Di Banjar, Seorang Penderita HIV Dikucilkan Lingkungannya

02/11/2013 0 Comments
Di Banjar, Seorang Penderita HIV Dikucilkan Lingkungannya

Ilustrasi. Foto: Istimewa/Net

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Ketidakpahaman masyarakat mengenai syndrom virus HIV/AIDS telah menyebabkan stigma dan diskriminasi di masyarakat. Akibat belum tersosialisasikannya pemahaman dasar mengenai virus tersebut, seorang warga salah satu desa di Kecamatan Langensari Kota Banjar yang mengidap positif HIV, sebut saja Mawar, kini diasingkan oleh keluarga dan lingkungannya.

Entah dari siapa keluarga dan lingkungannya tahu kalau Mawar positif mengidap HIV. Padahal, kerahasiaan merupakan hak bagi setiap orang yang mengidap HIV/AIDS, dan itu dilindungi Undang-Undang.

Di Rumah Sakit sekalipun, pelayanan terhadap pasien HIV/AIDS tidak dipisahkan dengan pasien umum lainnya agar tidak ada stigma negative. Hal itu dinilai sangat membantu proses rehabilitasi medis setiap ODHA (orang dengan HIV/ADIS), terutama dari sisi psikologisnya supaya tidak merasa terkucil dari keluarga maupun lingkungannya.

Namun malang bagi Mawar, sebab kini dirinya semakin terkucilkan. Dia seolah tidak berani lagi ke luar rumah karena takut mendapat cibiran dari orang-orang yang ada di lingkungan sekitarnya.

Hampir setiap hari Mawar menangis meratapi keadaan yang dialaminya. Mawar menjadi pribadi yang tertutup dan terkesan menghindar dari siapa pun orang yang hendak menemuinya. Bahkan, dirinya berencana akan menjual rumahnya dan pindah ke luar daerah.

Terkait dengan penyakit yang dideritanya, Mawar sendiri hingga saat ini tidak tahu persis dari mana asalnya virus tersebut bisa bersarang di tubuhnya. Sebab, bila dilihat dari sisi kehidupan pribadinya tidak akan ada yang menyangka kalau ibu muda ini terjangkit virus yang mematikan itu.

Sejak dirinya dinyatakan positif HIV, tentu saja Mawar merasa kaget, cemas, dan takut bercampur menjadi satu. Tetapi semangatnya untuk bertahan hidup sangat kuat. Dia pun rutin melakukan pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) di RSUD Banjar.

Selain itu, dirinya juga mendapatkan pendampingan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Viaduct dan Mutiara, yang selama ini gencar melakukan penjangkauan langsung, sekaligus advokasi untuk layanan kesehatan bagi ODHA di Kota Banjar.

Mawar sebelumnya terlihat sehat seperti orang kebanyakan, dan berat badannya pun normal. Namun sekarang setelah dirinya dikucilkan, berat badannya terus menyusut hingga beberapa kilo.

Sekali saja mendengar omongan buruk tentang dirinya, bisa dipastikan kondisi fisik Mawar langsung menurun. Disela-sela sholat malam, dia berdoa agar suatu ketika keluarga dan lingkungan masyarakat bisa menerima keberadaannya.

Sementara di tempat terpisah, Community Organizer (CO) dari LSM Viaduct, Daud, mengaku prihatin dengan adanya kejadian tersebut. Padahal, ODHA tidak perlu dijauhi atau dikucilkan, melainkan didampingi dan diberi motivasi.

“Masyarakat masih sering salah arti. Sebetulnya penyebaran virus HIV itu tidak menular melalui batuk atau bersin, tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga lainnya, tidak menular melalui berbagai alat makanan, berjabat tangan dan berciuman. HIV dan AIDS hanya bisa menular lewat tiga cairan tubuh, diantaranya cairan kelamin, darah dan ASI. Ini yang harus disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Daud, kepada HR, Jum’at (25/10).

Anggapan tentang moral jelek tidak sepenuhnya benar. Daud mencontohkan, baru-baru ini di Kota Banjar ada kasus anak yang terlahir dengan virus mematikan itu, dimana virus tersebut ‘warisan’ dari orang tuanya. Si anak bukanlah seorang yang berdosa.

Ada pula kasus lainnya, dimana ibu rumah tangga tertular HIV/AIDS dari suaminya tanpa sepengetahuannya. “Disinilah pemahaman seutuhnya perlu diberikan kepada masyarakat agar mereka mempunyai persepsi yang jelas,” tegas Daud.

Untuk itu, kegiatan sosialisasi mengenai penyakit HIV/AIDS beserta dampaknya kepada masyarakat harus terus ditingkatkan, khususnya pada usia produktif 15-49 tahun. Karena, masalah HIV/AIDS merupakan masalah bersama yang memerlukan perhatian dan partisipasi dari semua pihak.

Dalam upaya mensosialisasikan pemahaman dasar HIV/AIDS, selama ini LSM Viaduct dan Mutiara belum bisa mencakup keseluruhan masyarakat. Namun demikian, upaya-upaya tersebut terus gencar dilakukan pihaknya, lantaran virus mematikan itu kini telah menyerang kalangan ibu rumah tangga dan anak-anak.

Guna memperkuat kemajuan langkah penanggulangan HIV/AIDS, khususnya di Kota Banjar, perlu adanya partisipasi masyarakat, mengingat di satu sisi sifatnya yang epidemic, dan di sisi lain adalah pentingnya usaha-usaha dalam melakukan pencegahan. Sehingga, langkah penanggulangan HIV/AIDS terwujud secara terpadu antara pencegahan dan penanganannya. (Eva/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!