Di Lahan Penambangan Semen Padaherang, Calo Tanah Sudah ‘Bergeriliya’

05/11/2013 0 Comments
Di Lahan Penambangan Semen Padaherang, Calo Tanah Sudah ‘Bergeriliya’

Lahan yang rencananya akan dijadikan tempat penambangan bahan baku semen di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Padaherang, (harapanrakyat.com),-

Meski aksi penolakan akan rencana pembangunan pabrik semen dan areal penambangan bahan baku semakin menguat di sejumlah desa, di Kecamatan Padaherang,  Kabupaten Pangandaran, ternyata tidak menyurutkan niat para makelar tanah, alias calo pembebasan lahan penambangan untuk meraup untung.

Para calo dan makelar tanah terus bergerilya kepada sejumlah warga yang memiliki lahan untuk areal penambangan bahan baku semen. Bahkan, para calo tersebut telah mendahului kisaran harga tanah, sebelum ada komunikasi resmi dari pihak PT Chem One dengan masyarakat yang memiliki tanah.

Berdasarkan sumber informasi HR di lapangan, para calo tersebut malah sudah menentukan harga tanah, dan klasifikasi tanah. Anehnya lagi, klasifikasi dan harga tanah itu menggunakan tolak ukur yang sangat membingungkan.

“Bagaimana tidak membingungkan, mereka seolah-olah kami sudah setuju dengan adanya pabrik dan areal penambangan untuk bahan baku semen. Ditambah lagi, harga tanah dihitung berdasarkan jauh dekatnya lokasi ke jalan utama. Bukan berdasarkan kandungan batuan karst yang terkandung di lapisan tanah,” ujar narasumber HR yang enggan dikorankan namanya.

Keterangan serupa HR peroleh dari Supardi, warga Desa Kedungwuluh yang memiliki lahan di areal bakal calon penambangan bahan baku. Menurut Supardi, harga tanahnya sudah dibandrol para calo dengan harga Rp. 250 ribu/bata.

Luasan tanah milik Supardi terhampar di beberapa blok di areal rencana lokasi penambangan. Seperti di blok Binuang, Kalimati, Blok guha dan Munggang Pare. “Luas dari semua blok itu bisa mencapai kurang lebih empat hektar,” ucapnya kepada HR (24/10).

Keheranan Supardi semakin menjadi, ketika bapak mertuanya, Empar, didatangi sejumlah calo tanah pembebasan, dengan langsung menjatuhkan harga tanah milik Empar seharga Rp. 150 ribu/bata.

“Alasan mereka karena letak tanah jauh dari akses jalan. Padahal, jika dilihat dari besaran kandungan bebatuan karst-nya, lahan Pak Empar lebih banyak. Jadi bagaimana bisa memberikan kesejahteraan dengan keberadaan pabrik semen. Di awal saja, di pembebasan lahan sudah terjadi perhitungan yang tidak jelas dan merugikan,” tandasnya.

Atas kejadian itu, lanjut Supardi, semakin memperkuat keyakinan dirinya untuk tidak menyetujui pembangunan dan pembebasan tanah untuk kawasan penambangan bahan baku semen. “Lebih baik tanam pohon, selain nanti bisa ditebang dan menguntungkan, sekaligus menjadi kawasan hijau untuk resapan air. Meski hasilnya lama dan tak besar, tetapi berkelanjutan bagi anak cucu,”.

Sementara itu, Warino Ma’ruf Abdulloh, yang mengaku didatangi tangan kanan dari pihak investor PT Chem one, ternyata mengaku mendapat penawaran harga tanah lebih bagus ketimbang warga lainnya. “Kalau saya malah ditawarin harga perbata sebesar empat ratus ribu rupiah, padahal masih satu hamparan dengan yang Supardi di blok binuang,” akunya kepada HR.

Warino juga tidak mengetahui kenapa harga tanahnya yang seluas 800 bata di blok Binuang bisa dihargai sebesar itu. Tapi ia menduga-duga, karena yang menawarkan harga sebesar itu tangan kanan dari pihak PT. Chem One.

Meski begitu, Warino dengan tegas menolak menjual lahannya untuk dijadikan areal penambangan bahan baku semen. “Saya menolak dengan mengajukan syarat, yaitu pihak perusahaan menjual semen dengan hitungan perkilo. Makanya lahan milik tidak akan dijual bila hitungannya per-bata. Kalau mereka mau membeli bahan baku semen dari lahan saya, yaa harus perkilo juga,”.

Ditambahkan Warino, dia akan menjual tanahnya perkilo sebesar Rp. 500,-. Keputusan itu diambil sebab, pihak investor membeli lahan hitungan perbata, sementara mereka akan menambang bahan baku hingga kedalam perut bumi.”Disini sudah jelas, warga Padaherang tidak akan sejahtera. Tanah dibeli atasnya saja, jadi pekerja hanya pekerja kasar atau buruh, tenaga ahli pasti dari luar daerah, bahkan mungkin luar negeri. Tapi bencana ekologis akan menimpa warga Padaherang selamanya,” pungkasnya. (SBH/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!