Museum Fosil Purbakala Tambaksari Ciamis Kini ‘Merana’

28/12/2013 0 Comments
Museum Fosil Purbakala Tambaksari Ciamis Kini ‘Merana’

Bangunan Museum Fosil Purbakala di Desa Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Foto: Istimewa/Net

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Museum Fosil Purbakala yang terdapat di Desa Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, kini ‘merana’. Pasalnya, seluruh sudut bangunan yang menyimpan fosil-fosil jaman pra sejarah ini sudah mengalami kerusakan akibat lapuk di makan di usia.

Sejak bangunan ini berdiri pada tahun 1999, hingga saat ini belum pernah dilakukan renovasi sedikitpun, baik oleh Pemkab Ciamis maupun Pemprov Jabar. Jangankan direnovasi, sekedar mengecat tembok bangunannya pun belum pernah dilakukan.

Juru Pelihara Museum Fosil Purbakala Tambaksari, Carkim (37), mengatakan, sejak bangunan museum itu berdiri sampai sekarang, pemerintah belum pernah melakukan renovasi ataupun perbaikan. Padahal, hampir seluruh sudut ruangan bangunan tersebut sudah banyak yang mengalami kerusakan.

“Bayangkan saja, hampir selama 24 tahun berdiri, bangunan ini belum pernah dilakukan renovasi sedikitpun. Masih beruntung bangunan ini masih berdiri kokoh, meski banyak kerusakan di beberapa sudut bangunan karena lapuk dimakan usia,” ujarnya, kepada HR, di lokasi museum, Jum’at (27/12).

Menurut Carkim, di museum tersebut tersimpan sejumlah peninggalan zaman purbakala, yakni berupa fosil hewan dan tumbuhan yang umurnya diperkirakan sudah ribuan tahun yang lalu.

“Di sini ada berbagai jenis fosil binatang purba, seperti Gajah (stegedon sp), Kuda Nil (Hippopotamus sp), Rusa (Cervus sp), fosil Kerang dan Buaya (Crocodile sp). Ada juga sejumlah fosil tumbuhan zaman purba,” ungkapnya.

Carkim menambahkan, pengunjung yang datang ke musium tersebut justru lebih banyak dari turis luar negeri ketimbang dari turis lokal. “Turis dari luar negeri datang ke sini kebanyakan melakukan penelitian. Mereka adalah para arkeolog yang penasaran ingin meneliti fosil yang terdapat di sini,” terangnya.

Banyaknya arekolog asing yang melakukan penelitian, menurut Carkim, karena fosil yang terdapat di Museum Tambaksari ini disebut-sebut sebaga jenis fosil purbakala tertua apabila dibanding dengan temuan serupa yang ada di seluruh belahan dunia.

“Maka tak heran, fosil purbakala yang ditemukan di Tambasari ini sudah menjadi buah bibir di kalangan arkeolog dunia. Mereka dari mulut ke mulut menyampaikan informasi ini ke koleganya, sehingga banyak turis luar negeri sengaja datang ke sini hanya sekedar untuk meneliti fosil-fosil ini,” ujarnya.

Menurut Carkim, turis atau arekolog luar negeri itu justru peduli terhadap kelestarian fosil-fosil purbakala di Tambaksari. ” Justru aneh, lebih peduli mereka ketimbang pemerintah,” ungkapnya.

Carkim juga menduga, kurangnya kunjungan dari turis lokal ke museum tersebut, akibat dari kurangnya sosialisasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ciamis.” Pemkab Ciamis selalu beralasan kerena minimnya anggaran untuk sosialisasi, sehingga tidak mempromosikan museum ini secara gencar,” ungkapnya.

Dia berharap Pemkab Ciamis memberikan perhatian khusus untuk melakukan perawatan terhadap bangunan dan sejumlah fosil yang berada di musium tersebut.

“Setelah Pangandaran berpisah, Ciamis saat ini sudah kehilangan potensi wisata andalannya. Meski begitu, Ciamis masih kaya akan potensi wisata sejarah dan budaya. Kalau potensi ini dikelola dengan baik, dipastikan akan menyedot banyak kunjungan dari wisatawan lokal maupun asing,” pungkasnya. (Her/R2/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!