Soal Kasus Pencemaran Lingkungan, BPLH Ciamis Hanya Bisa Berikan Teguran

05/12/2013 0 Comments
Soal Kasus Pencemaran Lingkungan, BPLH Ciamis Hanya Bisa Berikan Teguran

Photo : Ilustrasi Net/ Istimewa

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Hingga Bulan Oktober 2013, Posko Pengaduan Kasus Lingkungan yang disediakan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Ciamis, mencatat 19 kasus terkait pencemaran dan pengrusakan lingkungan.

Ke 19 pelaporan kasus pencemaran dan pengrusakan lingkungan tersebut menyebar di seluruh Kecamatan Ciamis. Dari mulai kasus pencemaran limbah home industri, hingga rencana penebangan pohon di suatu situs budaya. Laporan itu sudah diterima oleh Pos Pengaduan Kasus Lingkungan BPLH Ciamis.

“Kami  menerima laporan secara tertulis maupun lisan dari masyarakat,” ungkap Kepala Bidang Penanganan Lingkungan, Yayat Hidayat, didampingi oleh Kasi Penanganan Lingkungan, Ohan Sutrisno, pekan lalu.

Yayat mengungkapkan, dasar hukum yang melandasi penanganan kasus pencemaran dan pengrusakan lingkungan adalah Undang-undang Lingkungan Hidup, No. 32 tahun 2009  dan Permen LH No 09 Tahun 2009, Tentang Mekanisme Pengaduan kasus lingkungan.

“Setiap dugaan pelanggaran lingkungan akan diklasifikasikan terlebih dahulu, dan baru ditindaklanjuti oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup ke lapangan untuk investigasi,” paparnya.

Masih menurut Yayat, sebelum koordinasi dengan pihak Satpol PP, untuk menindaklanjuti temuan kasus pencemaran lingkungan, pihaknya hanya mempunyai mekanisme teguran.

“Hanya mekanisme teguran saja, untuk penindakan Satpol PP,” ujarnya.

Yayat menjelaskan, pihaknya tidak mempunyai kewenangan lebih jauh untuk menindak pelanggaran kasus lingkungan. “Nanti akan diatur oleh Perda. Insya Allah Bulan Desember ini sudah ditetapkan,” tandasnya.

Dia menambahkan, BPLH menghimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber mata air. Sedikitnya ada 1.910 titik potensi sumber mata air di Kabupaten Ciamis. 200 titik diantaranya ada di kawasan pegunungan.

“Ini harus dijaga betul. Makanya setiap pencegahan upaya perusakan hutan harus ditindak,” imbuhnya.

Selain, upaya pelestarian sumber mata air, kata Yayat, BPLH juga menghimbau kepada masyarakat untuk membuat Embung sebagai tendon atau cadangan air. Soalnya, bila memasuki musim kemarau, embung itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan masyarakat. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply