Waduh! Acara Diklat PGRI di Pangandaran Dikritik Guru

21/11/2013 0 Comments
Waduh! Acara Diklat PGRI di Pangandaran Dikritik Guru

Bebebapa Peserta DIklat Peningkatan dan Penguatan Profesionalimse Guru yang diselenggarakan PGRI Pangandaran, tengah sibuk sendiri, saat acara berlangsung. Photo : Madlani/HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Kegiatan Pendidikan dan Latihan (Diklat) untuk meningkatkan profesionalisme guru, yang diselenggarakan PGRI Kabupaten Pangandaran, masih menyisakan persoalan. Pasalnya, kegiatan Diklat terkesan digelar secara asal-asalan. Selain itu, PGRI pun dituding melakukan pembohongan terhadap publik.

Guru peserta Diklat asal Pangandaran, yang enggan disebutkan namanya, mengaku kecewa dengan pelaksanaan Diklat yang diselenggarakan PGRI. “Saya sudah membayar ke panitia lokal sebesar Rp 100 ribu. Sayangnya, Diklat itu tidak berkualitas dari segi proses dan hasilnya. Saran saya, sebaiknya menyelenggarakan diklat harus dilihat dari aspek relevansi materi, jumlah peserta, ruangan yang memadai, tata suara yang jelas terdengar,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Pelakasana Diklat, U. Kosasih, M.Pd, baru-baru ini, membenarkan, kegiatan Diklat yang dilaksanakan tersebut di beberapa zona kurang berajalan dengan baik. Kendalanya, karena fasilitas peralatan dan membludaknya jumlah peserta.

Alhasil, penyampaian materi Diklat tidak bisa disampaikan dengan maksimal kepada para peserta. Namun demikian, tidak semua Diklat yang diselenggarakan itu berjalan buruk, ada juga yang sukses.

Terkait tudingan melakukan pembohongan publik, Kosasih membantahnya. Menurut dia, kegiatan Diklat Peningkatan Profesionalisme memang dipadatkan dalam satu hari. Meski begitu, para peserta diberi beban atau tugas tambahan di luar kegiatan, misalnya penugasan mengajar, dan mengumpulkan tugas yang sudah diinstruksikan, untuk mengejar jumlah jam dan nilai bobot sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat Diklat.

“Memang waktu untuk kegiatan Diklat adalah 32 jam, atau 8 jam perhari. Tapi, bobot, nilai dan waktu sudah dipadatkan dengan memberikan tugas tambahan kepada peserta atau guru yang mengikuti Diklat. Justru dari sini, bagi mereka yang tidak merespon kegiatan, dia pasti cuek. Sikap seorang guru seperti ini yang harus diperbaiki,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pangandaran, DR. Drs. Nana Ruhena, MM, membenarkan, pelaksanaan Diklat di sejumlah zona kurang efektif. Alasannya, karena sarana pendukung teknis acara kurang begitu memadai.

“Saya merespon baik kegiatan ini, karena sudah merupakan agenda rutin tahunan. Untuk meningkatkan profesionalisme guru, diperlukan penguatan pelatihan dan pendidikan. Agar, mereka (guru) yang sudah sertifikasi semakin profesional,” katanya.

Nana berharap, minimal 5 persen dari tunjangan sertifikasi guru digunakan untuk peningkatan kemampuan diri yang bersangkutan. Dia juga mengakui, untuk mencapai guru yang profesional, memang memerlukan proses dan waktu. (Mad/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply