Dua Napi Positif HIV, KPA Banjar Diminta Agendakan Sosialisasi

07/11/2013 0 Comments
Dua Napi Positif HIV, KPA Banjar Diminta Agendakan Sosialisasi

Kepala Lapas Banjar, Drs. Dadang Sudrajat, M.Si., didampingi Bagian Pembinaan Napi, Agung Novarianto, saat mengadakan pertemuan dengan PP KPA Kota Banjar, Rudi Ilham, dan Drs. Aam Hamdan dari Yayasan Matahati sebagai Sub Sub Recipient (SSR). Photo : Eva Latifah/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Dari sebanyak 125 warga binaan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banjar sekarang ini, 2 orang diantaranya telah positif HIV. Kedua orang napi tersebut merupakan limpahan dari Lapas Banceuy Bandung.

Hal itu dikatakan Kepala Lapas Banjar, Drs. Dadang Sudrajat, M.Si., didampingi Bagian Pembinaan Napi, Agung Novarianto, saat mengadakan pertemuan dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, dan Yayasan Matahati sebagai Sub Sub Recipient (SSR), serta LSM Mutiara sebagai Implementing Unit (IU), khususnya bagi pengguna narkoba sunti (penasun) dan penanganan kasus HIV-AIDS di Kota Banjar, Sabtu (2/11), bertempat di Lapas Banjar.

Dadang mengaku, sebelumnya pihaknya kebingungan ketika menerima limpahan napi yang telah dinyatakan positif HIV. Sebab, belum mengetahui jika di Banjar ini sudah ada KPA dan LSM yang menangani kasus HIV-AIDS untuk advokasi layanan kesehatan, sekaligus pendampingan bagi odha (orang dengan HIV-AIDS), dan Lapas Banjar sendiri tidak dimasukan sebagai anggota KPA Kota Banjar.

“Lapas Banjar ini Lapas baru, jadi selama ini kami juga kebingungan mengenai penanganan masalah napi tersebut. Tapi sekarang kami bersyukur dengan adanya dukungan dari KPA dan Yayasan Matahati serta LSM Mutiara, dalam hal kerjasama penanganan terhadap napi odha,” katanya.

Dadang juga meminta supaya diadakannya sosialisasi mengenai pemahaman dasar HIV-AIDS terhadap semua warga binaan di Lapas Banjar. Pentingnya sosialisasi HIV/AIDS di Lapas terkait kecenderungan adanya perilaku seks sejenis karena kebutuhan biologis.

Kebanyakan para narapida yang melakukan seks dengan lelaki sebetulnya tidak mempunyai orientasi seks yang menyimpang. Tetapi lebih karena kebutuhan biologis. “Untuk itu perlu pemahaman yang komprehensif terkait HIV/AIDS,” katanya.

Dadang juga menyebutkan bahwa warga binaan yang ada di Lapas Banjar sekarang ini lebih banyak napi dari kasus narkoba dibanding kasus pidana umum. Dan napi tersebut merupakan warga Kota Banjar.

Sementara itu, Pengelola Program KPA Kota Banjar, Rudi Ilham, dan Drs. Aam Hamdan, sebagai SSR dari Yayasan Matahati, mengaku pihaknya siap mengagendakan kegiatan sosialisasi pemahaman dasar HIV-AIDS, sekaligus pendampingan (dukungan) serta pelayanan kesehatan bagi napi yang telah positif HIV, maupun layanan kesehatan bagi napi narkoba, jika ada penasun.

“Kami siap memfasilitasi bagi napi yang odha untuk layanan ARV di RSU Banjar, dan melakukan VCT terhadap warga binaan di Lapas Banjar,” kata Aam.

Namun, program pengalihan bagi penasun pada Terapi Rumatan Methadone (PTRM) di RSU Banjar sendiri belum siap. Sebab, meski ada program pengalihan melalui PTRM, tetapi kasus penasun di Kota Banjar adalah penasun yang sudah tidak aktif. Mereka beralih mengkonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan daftar G.

PTRM adalah satu-satunya terapi yang dilegalkan pemerintah bagi pecandu putaw untuk menekan angka penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik. Methadone atau heroin sintetis yang dikonsumsi secara oral merupakan terapi substitusi atau pengalihan pecandu narkoba suntik (Penasun). (Eva/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!