Selama 2013, 16 Kasus Pencabulan Sedarah Terjadi di Kabupaten Ciamis

22/11/2013 0 Comments
Selama 2013, 16 Kasus Pencabulan Sedarah Terjadi di Kabupaten Ciamis

Ilustrasi pencabulan. Foto: Istimewa/Net

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan LPPM Binangkit Ciamis, menyatakan, kasus pencabulan dengan hubungan intim sedarah (incest) yang terjadi di Kabupaten Ciamis selama tahun 2013, cukup menonjol.

Lembaga ini mencatat sebanyak 16 kasus pencabulan incest terjadi di Kabupaten Ciamis dalam kurun waktu bulan Januari sampai November 2013. Data itu diperoleh dari catatan kasus pencabulan yang ditangani Polres Ciamis.

“Di Ciamis, angka kasus pencabulan incest yang dimana pelaku dan korban memiliki hubungan sedarah (keluarga), sudah sangat mengkhawatirkan. Jika melihat perbandingan grafik tahun sebelumnya, untuk tahun ini peningkatannya sangat siginifikan,” kata Ketua LPPM Binangkit Ciamis, Vera Velinda AD, Kamis (21/11).

Menurut Vera, meningkatnya kasus pencabulan sedarah di Kabupaten Ciamis dipengaruhi oleh beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Salah satu faktor yang dominan, yakni dari faktor ekonomi dan pendidikan yang rendah dari para pelaku.

“Dengan munculnya fakta seperti ini, tentunya perlu peran semua pihak, terutama pemerintah untuk segera mencari solusi agar kasus semacam ini tidak kembali terjadi di Kabupaten Ciamis,” ujarnya.

Vera menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap realita yang terjadi menyusul maraknya kasus pencabulan di Kabupaten Ciamis. ” Kasus ini jangan dianggap enteng. Selain persoalan moral, kasus ini pun mengancam masa depan anak bangsa. Jangan sampai  mereka menjadi korban asusila. Kami menunggu langkah nyata dari pemerintah,” imbuhnya.

Untuk menangani hal itu, lanjut Vera, perlu dibentuk lembaga khusus yang melibatkan berbagai komponen, mulai dari ulama, kesehatan dan pendidik. Disamping itu, lembaga pendamping pun harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

“Ketika lembaga ini terbentuk, maka untuk penanganan kasus asuslia langsung ditangani satu pintu, sehingga untuk melakukan pendampingan terhadap korban tidak saling mengandalkan,” terangnya.

Menurut Vera, korban asusila harus mendapat pendampingan khusus guna membantu memulihkan trauma yang menderanya. “Apabila ulama, unsur kesehatan dan pendidik bersinergi dalam satu lembaga bantuan pendampingan, tentunya akan membantu dalam memulihkan trumatik yang dialami korban,” ujarnya.

Vera menjelaskan, peran ulama sangat dibutuhkan dalam memulihkan psikis korban agar kembali percaya diri melalui bimbingan keagamaan. Sementara peran dari unsur kesehatan dibutuhkan untuk mengobati fisik akibat kekerasan. Dan peran pendidik dibutuhkan untuk membantu menyelamatkan masa depan korban, karena belakangan korban asusila yang menimpa siswi kerap dikeluarkan atau dipindahkan dari sekolahnya.

“Apabila kerjasama antar lintas sektoral yang dinaungi dalam sebuah lembaga pendampingan, maka akan membantu pemulihan mental dan masa depan korban asusila,” pungkasnya. (Her/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!