Jadi Tempat Prostitusi, Kafe di Pangandaran Tak Ada yang Berijin

19/12/2013 0 Comments
Jadi Tempat Prostitusi, Kafe di Pangandaran Tak Ada yang Berijin

Inilah kafe remang-remang yang berada di blok Pamugaran, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Keberadaan kafe tersebut kini diprotes oleh warga setempat. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Seperti jamur di musim hujan tumbuh subur dimana- mana. Begitulah ungkapan untuk menganalogikan keberadaan tempat hiburan atau kafe remang-remang yang berada di kawasan wisata pantai Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran.

Meski tahun 2006 keberadaan kafe remang-remang di blok Pamugaran Pangandaran pernah lenyap ‘disapu’ bencana gelombang tsunami, namun selang beberapa tahun kemudian malah menjamur kembali. Bahkan, kondisi saat ini lebih ramai dibanding sebelum terjadinya bencana tsunami.

Selain di Blok Pamugaran, kafe remang-remang pun banyak dijumpai di blok Pasar Wisata Pangandaran. Di saat siang, di kawasan Pasar Wisata ramai dengan aktivitas pedagang baju dan cendramata khas Pangandaran. Namun, di saat malam, di kawasan itu berubah menjadi “Pasar Wanita”. Sejumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) hampir setiap malam tampak berjejer di depan kafe remang-remang di kawasan itu.

Memang kawasan wisata selalu identik dengan  tempat hiburan malam. Namun, tempat hiburan di kawasan wisata kerap indentik dengan prostitusi. Nah, faktor itulah yang menjadi pemicu timbulnya gejolak protes dari masyarakat Pangandaran.

Meski Pangandaran sudah lama menjadi tujuan wisata favorit di Indonesia, namun masyarakat di sekitar kawasan wisata belum permisif terhadap budaya asing yang selalu mengumbar kebebasan. Norma agama dan budaya setempat masih menjadi prinsip untuk menolak segala aktivitas yang berbau maksiat.

Kondisi itu berbeda dengan masyarakat Bali. Di sana masyarakat sekitar kawasan wisata sudah menerima masuknya budaya-budaya asing yang mengagungkan kebebasan. Maka tak heran, di kawasan wisata Bali kini sudah menjadi surga bagi penikmat hiburan malam.

Aktivitas hiburan malam yang berbau maksiat di Pangandaran pun sebenarnya mulai bermunculan. Hanya, keberadaan mereka masih terselubung dan aktivitasnya dilakukan secara sembunyi-bunyi. Bahkan, kafe remang-remang itu pun diduga kuat hanya sebagai polesan untuk menutupi aktivitas sebenarnya, yakni prostitusi.

Dari pantauan HR di tempat hiburan malam di Pangandaran, tak sedikit kafe remang-remang yang menjajakan Pekerja Seks Komersil (PSK). Kehadiran PSK di tempat itu ditenggarai menjadi ‘magnet’ atau pemikat sehingga ramai dikunjungi orang, khususnya para pria hidung belang.

Menurut Kaur Pemerintahan Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Parjo, keberadaan kafe remang-remang di blok Pamugaran mulai dikeluhkan oleh warga setempat yang rumahnya tak jauh dari lokasi tersebut. Selain kafe tersebut menimbulkan bising dari suara dentuman musik, warga juga mulai hilang kesebaran karena di kafe-kafe tersebut kerap dijadikan tempat prostitusi.

“Dengan begitu, dengan berdirinya kafe-kafe tersebut telah mengganggu kenyamanan dan ketentraman warga di wilayah tersebut. Karena posisi kafe-kafe itu tidak jauh dari permukiman warga,” katanya, pekan lalu.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Ketentraman, dan Perlindungan Ketertiban Umum dan Masyarakat Badan Kesbangpolimas dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Pangandaran, Dadang Abdurochman, S.IP, mengatakan, setelah pihaknya malakukan pendataan terhadap tempat hiburan malam di Pangandaran, termasuk di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, tak ada satu pun yang memiliki ijin usaha.

“Memang ada beberapa tempat hiburan atau kafe yang mempunyai ijin yang dikeluarkan oleh BPPT Kabupaten Ciamis. Namun, izin usahanya ternyata tidak sesuai dengan fungsinya. Seperti ijin rumah makan, tetapi kenyataannya digunakan tempat hiburan karaoke atau menyediakan kamar-kamar untuk praktek prostitusi,” ujar Dadang, pekan lalu.

Dadang menambahkan, menyusul adanya keluhan dari masyarakat setempat yang sudah resah dengan keberadaan tempat hiburan tersebut, maka pihaknya akan segera menertibkan seluruh kafe-kafe yang ada di kawasan wisata.

“Kita akan meminta kepada pemilik kafe untuk menjalankan usahanya sebagaimana mestinya. Tempat itu harus jadi tempat hiburan saja dan tidak boleh menyediakan kamar-kamar untuk praktek portitusi,” katanya.

Selain itu, lanjut Dadang, pihaknya pun akan melarang pemilik kafe menyediakan dan menjual minuman keras. Karena dari adanya minuman keras kerap menimbulkan keributan di tempat tersebut.

“Namun, untuk membubarkan kafe-kafe itu sebagaimana tuntutan masyarakat, kami pun tampaknya kesulitan. Karena mereka pun butuh untuk penghidupan keluarganya,” ungkapnya.

Namun demikan, lanjut Dadang, pihaknya akan mencoba meminimalisir agar kafe remang-remang tidak semakin menjamur di Pangandaran. “Selain itu, kita pun akan mengarahkan agar di tempat hiburan malam tidak ada aktivitas maksiat. Kita akan benahi agar  di kafe-kafe tersebut hanya sebagai tempat hiburan saja,” pungkasnya. (Ntang/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!