Soal Pabrik Semen, Nartha: Aspirasi Warga Padaherang Tolong Didengar!

24/10/2013 0 Comments
Soal Pabrik Semen, Nartha: Aspirasi Warga Padaherang Tolong Didengar!

Sejumlah warga dari tiga desa di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, saat melakukan aksi blokir jalan, di daerah Sopla Desa Karangmulya Padaherang, Rabu (23/10). Aksi merupakan penolakan terhadap penambangan dan pendirian pabrik semen. Foto: Madlani/HR

Padaherang, (harapanrakyat.com),-

Kepala Desa Karangmulya, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Nartha Sugiartha, SIP, menegaskan, sebelum warganya melakukan aksi unjuk rasa menentang rencana penambangan bahan baku semen dan pendirian pabrik semen, pihaknya sudah menyampaikan aspirasi tersebut melalui surat yang dikirim ke Bupati Ciamis tertanggal  27 September 2013 dan ditembuskan ke berbagai instansi terkait.

“Karena proses perizinan awal pabrik semen ini di Pemkab Ciamis, ketika pemerintah Kabupaten Pangandaran belum terbentuk. Makanya, kami buat surat mengenai aspirasi penolakan rencana pabrik semen ini ke Bupati Ciamis, “ katanya, di sela-sela aksi unjuk rasa warga tiga desa di Kecamatan Padaherang menolak rencana pembangunan pabrik semen, Rabu (23/10).

Menurut Narta, surat yang ditujukan ke Bupati Ciamis itu, juga ditembuskan ke Pj Bupati Pangandaran, Ketua DPRD Ciamis, Camat Padaherang, Danramil Padaherang dan Kapolsek Padaherang. [Baca: Blokir Jalan, Warga Padaherang Tolak Pembangunan Pabrik Semen]

“Surat yang dilayangkan ke Bupati Ciamis itu merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, pada tanggal 30 Juli 2013, kita juga membuat surat yang sama melalui BPPT Kabupaten Ciamis. Namun, sampai saat ini belum ada respons dari surat tersebut, “ ungkapnya.

Nartha juga menjelaskan, sebelum warga Desa Karangmulya memutuskan menolak rencana penambangan tersebut, pihaknya bersama BPD serta mengajak beberapa perwakilan warga melakukan studi banding ke beberapa daerah yang terdapat penambangan bahan baku semen dan pabrik semen.

“Studi banding itu dilakukan ke Cilacap, Cibinong dan Palimanan. Kita di sana menanyakan langsung kepada warga yang berada di lokasi penambangan dan pabrik semen. Yang kita tanyakan tentunya mengenai dampak postif dan negatif setelah ada pabrik semen di tempat itu,” terangnya.

Hasilnya, lanjut Nartha, ternyata dampak negatif yang lebih dominan dibanding dampak positifnya, terutama mengenai pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari penambangan dan keberadaan pabrik semen tersebut. “ Banyak warga di sana mengeluh setelah berdirinya pabrik semen. Karena terjadi pencemaran lingkungan yang membuat warga tidak nyaman, “ imbuhnya.

Nartha menambahkan, kalau di Cilacap memang ada perbedaan dengan daerah lainnya dan cenderung tidak begitu mencemari lingkungan warga sekitar. Karena posisi penambangan bahan baku semennya, berada di pulau Nusakambangan yang tidak berpenduduk.

“Kalau di Karangmulya, jarak lokasi yang direncanakan sebagai tempat penambangan posisinya sekitar 100 meter dari daerah permukiman warga. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi jika penambangan semen itu terwujud? Makanya, penolakan warga ini bukan tanpa dasar, tetapi sudah melalui kajian dan pertimbangan matang, “ jelasnya.

Nartha juga meminta jangan ada pihak yang memaksakan dengan berbagai cara agar penambangan dan pendirian pabrik semen ini bisa terwujud.” Aspirasi masyarakat tolong didengar. Kita khawatir muncul konflik apabila ini terus dipaksakan. Kita ingin kampung kami kondusif tidak ada pertentangan,” pungkasnya. (Mad/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply