Warga Langensari Manfaatkan Jembatan Gantung Jabar-Jateng

28/10/2013 0 Comments
Warga Langensari Manfaatkan Jembatan Gantung Jabar-Jateng

Meski jembatan gantung penghubung antara Kota Banjar, Prov. Jabar, dengan Kab. Cilacap, Prov. Jateng, sudah dapat digunakan, namun pengusaha jasa penyebrangan perahu tidak kehilangan mata pencahariannya. Tampak petugas penyebrangan perahu tengah menarik warga yang memilih menggunakan jasanya. Foto: Eva Lativah/HR

Langensari, (harapanrakyat.com),-

Rampungnya pembangunan jembatan gantung penghubung antara Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kec. Langensari, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat, dengan Dusun Rejamulya, Desa Bakung, Kec. Wanareja, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, disambut antusias oleh warga di kedua wilayah tersebut.

Karena, dengan adanya jembatan gantung, dipastikan pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah Kec. Langensari, akan cepat meningkat. Walaupun jembatan yang terbentang di atas Sungai Citanduy itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, tetapi manfaatnya sangat besar.

Warga yang berbatasan bisa melakukan transaksi ekonomi lebih cepat, mudah dan murah melalui jalur ini. Sebab, mereka tidak perlu memutar, atau memakai jasa angkutan perahu dengan ongkos tinggi bila pergi ke Desa Waringinsari, maupun sebaliknya.

Seperti diungkapkan Mukinah, seorang buruh tani asal Desa Bakung, Kec. Wanareja, saat dijumpai HR, Senin (21/10). Dirinya mengaku bekerja sebagai petani penggarap di wilayah Desa Waringinsari. Untuk menuju ke lahan garapannya, kini Mukinah tidak perlu lagi menggunakan jasa penyebrangan perahu.

“Dengan adanya jembatan gantung ini, tentu saja sangat dirasakan manfaatnya oleh saya. Sebelumnya kalau mau pergi atau pulang dari kebun, saya selalu menggunakan jasa angkutan perahu. Tapi sekarang cukup jalan kaki saja, jadi tidak perlu mengeluarkan ongkos karena rumah saya tidak jauh dari jembatan ini,” tutur Mukinah.

Hal serupa diungkapkan Paimin, warga yang tinggal di pinggiran Sungai Citanduy, wilayah Jawa Tengah, mengaku cukup terbantu dengan adanya fasilitas jembatan tersebut. Dirinya tidak perlu capek menempuh perjalanan ke Pasar Caplek Waringinsari, dibandingkan harus pergi ke Pasar Wanareja yang jaraknya lebih jauh.

Sedangkan Rusinah, seorang pedang sayuran di Pasar Caplek, Kamis (17/10), mengatakan, pembelinya kebanyakan warga sekitar pasar, diantaranya dari Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kec. Langensari, dan warga dari Dusun Citamiang, Desa Cintaratu, Kab. Ciamis.

Namun, pasar tradisional yang buka setiap hari Minggu, Selasa, Kamis dan Jum’at, jam 6-8 pagi itu banyak pula didatangi warga dari daerah Jawa Tengah, seperti dari Dusun Rejamulya, Desa Bakung, dan beberapa daerah yang ada di wilayah Kec. Wanareja, Kab. Cilacap.

“Keberadaan jembatan gantung bagi pedagang di Pasar Caplek memang ada imbasnya. Pertama, langganan saya yang berasal dari wilayah Jawa Tengah bertambah. Dan kedua, otomatis penghasilan saya pun bertambah. Jadi manfaatnya bukan saja dirasakan oleh mereka yang selalu menggunakan akses jembatan, tapi oleh pedagang pun terasa,” ungkap Rusinah.

Sementara itu, bagi masyarakat yang memiliki usaha jasa penyebrangan perahu, mereka tetap membuka usahanya, meski jembatan gantung sudah dibangun.

Menurut Romi, petugas jasa penyebrangan perahu, mengatakan, sesuai janji dari pemerintah dan hasil kesepakatan bersama pada waktu lalu, untuk lokasi penyebrangan perahu digeser ke sebelah Timur dengan radius meter tertentu. Pihak pemborong akan membuatkan jalan kip berikut dermaga, serta jalur perlintasan yang sebelumnya dibuat oleh mereka.

“Jasa penyebrangan perahu ini sebelumnya banyak dimanfaatkan warga, seperti pedagang, petani, dan anak sekolah. Sekarang setelah jembatan gantung rampung pengerjaannya, omzet dari usaha jasa penyebrangan perahu ini memang jadi berkurang. Meski begitu, yang penting saya tidak kehilangan mata pencaharian,” ujar Romi.

Warjo, salah seorang penumpang perahu dari Desa Bakung, mengaku, untuk memenuhi kebutuhan usaha warungannya selalu berbelanja ke Pasar Langensari. Pasalnya, jika belanja grosir di Pasar Wanareja harganya lebih mahal, serta jarak tempuhnya terlalu jauh dibanding ke Langensari.

Sedangkan Harun, warga Desa Langensari, berharap, dengan selesainya pembangunan jembatan gantung, maka akses perputaran ekonomi, khususnya di kedua wilayah tersebut menjadi lancer.

Sementara itu, pihak pemborong pembangunan jembatan gantung, Yana S Bachyan, mengatakan, pengerjaan jembatan belum rampung 100 persen. Sebab, tambang baja yang akan dibentangkan dari bagian bawah jembatan ke siku-siku yang dipasang di setiap sudut sekitar tiang pancang belum selesai.

“Dalam minggu-minggu ini semuanya sudah bisa dipasang. Kalau sudah terpasang, jembatan dinyatakan selesai 100 persen. Nanti setelah itu baru tinggal pembuatan dermaga untuk penyebrangan perahu. Namun mengenai kapan waktu mulai pengerjaannya, kita juga belum tahu. Yang pasti, dermaga penyebrangan memang akan digeser,” ujarnya.

Yana menambahkan, keberadaan jembatan gantung akan saling menguntungkan bagi kedua wilayah, khususnya untuk wilayah Langensari, Kota Banjar, baik bidang ekonomi, pendidikan maupun olah raga.

Sebab, seiring dengan perkembangan kemajuan di Kec. Langensari, seperti telah tersedianya sarana pendidikan tingkat SMK/SMA Negeri, maka warga dari daerah Jawa Tengah akan lebih memilih untuk bersekolah ke Langensari lantaran aksesnya lebih dekat.

“Kemudian di Langensari juga sekarang sedang dibangun sport center. Hal ini tentu akan semakin menarik warga dari wilayah Jawa Tengah, untuk beraktifitas di wilayah Langensari, Kota Banjar,” imbuh Yana. (Eva/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply