Hidup Rukun, di Langensari Banjar Mesjid dan Gereja Berdekatan

08/11/2013 0 Comments
Hidup Rukun, di Langensari Banjar Mesjid dan Gereja Berdekatan

Meski berdekatan bahkan bangunannya berhadap-hadapan, jemaah Gereja yang memeluk agama kristen dan jemaah mesjid yang memeluk agama islam, hidup rukun berdampingan di Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Foto: Deni Supendi/HR

Gereja tampak berada diseberang jalan (poto diambil dari sisi depan masjid). Foto: Deni Supendi/HR

Gereja tampak berada diseberang jalan (poto diambil dari sisi depan masjid). Foto: Deni Supendi/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Di wilayah Jakarta, bukan hal aneh bila posisi Gereja dan Masjid jaraknya saling berdekatan, misalnya Gereja Kathedral dan Mesjid Istiqlal. Ternyata, pemandangan yang kurang lebih serupa juga bisa disaksikan di dusun Purwadadi, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa barat.

Sangat harmonis memang, bangunan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Imanuel dan DKM Baitul Karim, yang berlokasi di Blok RT 10 RW 04 Dusun Purwadadi, tampak akrab berdiri sejak puluhan tahun lalu.

Ketua DKM Mesjid Baitul Karim, Kyai H Muklis, Senin (4/11), mengatakan, hal ini dapat terjadi karena masing-masing umat saling menjaga diri, dan kesucian ibadah masing-masing, bahkan saling mendukung jika melakukan kegiatan keagamaan.

“Saat beribadah shalat Jumat misalnya, umat Kristiani menghentikan aktivitasnya. Kami saling menjaga dan mendukung,” ujar H. Muklis.

Menariknya, kerukunan antar umat Muslim dan Kristiani ini tidak hanya terjalin di tingkat orang tua, tetapi juga sampai anak-anak. “Dalam beberapa kegiatan sosial, kami sering mengundang jamaah kristiani dan mereka datang. Demikian sebaliknya,” kata Muklis.

Sebagai sesama warga Negara Indonesia, imbuh Muklis, rasa saling menghormati harus senantiasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya karena perbedaan kepercayaan, kemudian antara Muslim dan Kristiani terpecah belah dan saling curiga.

Diakui H. Muklis, di sejumlah daerah, gereja dan mesjid ditemukan berdiri secara berdampingan dan saling mendukung. Tak hanya itu, bahkan dalam berbagai kegiatan keagamaan pun kedua rumah ibadat itu saling melengkapi.

Menurut sejarahnya, gereja GKJ Immanuel tersebut berdiri pada tahun 1956, atau empat tahun setelah Mesjid Baitul Karim dibangun 1952. Dalam perjalanannya yang sudah cukup lama, jemaah dari kedua rumah ibadat ini tidak pernah menghadapi perseteruan. Di saat-saat perayaan keagamaan, seperti Natal dan  Ramadhan, mereka akan saling menjaga.

Kerukunan beragama yang ditunjukkan oleh sejumlah jemaah gereja dan mesjid ini sudah langka ditemukan. Hal ini patut dijadikan sebagai barometer keharmonisan hidup antarumat beragama di Indonesia, bahkan juga di berbagai negara rawan konflik agama lainnya. (Deni/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply