Hari AIDS, Pekan Kondom = Kampanye Seks Bebas

02/12/2013 0 Comments
Hari AIDS, Pekan Kondom = Kampanye Seks Bebas

Ilustrasi. Foto: Istimewa/Net

Kiriman Artikel dari Pembaca Harapan Rakyat Online

Oleh: Pratama Rita Rostika 

Masih teringat dengan jelas beberapa saat setelah pengangkatannya, Menteri Kesehatan Indonesia Nafsiah Mboi langsung meluncurkan kampanye kondom. Menurutnya hal ini perlu dilakukan  berdasarkan pada fakta penting dimana jumlah penderita HIV/AIDS dan aborsi khususnya dikalangan remaja terus meningkat.

Seperti kita ketahui bersama bahwa HIV atau Human immunodeficiency virus  adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus yang merusak daya tahan tubuh dengan menyerang sistem kekebalan/imunitas tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi tidak berdaya dalam melawan infeksi. Yang menyedihkan adalah sampai saat ini HIV/AIDS belum ada obatnya.

Data yang didapat dari beberapa media menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1 % dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9 %. Yang lebih mencengangkan adalah berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jabar sampai tahun 2012 secara nasional, Jawa Barat menduduki peringkat ke 4 dalam kasus jumlah pengidap HIV/AIDS dengan total yaitu HIV 7157 kasus dan AIDS 4098 kasus. Sedangkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis sendiri pada tahun 2012 sampai September 2013 tercatat ada 42 kasus HIV dan 20 kasus AIDS.

Pada tahun 1987-1997 kasus HIV/AIDS kebanyakan ditemukan di kalangan homseksual (lelaki suka lelaki).

Menuju tahun 1997-2007 kasus HIV/AIDS didominasi oleh kalangan penyalagunahan narkoba. Namun sejak tahun 2007 sampai sekarang, kasus HIV/AIDS paling banyak ditemukan di kalangan pelaku heteroseksual termasuk kalangan rumah tangga.

Akar masalah sebenarnya yang memicu penyakit HIV/AIDS dan juga kehamilan yang tidak direncanakan terus meningkat adalah seks bebas.

Tidak akan ada kehamilan yang tidak direncanakan jika tidak ada pergaulan bebas, sama halnya dengan HIV/AIDS, tidak akan mewabah jika tidak ada seks bebas.

Berkaca dari fakta sebelumnya, dengan sosialisasi kondom, alih-alih menanggulangi penyebaran HIV/AIDS lebih meluas justru dengan cepat masyarakat yang terjangkit meningkat. Makin banyak pula remaja yang hamil diluar nikah dan melakukan aborsi karena belum siap menerima kehadiran sang janin, terlebih dalam status belum menikah yang akan menjadi aib di tengah-tengah masyarakat.

Kondom sebagai solusi?

Menurut Menteri Kesehatan Indonesia, ia yakin bahwa kondom bisa mencegah penularan HIV/AIDS. Namun pendapat ini berbeda dengan para pakar Internasional sendiri yang telah menegaskan bahwa kondom tidak aman digunakan sebagai alat pencegahan penularan virus HIV/AIDS.

Laporan penelitian yang pernah dilakukan oleh Carey (1992) dari Division of Physical Science, Rockville, Mary land USA menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Dari 89 kondom yang beredar dipasaran diperiksa dan hasilnya 29 dari kondom tersebut terdapat kebocoran.

Dalam konferensi AIDS Asia Pasific di Chiang Mai Thailand tahun 1995 juga telah dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar.

Pori-pori yang terdapat pada kondom yang terbuat dari bahan latex memiliki diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, namun jika meregang lebar pori-pori kondom bisa menjadi sepuluh kali lebih besar. Sedangkan ukuran virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan begitu, jelas mudah bagi virus untuk menembus kondom.

Namun lagi dan lagi dalam memperingati hari AIDS ditahun ini, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menggelar pekan kondom di 12 kota Besar di Indonesia mulai tanggal 1 hingga 7 Desember 2013.

KPAN sebagai lembaga negara yang pelaksanaaan kegiatannya dibiayai oleh negara dari uang rakyat seharusnya menjalankan fungsinya untuk menyelamatkan rakyat. Tapi ternyata dengan melakukan pekan kondom, justru KPAN akan “membunuh” masa depan generasi penerus bangsa.

Kini pun budaya Barat telah merasuk dan merusak pola pikir dan pola sikap masyarakat Indohnesia. Liberalisme tanpa batas dilakukan dan dilegalkan atas nama HAM (Hak Asasi Manusia).

Liberalisme memandang bahwa nafsu seksual adalah hak asai manusia, ia tidak boleh dikekang. Oleh karena itu pemuasan nafsu menurut ala Barat boleh disalurkan kemanapun dan dengan cara yang bebas.Yang terpenting tetap aman. Inilah alasan mengapa seks bebas merajalela di dunia Barat dan kini telah menyebar hingga ke seluruh dunia.

Solusi Tuntas

Kondom kini jelas bukan solusi. Benda tersebut tidak bisa menghentikan laju virus HIV, juga tidak dapat mencegah kehamilan. Justru dengan sosialisasi kondom masyarakat diarahkan untuk melakukan seks bebas. Inilah alasan mengapa seks bebas semakin meningkat dikalangan remaja. Bebas-bebas saja mau seks, yang terpenting kan tidak hamil. Begitu sesatnya kebijakan pemerintah.

Rasulullah saw pernah bersabda “apabila zina dan riba telah merajalela di dalam suatu negri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah turun kepada mereka” (HR. Hakim) Na’udzubillah.

Langkah tepat yang harus dilakukan adalah, perangi seks bebas, hapus gaya hidup kapitalis sekuler dan ganti dengan sistem Islam.

Islam jelas memiliki pandangan yang berbeda dengan kapitalis dalam hal berperilaku.

Islam memandang manusia hidup akan terkait dan terikat dengan hukum syara’ tidak bisa bertindak bebas tanpa batas, apalagi kebablasan.

Islam memiliki separangkat aturan untuk mengatur interaksi antara perempuan dan laki- laki.

Sebagai bentuk pencegahan dari pergaulan bebas, Islam mengharamkan adanya perzinahan serta berupaya menutup pintu ke arah itu. Segala hal yang dapat memicu perzinahan akan ditumpas habis. Seperti halnya penyebaran segala sesuatu yang berhubungan dengan pornografi dan pornoaksi akan dicegah.

Islam juga melarang perempuan dan laki-laki berkhalwat (berdua-duaan)  serta melarang memandang lawan jenis dengan syahwat.

Islam mengajarkan bahwa hubungan yang baik dan halal adalah melalui pernikahan. Bukan pernikahan sejenis melainkan pernikahan antara perempuan dan laki-laki.

Islam juga memiliki sanksi hukum yang tegas dalam menyelesaikan masalah ini.

Bagi para pezina yang sudah menikah, akan diberikan sanksi rajam (dilempari batu) hingga mati. Yang belum menikah akan di beri hukuman cambuk 100 kali.

Dengan begini masyarakat akan berfikir ribuan kali jika ingin melakukan perzinahan. Terlebih dari itu Islam akan senantiasa membimbing masyarakat dalam memperkokoh akidah meraka, sehinngga masyarakat akan sadar dengan sendirinya bahwa aturan yang ada bukanlah untuk mengekang namun justru melindungi dari berbagai kerusakan yang terjadi seperti saat ini dimana seks bebas merajalela, kasus kehamilan diluar nikah meningkat dan berujung pada aborsi serta penyebaran HIV/AIDS yang semakin meluas.

Dengan sistem Islam, perzinahan akan hilang. Demikian pula kasus aborsi dan HIV/IADS dapat teratasi karena semua telah dipangkas tepat pada akarnya.

Namun perlu diketahui bahwa penyelesaian masalah ini membutuhkan kerjasama dari berbagai komponen baik keluarga, sekolah, masyarakat dan negara.

Keluarga harus berupaya mendidik dan menanamkan nilai-nilai akidah yang menjadi bekal anaknya dalam melangkah ke masyarakat. sekolah pun demikian, wajib memberikan ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) yang baik dan diimbangi dengan pembentukan IMTAK yang kokoh agar IPTEK bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Masyarakat juga harus senantiasa mengawasi dan menciptakan lingkungan yang kondusif demi perkembangan rejama. Dan negara akan berupaya menetapkan kebijakan-kebijakan yang Islami sesuai dengan apa yang telah diatur dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Semua aturan yang diterapkan tidak lain untuk kebaikan umat bersama. ***

Penulis adalah seorang karyawan swasta,

tinggal  Jl. Raya Ciamis RT/RW 04/06 Jetak Majalaya

Desa Imbanagararaya, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!