Jembatan Gantung Waringinsari Banjar, Buka Akses Ekonomi Jabar-Jateng

Jembatan Gantung Waringinsari Banjar, Buka Akses Ekonomi Jabar-Jateng

Keberadaan Jembatan Gantung Waringinsari yang membentang di atas Sungai Citanduy dengan lebar 1,5 meter, dan panjang sekitar 100 meter, kini telah menjadi akses ekonomi bagi masyarakat Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Foto: Nanang Supendi/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-                 

Jembatan Gantung Waringinsari yang membentang di atas Sungai Citanduy dengan lebar 1,5 meter, dan panjang sekitar 100 meter, kini telah menjadi akses ekonomi bagi masyarakat Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Pasalnya, jembatan tersebut merupakan salah satu jalur penghubung antara Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kec. Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat dengan Dusun Rejamulya, Desa Bakung, Kec. Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Pembangunan jembatan diawali atas keinginan masyarakat Desa Waringinsari, kemudian ditindaklanjuti dalam usulan Musrenbangdes, Musrenbangcam hingga Musrenbangkot pada beberapa tahun kebelakang.

Hal itu dilakukan seiring dengan proses pembangunan Kota Banjar yang terus berupaya meningkatkan mutu kegiatan perekonomian di wilayah perbatasan, tujuannya agar kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur, khususnya jalan dan jembatan.

Pengerjaan Jembatan Gantung Waringinsari dimulai pada tahun 2012 dan rampung akhir 2013, dengan menghabiskan biaya sebesar Rp.950 juta yang bersumber dari APBD Kota Banjar dan Provinsi Jawa Barat, kini sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di kedua wilayah tersebut.

Kepala Desa Waringinsari, Misbahudin, mengatakan, jembatan tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan merawatnya. Kalau pun nanti setelah beberapa tahun kedepan terdapat kerusakan berat, maka pihaknya wajib mengajukan biaya perbaikan kepada pemerintah kota.

“Jembatan Gantung dengan menggunakan sistem betonisasi diprediksi memiliki kualitas kekuatan jangka waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, demi terawatnya jembatan, selain diperlukan pemeliharaan secara baik juga dibutuhkan dukungan dari masyarakat pengguna,” kata Misbahudin, beberapa waktu lalu kepada HR.

Wagiman, salah seorang warga Desa Waringinsari, mengatakan, hendaknya jembatan ini bisa dimanfaatkan secara baik, sehingga keberadaannya dapat dioptimalkan sebagai jalur transportasi untuk menumbuhkan perekonomian dan mempermudah berbagai aktifitas warga. “Pada hakikatnya keberadaan jembatan gantung ini untuk kepentingan bersama,” ujar Wagiman.

Sudjak Wahidin, salah seorang warga Dusun Cibodas, Desa Cintaratu, Kec. Lakbok, Kabupaten Ciamis, yang mengaku berprofesi sebagai guru MI Ma’Arif Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengatakan, dengan dibangunnya jembatan gantung di wilayah tersebut membuat dirinya bisa tepat waktu datang ke sekolah.

“Sebelum ada jembatan gantung, saya harus memutar arah melalui Jembatan Baru Langensari yang jaraknya hampir tiga kali lipat dari jarak tempuh saat ini, sehingga memakan waktu lama. Kalau sekarang Alhamdulilla jarak tempuhnya jadi sebentar,” tutur Sudjak.

Pendapat serupa diungkapkan Tarsah, warga Dusun Rejamulya, RT.1, RW.2, Desa Sidamulya, Kec. Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Wanita yang kesehariannya sebagai petani itu mengaku merasa dipermudah akses untuk pergi ke lahan kebun miliknya. Karena, kebun Tarsah berada di wilayah Desa Waringinsari.

“Sebelum menuju kebun, kalau pagi saya sengaja berbelanja dulu kebutuhan rumah tangga di Pasar Caplek. Ya sekalian saja di sini belanjanya, dari pada harus pergi ke pasar Wanareja yang jaraknya lebih jauh,” kata Tarsah.

Lain halnya dengan Murjino, petugas jasa penyebrangan perahu. Menurutnya, dengan adanya fasilitas Jembatan Gantung Waringinsari, warga yang beraktifitas sebagai pedagang, petani, maupun anak sekolah, sekarang tidak lagi memakai jasa angkutan perahu untuk datang ke Desa Waringinsari, atau sebaliknya ke Desa Bakung.

“Tentu saja terasa sekali omzet kami dari usaha jasa penyebrangan perahu ini berkurang, bahkan nyaris tidak ada lagi penumpang. Kami hanya bisa pasrah dan berharap masih diberikan rijki oleh Allah SWT dalam menjalankan aktifitas kerja lain,” ungkap Murjino. (Nanks/Tafsir/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles