Unik! Jumlah “Tugu” Tiga Kampung di Winduraja Ciamis Tak Berubah

08/11/2013 0 Comments
Unik! Jumlah “Tugu” Tiga Kampung di Winduraja Ciamis Tak Berubah

Desa Winduraja yang dilingkupi Gunung Syawal kaya akan jejak kepurbakalaan , termasuk jumlah batasan tugu yang tersebar di tiga Dusun di Winduraja. Foto: Dicky Heryanto/HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Desa Winduraja adalah salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Desa ini terletak pada ketinggian 500 meter diatas permukaan laut (dpl). Luas wilayahnya terbagi ke dalam  dua bagian, luas wilayah pesawahan sebesar 64 hektar dan luas daratan sebesar 240 hekatar. Jumlah penduduknya sekitar 5200 jiwa dengan  komposisi pria dan wanita yang tidak  jauh berbeda.

Menurut cerita naskah Parahyangan, Winduraja dipilih sebagai tempat pemusaraan tiga raja, yakni Raja Sunda Rakeyan Kendang, Raja Sunda Galuh Darmaraja dan Raja Darmakusumah, yang memerintah tiga Kerajaan, Sunda, Galuh dan Galunggung.

Keunikan desa ini ada pada jumlah tugu (rumah) di tiga kampung yang tidak berubah dari tahun ke tahun sejak dahulu. Seperti kampung Sindang Balong yang terdapat makam Arganata di Dusun Sukamulya, yang mempunyai 14 Tugu atau rumah (Kepala Keluarga). Atau juga Kampung Sawah Jati, dekat makam Cinuraja, di Dusun Margajaya, yang mempunyai tujuh tugu. Serta Kampung Kiara Koneng, yang terdapat makam Dalem Dungkut–utusan Kesultanan Cirebon, di Dusun Sukajadi, yang mempunyai 18 tugu.

Teu nambih-nambih ti baheula oge, termasuk jumlah pendudukna,” ungkap Mamat Rahmat (47), warga Dusun Sukamulya, Desa Winduraja, beberapa waktu lalu.

Mamat menuturkan, di tiga kampung tersebut, secara alami penduduknya tidak bertambah, meskipun dia juga tidak merinci jumlah penduduk di setiap kampung unik tersebut. “Kalau ada pertambahan jiwa, secara alami akan ada yang keluar dari kampung tersebut,” ujarnya. Ketua Komunitas Galuh Etnik Winduraja, Atus Gusmara, mengatakan, di tiga kampung tersebut, tidak ada aturan tertulis atau aturan tidak tertulis soal batasan tugu dan jumlah jiwanya.

“Yang jelas secara alami ada proses seleksi alam, ini keunikannya,” ungkapnya.

Atus mengungkapkan, keunikan di desanya tersebut layak dijadikan cagar budaya, seperti di Kampung Kuta atau Baduy atau juga Kampung Naga.

“Saya yakin sekali, keunikan desa ini berkorelasi dengan kesejarahan,” pungkasnya. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!