Prof. DR. H. A Sobana Hardjasaputra; Panjalu Ciamis, Desa Mandiri Industri Berbasis Budaya

20/12/2013 0 Comments
Prof. DR. H. A Sobana Hardjasaputra; Panjalu Ciamis, Desa Mandiri Industri Berbasis Budaya

Seminar Desa Panjalu menjadi desa mandiri, digelar di Hotel Tyara Plaza, Selasa (17/12). Photo : Dicky Heryanto/HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mempunyai sisi nilai kesejarahan. Selain Situ Lengkong Panjalu, penanaman kopi pada jaman Hindia Belanda, yang hingga kini tersisa di Desa Kertamandala, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah desa yang banyak diklaim sebagai Desa Budaya tersebut.

“Sudah berabad-abad lamanya, Panjalu mempunyai akar tradisi Sunda dan Religi,” ungkap Ahli Sejarah Sunda, Prof. Sobana, pada seminar ‘Desa Panjalu Menjadi Desa Mandiri Industri berbasis Budaya’ yang dihelat di Hotel Tyara, Selasa (16/12).

Sobana menuturkan, pada jaman pendudukan Belanda, para akademisi Belanda sangat concern meneliti Panjalu sebagai objek kajian ekonomi dan ilmiah. “Penanaman kopi dan menjadikan Panjalu sebagai Cagar Alam, itu sudah menunjukan minat Belanda terhadap potensi Panjalu. Saat ini, dari hal yang tersisa kita bisa mengembangkan Panjalu,” paparnya.

Prof. Sutardi, Pakar Ekonomi dari Univeristas Pendidikan Indonesia (UPI), mengatakan, dari skala industri, Situ Lengkong bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kretif. Salah satu hal yang sudah diterapkan di Desa panjalu adalah pengembangan Teknologi Informatika untuk produk-produk perdagangan lokal.

“Warga Panjalu yang tinggal di Hongkong, Australia dan Cina, bahkan Eropa, sudah bisa mengakses produk kerajinan desa tersebut,” paparnya.

Koordinator Trade Company Potensi Daerah Ciamis, Tatang Djauhari, mengatakan, bahwa pemanfaatan IT untuk meningkatkan perekonomian desa sangat mungkin dilakukan.

“Database perekonomian desa bisa dipublikasikan melalui Teknologi Informasi,” ucapnya.

Namun, kata Tatang, pihak desa harus mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di bidang IT, serta ketersediaan dan kualifikasi produk yang ditawarkan. “Dengan K3 (Kuantitas, Kualitas dan Keberlanjutan), harus menjadi rumus acuan pengembangan. Apabila ada pembeli atau investor, masyarakat akan siap menghadapi,” pungkasnya. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply