas permukaan air maksimum Situ Leutik ditetapkan sebagai hutan kota. Dimana hutan kota akan memberikan kesediaan air lebih banyak pada musim kemarau, dan suplai oksigen yang lebih baik terhadap lingkungan hidup.

Menurut Edi, dengan pola dipersivikasi tanaman, komposisi yang lebih banyak dan lebih diutamakan yaitu jenis pohon yang bisa menyimpan air lebih banyak, serta tidak ditumpangsari dengan tanaman-tanaman semusim yang berdampak terhadap eksploitasi terhadap lahan-lahan tersebut. Serta memperbanyak tanaman-tanaman langka sebagai fungsi pendidikan bagi masyarakat dan generasi muda di masa datang. Dan bisa dijadikan museum Botani.

Aspek lain dari Situ Leutik tersebut, lanjut Edi, pemanfaatan air dapat meningkatkan ekonomi warga, bila masyarakat mempunyai kreatifitas dalam memanfaatkannya. “Bisa dijadikan budidaya ikan, atau wisata mancing domestik yang baik di kota Banjar,” ujar Edi Djatmiko.

Dari sumber warga di sekitar Situ leutik yang berhasil dihimpun HR di lapangan, warga setempat meminta perhatian Pemkot untuk memperbaiki sumber mata air agar dibuatkan bak penampungan air dan bangun benteng untuk penghalang warga yang mandi maupun nyuci. Bak itu tak perlu memakai atap yang seperti dahulu, karena akan rusak tertimpa kayu kiara.

“Mohon diperhatikan itu. Soalnya sumber air Situ Leutik, dipakai warga sepanjang tahun tak hanya waktu kemarau saja,” ucap Kindi warga setempat menjelaskan kepada HR Senin (23/9). (BH/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!