Mantap! Pesantren di Banjar Ini Tak Pernah Minta Bantuan Pemerintah

17/12/2013 0 Comments
Mantap! Pesantren di Banjar Ini Tak Pernah Minta Bantuan Pemerintah

Sedikitnya 400 orang warga bergotong-royong ikut serta dalam pengerjaan pengecoran pembangunan mesjid di lingkungan pesantren milik keluarga almarhum Kyai Muhammad Sa’dun Sanusi, putera dari almarhum Syeh Sanusi, di Dusun Sukahurip, Blok Pasirlening, Desa/Kec. Langensari, Kota Banjar. Foto diambil Minggu (8/12). Foto: Eva Lativah/HR   

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sedikitnya 400 orang ikut serta secara suka rela dalam pengerjaan pengecoran bangunan mesjid yang ada di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) keluarga almarhum Kyai Muhammad Sa’dun Sanusi, putera dari almarhum Syeh Sanusi, tepatnya di Dusun Sukahurip, Blok Pasirlening, RT.5, RW.3, Desa/Kec. Langensari, Kota Banjar, Minggu (8/12).

Almarhum Syeh Sanusi adalah seorang tokoh di Langensari yang dulunya dikenal dalam penyebaran syiar Islam, baik di wilayah Langensari maupun di luar daerah.

Mereka yang ikut dalam kegiatan pengecoran itu terdiri dari para santri Ponpes, warga setempat, dan jamaah murid almarhum Kyai Muhammad Sa’dun yang tersebar di setiap DKM se-Kec. Langensari, serta para simpatisan.

Bahkan, ada pula jamaah dari luar kota yang sengaja datang ingin membantu pengerjaan pengecoran masjid, diantaranya dari Jakarta, Purwokerto, Cilacap, Kebumen dan Lampung.

Menurut keluarga Kyai Muhammad Sa’dun Sanusi, bahwa pengecoran bangunan mesjid di lingkungan pesantren didanai dari hasil swadaya masyarakat setempat, para simpatisan dan jamaah.

Pihak keluarga yang namanya enggan dikorankan, mengatakan, sampai saat ini pengelola pesantren belum pernah meminta bantuan kepada pemerintah untuk keperluan pembangunan mesjid, maupun keperluan sarana prasarana pesantren.

“Alhamdulillah, sampai sekarang kami tidak pernah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah. Semuanya hasil dari swadaya, baik dari masyarakat maupun dari para simpatisan,” kata salah seorang keluarga almarhum Kyai Muhammad Sa’dun, ketika ditemui HR di pesantrennya, Minggu (8/12).

Namun, lanjutnya, pihak keluarga pun tidak memungkiri kalau pemerintah pernah memberikan bantuan, waktu itu bantuan diterima dari DR. dr. Herman Sutrisno, MM., saat masih menjabat Walikota Banjar, yakni uang sebesar Rp.15 juta untuk pembangunan mesjid tahap pertama, dan di tahap keduanya memberikan bantuan berupa material.

“Meski begitu, sampai sekarang kami belum pernah meminta bantuan ke pemerintah, kalau pihak Pemkot atau Walikota waktu itu memberi kepada kami, tanpa terlebih dahulu mengajukan permohonan proposal,  karena kami ingin punya nilai ibadah. Bukan kami merasa jumawa, tapi kami berusaha semaksimal mungkin. Dan untuk pengecoran kali ini kami menggalang dari masyarakat, jamaah serta simpatisan, itu pun kami tidak memungutnya,” tuturnya.

Pembangunan mesjid dilakukan secara gotong-royong antara masyarakat, santri dan jamaah dari setiap DKM yang ada di Kec. Langensari, serta jamaah dari luar daerah. Bahkan, banyak pula warga yang memberikan makanan untuk keperluan konsumsi.

Terjalinnya tali silaturamhi membuat warga menjadi tergugah dengan adanya pembangunan mesjid di lingkungan pondok pesantren keluarga almarhum Kyai Muhammad Sa’dun Sanusi.

Selain itu, pihak keluarga juga mengatakan bahwa sampai saat ini pondok pesantren yang memiliki santri usia 12-20 tahun sebanyak 21 orang, terdiri dari 12 santri pria dan 9 santri wanita, serta santri usia 20-40 tahun sebanyak 10 orang itu belum diberi nama.

“Dulu sewaktu masih ada abah (panggilan kepada Kyai Muhammad Sa’dun Sanusi-Red), beliau pernah bilang nama itu tidak begitu penting, yang paling penting adalah isinya. Jadi sampai sekarang kami belum memberikan sebuah nama bagi pesantren ini. Kami menitik beratkan pada pendidikan pesantren. Dan, Alhamdulillah sudah berjalan,” katanya.

Pihak keluarga juga menyebutkan, santrinya ada yang dari Lampung, Jakarta, Purwokerto, Cilacap serta dari wilayah Langensari sendiri. Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun oleh pihak pesantren, baik untuk kepentingan pendidikannya maupun kebutuhan makan sehari-hari para santri.

“Itu amanat dari abah. Selama kita mampu jangan pernah meminta. Untuk kebutuhan santri sehari-hari, kami ada pemasukan dari hasil menanam sayuran. Saya yakin siapa pun orang yang menjalankan ikhtiar dibarengi dengan ibadah, Alloh akan memberikan jalan untuk mendapatkan rejeki,” katanya.

Ditemui di tempat yang sama, Camat Langensari, Moch. Dasuki Soleh, SH., mengaku puas sekaligus bangga dengan adanya kebersamaan serta kekompakan masyarakat dan para jamaah perwakilan dari setiap DKM, dalam pembangunan mesjid di lingkungan pesantren keluarga almarhum Kyai Muhammad Sa’dun Sanusi. Sehingga, kerukunan warga betul-betul masih bisa diandalkan.

“Hal itu membuktikan bahwa melalui keluarganya, ketokohan Syeh Sanusi dan Abah Kyai Sa’dun masih tetap diakui oleh masyarakat maupun para jamaah yang dulunya merupakan murid abah. Dan kepada jamaah-jamaah DKM dan murid-murid abah di luar kota, apa yang sudah dilakukan abah mohon dukungannya. Karena ketokohan di Pasirlening masih muncul,” kata Dasuki. (Eva/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply