Bila Terbukti! Pemotong Dana BSM MI PUI di Ciamis, Terancam Dimutasi

Bila Terbukti! Pemotong Dana BSM MI PUI di Ciamis, Terancam Dimutasi

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Ciamis, terkaget saat mendengar adanya dugaan pemotongan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) bagi siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) PUI Gereba Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku.  

Saat dikonfirmasi HR, Kepala Kantor Kemenag, Yusuf, mengaku kaget mendengar hal itu. Malah, dia sempat membantah dugaan pemotongan BSM itu terjadi di MI PUI Gereba Ciakar.

“Yang benar nggak ada itu,” ungkapnya.

Namun demikian, Yusuf menandaskan, jika benar terjadi penyimpangan pengelolaan dana BSM, Kemenga Ciamis tidaka akan tinggal diam. Pihaknya akan segera memanggil oknum pengelola sekolah.

“Kalau nanti setelah dikalrifikasi benar terjadi, bisa kena sanksi,” tandasnya.

Yusuf menambahkan, sanksi yang akan diambil Kemenag, berupa tindakan mutasi terhadap oknum guru pelaku pemtongan. “Kalau terbukti, bisa kami mutasikan. Sesuai aturan kepegawaian di lingkungan kerja kami,” pungkasnya.

Pada pemberitaan HR sebelumnya, Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk 91 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) PUI Gereba, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, diduga ‘disunat’ pihak sekolah. Dalihnya, pihak sekolah melakukan pemotongan dana bantuan tersebut untuk pemerataan.

Yuliani, orang tua siswa penerima BSM, asal Dusun Desa Kulon RT 01 RW 05, Desa Ciakar, Jum`at (6/12), mengatakan, pemotongan yang dilakukan pihak sekolah cukup besar. Dari uang yang semestinya diterima anaknya Rp. 360.000,  hanya diterima Rp 200.000.

“Itupun dipotong kembali untuk pembelian baju batik sebesar Rp. 70.000. Jadi, uang yang sampai di tangan penerima hanya Rp. 130.000. Sedangkan sisanya, entah dipergunakan untuk apa. Memang bukan untuk  kali pertama ini, dana BSM selalu dikenakan potongan. Namun untuk potongan yang sekarang tidak rasional,” ungkapnya.

Aas, orang tua siswa penerima BSM lainnya, asal Dusun Tanjungjaya RT 03 RW 08, Minggu (8/12), di rumahnya mengatakan, hampir seluruh orang tua siswa penerima BSM mengeluh adanya potongan yang melampaui batas.

Hanya saja, pada umumnya orang tua siswa tidak mampu berbuat apa-apa. Terlebih, pihak sekolah menyatakan, kalau orang tua siswa tidak mau mengikuti aturan, lebih baik meninggalkan sekolah. “Pihak sekolah juga berdalih, yang mengharapkan dana bantuan masih banyak,” ujarnya.

Menurut sumber HR yang dapat dipercaya, mengaku, dirinya merasa bersyukur karena selain dana BOS, siswa juga bisa mendapatkan BSM. Namun, sangat keberatan bila ada pemotongan sebesar itu.

“Karena uang tersebut sangat besar manpaatnya untuk membantu kelangsungan pendidikan anak,” ucapnya.

Aj. Samsudin, guru MI PUI, melalui telepon genggamnya, Sabtu (7/12), mengatakan, jumlah siswa penerima BSM di MI PUI Gereba sebanyak 91 orang. Terkait pemotongan, hal itu sudah melalui hasil musyawarah sekolah.

“Intinya kami hanya menyampaikan saja,” ungkapnya.

Samsudin, menjelaskan, uang yang disebut potongan itu, sebetulnya Rp. 85.000 untuk pemerataan, Rp. 50.000 untuk biaya administrasi, Rp. 70.000 untuk pembelian batik propinsi, dan Rp. 25. 000 disimpan di Bank.

Pengawas Pandais Kecamatan Cipaku, Koyo, SAg.MPd, saat dihubungi melalui sambungan telepon genggam, mengaku tidak mengetahui adanya pemotongan yang dilakukan pihak sekolah.

“Namun, bisa saja ada potongan karena siswa penerima BSM punya tunggakan  yang harus dibayar atau dilunasi,” katanya.

Sutardi, tokoh mayarakat setempat, mengaku prihatin, mendengar adanya pemotongan dana BSM yang dilakukan pihak sekolah, hingga melampaui batas wajar. Meski, ada yang disisihkan untuk pembelian baju, semestinya pihak sekolah jangan bertindak semena-mena, menyunat dana BSM sebesar itu.

“Bagaimanapun juga, tindakan pemotongan merupakan bentuk pelanggaran. Dalam hal ini, pihak sekolah harus segera mengembalikan uang tersebut,” tegasnya.  (DK/R4/HR-Online)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles